
"Kenapa kamu ajak aku kesini?" Tanya Dino. Ia bertanya kepada Naomi, mengapa mereka harus pergi ke sekolah ini. Naomi memegang tangan Dino. "Ini sekolah kita, kita SMP disini. Setelah aku sampai di kota ini. Di sini pertama kali kita ketemu." Kata Naomi.
"Waktu itu aku telat dan kamu juga telat. Kamu ingat?" Ucapnya. "Kamu ada luka di dahi kamu. Kamu abis jatuh karena menolong anak kucing." Tambah Naomi.
Flashback ketika pertama kali mereka bertemu. Naomi berlari dengan kencang, lima menit lagi gerbang terkunci. "Pak tunggu..." Ucapnya Satpam itu mulai mendorong pagar sedikit demi sedikit. "Pak jangan dikunci!" tapi dia sudah tidak kuat berlari ditambah lagi kacamatanya jatuh. "Pak, bukain dong saya baru telat satu menit." Tak lama, Dino keluar dari mobilnya dan berdiri di sampingnya baju kemejanya kotor, "Ngapain kamu ngeliatin saya?" Tanya pemuda itu jutek.
"Bajunya.. kotor banget.." Balas Naomi. Tapi pemuda itu cuek. Melihat Naomi gelisah, ia menawarkan bantuan untuk bisa cepat masuk. Dia mengajak Naomi memanjat pohon besar di samping sekolah. "lewat sini.. di sebelah langsung gedung kelas." Ucapnya membantu Naomi. "Jangan ngintip!" Dino langsung menutup matanya. Saat Naomi sudah berhasil naik keatