Never Forget

Never Forget
No lies ( Part 2)



Setelah sekian lama, kamu masih tidak mengerti. Aku ingin jadi tempat sandaran yang bisa kamu andalkan tapi kamu tetap kekeuh menutupinya dari aku.


Aku terus berjalan dan melangkahkan kaki meski perih ini memang harus aku jalani. Setiap langkah membuat hatiku sakit. Sedikit demi sedikit tertusuk oleh belati paling tajam. Tapi mungkin ini memang yang seharusnya aku lakukan. Tidak seharusnya memulai lagi sesuatu jika masalah sebelumnya belum berakhir.


"Dino ..." Panggilnya bukankah seharusnya kamu membayar semua ini? Kamu yang menarik aku dalam semua ini. Kamu jahat!" Ia mencoba menghampiriku setelah mengeluarkan kata-kata itu. Dia mengambil tongkat dan memakainya di tangan kanannya, ia mulai berjalan ke arahku meskipun tertatih-tatih. Aku ingin berbalik dan menggendongnya, dia meringis kesakitan. Tapi ia tetap berjalan mendekat kearahku.


"Jangan bergerak!" Titahnya. Aku menghela air mataku. Hidungku sudah merah, aku tidak bisa berbalik menatapnya dengan wajah seperti ini. "Jangan mendekat, bicaralah dari sana. Kamu mau aku melakukan apa? Aku ingin semua masalah ini selesai. Aku mau anak-anak kita tahu bahwa papa dan mama tidak pernah punya masalah sebesar ini. Aku mau memaafkan diriku sendiri dan berhenti menyalahkan diriku."


"No! Jangan! Please jangan tinggalin aku! Aku mohon. Aku gak peduli lagi. Aku akan belajar menerima semua kebenaran ini. Aku juga mau lakukan hal yang sama dengan kamu. Aku mau menghadapinya bukan lari. Aku mau berdamai." Naomi memelukku, menghentikan ku. Di depanku dia merobek formulir itu. "Gak boleh ada kata cerai diantara kita, kita harus hadapi bersama." Ucapnya lagi membuatku tertegun. Naomi memang sudah menjadi dewasa. Tidak lebih tepatnya kami berdua sudah menjadi lebih dewasa. Masa lalu membuat kami lebih dewasa. Aku hanya bisa menatapnya, menyeka air matanya. Bibirku tak dapat lagi berkata-kata apapun padanya.


"Dino, Maukah kamu terus ada di sampingku, di samping Milka dan Dino. Kita sama-sama menghadapinya. No, aku kenal kamu lebih dari 20 tahun. Setelah mengetahui ini, aku sadar keberadaan kita karena Tuhan menginginkan kita bersama. Dino please jangan lepasin aku." Ucapnya memelukku erat, wangi tubuhnya selalu membuatku rindu, pelukan hangatnya selalu memberiku kenyamanan. "Naomi, kamu harus hidup dan bahagia untuk dirimu sendiri." Jawabku memeluknya. Kami saling berpelukan, aku sangat mencintainya. Kami sama-sama saling menatap dan menyeka air mata kami masing-masing.


Beruntungnya aku, memiliki dia, dicintai dia. "Maafin aku ya, Naomi. Maafin ayah aku, Naomi." Naomi mengambil buku itu dan menarik ku ikut keluar bersamanya. Dia mengambil tong besar dan memasukkan buku itu kedalamnya. Dia mengambil sedikit minyak dan menyalakan api.


"Huh!" Ucapku. "Masih kecil, kamu udah punya impian nikah sama aku? Hmmm.... Tapi kamu dulu juga yang maksa aku untuk jadi pacar kamu waktu umur kita masih 9 tahun."


"Dasar si gendut!" Katanya senang meledekku. "Hi! Kamu bilang suamimu gendut, yasudah lah tak apa asal kamu bahagia." Ia kembali memelukku. Sesederhana itu mimpinya. Mimpinya adalah bersamaku. Mimpiku juga bersamanya.


"Nom, aku mau ajak kamu staycation bareng keluarga, dll. Aku sudah tentukan tempatnya, kamu cuman perlu siap-siap." Aku ingin mengejutkannya, belakangan ini dia sering sekali sedih karena beberapa kegiatannya harus tertunda karena ia terluka. Aku ingin menghiburnya dan menyelesaikan sesuatu. "Ajak mama juga..." Tambahku, dia sangat senang rencanaku sepertinya akan berhasil.


Semua keluarga sangat menyukai kejutan Dino termasuk Ratih. "Ma...aku berharap liburan kita akan berjalan dengan baik...."


"Pasti Dino... pasti berjalan dengan baik..." Ratih tersenyum pada Dino dalam pikirannya rencana liburan seru sudah dirancang. Semua pasti akan bahagia Dino, mama akan membuat semua orang bahagia ucapnya dalam hati.