
8 Jam berlalu, Dino masih berjuang melewati operasi itu. Naomi masih menunggu sambil menatap pintu ruang operasi. Ia sangat berharap bahwa Lampu itu segera padam.
"Nom, sebaiknya kamu kembali ke kamar. Kamu perlu istirahat. Kamu juga baru selesai melahirkan." Ucap Adam.
"Tidak apa-apa Adam, aku ingin tetap menunggu disini. Please! Adam... aku mau disini." Naomi merengek-rengek. "Aku ingin tetap bersamanya, aku tidak ingin meninggalkannya seperti ia yang tidak pernah meninggalkan aku." Tambahnya.
"Nom, Waktu kita semua di Bandung, Aku melihat kalian berdua bertengkar hebat. Dan aku mendengar kamu kecelakaan, saat itu Dino benar-benar panik. Disaat yang sama Milka juga pergi meninggalkan kita, Dino saat itu benar-benar hancur." Reihan membuka cerita itu, sambil menyeruput kopi ditangannya. "Cappucino/Mochacino, kopi kesukaan Dino." Ucapnya.
Naomi tertawa, "Reihan, Dino gak pernah suka sama Cappucino/Mochacino. Reihan sebenarnya suka Black coffee. Aku yang suka Cappucino. Aku jatuh cinta sama kopi ini saat kita masih di Inggris." Balas Naomi. Reihan justru kaget dengan fakta ini karena selama ini Dino selalu memesan kopi yang saat ini dia minum. "Aku selalu beliin dia Cappucino disaat dia minta Black Coffee. Lama-lama dia terbiasa karena tidak ingin berdebat denganku tapi aku tahu dia tetap suka Black Coffee."
Mendengar itu, Reihan jadi ingat salah satu lelucon Dino saat mereka berbincang santai di kantor lelaki itu, "Dino, Lo suka minum Cappuccino?" Celetuk Reihan. "Suka, itu salah satu caraku merindukan seseorang." Celetuknya santai namun saat itu Reihan masih belum sadar, orang yang dimaksud adalah Naomi. Dia tersenyum, tertawa. "Crazy!" Ekspresi Reihan.
"Ok, balik lagi. Ketika Dino sampai di rumah sakit dan mendengar Lo kehilangan penglihatan, dia langsung memohon pada Om Hendrik yang mungkin hampir membunuhnya. Dia meminta Mata Milka di Donorkan kepada kamu. Dia menyetujui 3 janji dengan ayahnya. Pertama, meninggalkan kamu, kedua kalau gak salah pindah ke Inggris dan menjalankan bisnis keluarga dan yang ketiga menikah dengan orang pilihan Om Hendrik" Reihan menghela napasnya. Naomi mulai menitihkan air mata.
"Bokap gw berniat menjodohkan Shella dan Dino. Lo tahukan adik gw Shella cinta banget sama Dino, sejak kecil. Tapi Dino menolak, saat itu gw marah besar dan kita terlibat pertengkaran. Kita bertanding di ring tinju, dan gw menang karena dia mengalah. Dia membiarkan gw memukulnya tapi itu tidak merubah keputusannya menolak adik gw! Gw masih ingat kata-kata dia waktu itu." Bayangan itu muncul dalam benaknya.
Dino dan Reihan berada diatas ring tinju, Reihan sudah babak belur tapi masih belum menyerah. Pada akhirnya Dino mengalah,
"Kamu boleh pukuli aku, tapi aku gak akan menikah dengan Shella."
"Gw butuh Lo married sama Shella, Dia cinta banget sama Lo!" Balas Reihan.
"Tapi aku gak cinta sama dia." Balas Dino.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu!" Balas Reihan lagi kesal.
"Kenapa Lo harus maksa gw Rei, Shella berhak mendapatkan laki-laki yang mencintai dia. Dia itu berharga, dia pantas bahagia. Gw bisa aja menikah sama dia, tapi apakah adik Lo akan bahagia? Lo biarkan dia menunggu sampai gw bisa jatuh cinta sama dia? Lo menjerumuskan dia dalam hubungan dan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan?" Balas Dino.
"Gw yakin Shella bisa menunggu... Gw yakin Lo bisa mencintai dia."
"Seperti Lo? Mira menunggu cinta Lo bertahun-tahun, dia berusaha keras untuk membuat Lo perhatian sama dia. Udah lebih dari 5 tahun, kamu udah cinta sama dia? Sementara kemarin gw liat Lo sama wanita lain. Kenapa Lo menemui wanita lain? Mira udah sangat sempurna dan cocok buat kamu." Reihan terdiam, sebenarnya ia lebih dulu berada di posisi Dino. Dia dan Mira di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Dino menepuk pundaknya, "Lo mau gw juga begitu ke Shella, dia adik Lo, gw gak mau nyakitin dia karena cinta gw ke Naomi ini sangat dalam. Dan itu menyakitkan untuk dia." Ucap Dino.
"Lo mau kemana habis ini?" Dino berkata dia akan menemui Naomi di rumah sakit, besok dia akan dioperasi. "Kalau gitu kenapa Lo mau nerima syarat itu?"
"Karena gw gak sanggup melihat Naomi menderita, sehingga gw sanggup melakukan segalanya. Meskipun dia gak sama gw nantinya setidaknya dia masih hidup dari pada hanya melihat dia tinggal nama." Balas Dino.
Mengingat moment itu, dia merasa bersyukur. "Saat itu, mata gw terbuka. Gw memaksa Dino tapi gw juga melakukan hal yang gak benar dalam hubungan gw dan Mira saat itu. Gw paham rasanya kehampaan dalam sebuah hubungan, itu alasan gw berselingkuh. Maybe, Lo juga punya alasan saat itu. Setiap hari gw ngeliat cara dia merawat Lo. Meskipun gw gak tahu Lo tahu apa gak, setiap Lo tersenyum dia juga tersenyum. Sementara saat gw sama Mira, dia hanya diam saja. Dia terlalu banyak berkorban dan gw justru merasa bersalah dan berat pada Mira. Pada akhirnya, gw tahu Mira juga punya orang lain. Gw sadar gw memang pantas mendapatkan itu. Hingga akhirnya ketemu istri gw, dia bukan tipe gw tapi hubungan ini terasa enjoy. Gw bisa ngerasain apa yang Dino rasakan saat bersama kamu." Ceritanya.
"Satu lagi Nom, ini rahasia. Saat awal masuk sekolah, Dino itu pernah diam-diam minta nomor kamu. Tapi dia gak berani telepon kamu sampai akhirnya kamu yang ngaku-ngaku jadi pacarnya." Tambah Dino, Naomi juga jadi tertawa malu. "Dia bilang, kalau kamu menghianati dia, dia gak perlu menghianati kamu. Itu hanya akan menambah luka di hati kamu."
Tiba-tiba, dia teringat lagi moment saat dia dan Dino masih sekolah, "Nom, tahu gimana gw bisa tahu Lo pacar Dino?"
"Dino, Lo kemarin kemana? pergi ke taman hiburan ya? Kok gak ngajak-ngajak kita." Tanya Reihan ketika mereka bertemu di jam olahraga. "Iya, kamu liat aku?" Tanyanya balik.
"Kayaknya Lo ngeliat gw Din." Dengan santainya dia menjawab, "Aku lagi mau quality time sama pacar." Reihan dan yang lain kaget. "Pacar! Sejak kapan? cewek mana yang akhirnya bisa mendapatkan cinta Lo."
"Itu ..." tunjuk Dino pada seorang gadis berkaca mata yang sedang melukis di pinggir lapangan. Ia terus menarik turunkan kaca matanya, "Si gadis cupu itu!" lontar Reihan kaget dan shock.
"Sebucin itu dia sama kamu." Celetuk Reihan, ia menggaruk garuk jidatnya, "kok bisa gw punya teman kayak dia! Btw, Lo tahu kenapa Sammy itu pindah sekolah?" Naomi menggelengkan. "Karena Dino itu pencemburu. Dia yang buat Sammy dikeluarin." Naomi benar-benar baru tahu semuanya. Sesudah bercerita Reihan pulang lebih dulu karena istri dan anaknya menunggu dirumah, "kabarin gw kalau operasinya sudah selesai." Ucapnya menepuk pundak Naomi agar dia tetap kuat.
Naomi, tetap menunggu dan setelah hampir 10 jam lebih lampu ruang operasi padam. Dokter yang menangani operasi keluar dan mengatakan jika operasi itu berjalan dengan lancar. Dia akan segera di pindahkan ke ruang ICU. Setelah diizinkan masuk melihat Dino, Naomi adalah orang pertama yang diminta semua orang untuk masuk lebih dulu.
"Dinoo..." ucapnya sambil memutar roda kursi rodanya. Ia melihat Dino terbaring dengan banyak alat menempel di tubuhnya. "Dino... Aku disini, aku sudah datang, aku sudah melahirkan anak laki-laki untuk kamu. Kamu harus segera bangun dan memberinya nama." Ucap Naomi sambil memegang tangan Dino. Dino terlihat menitihkan air mata.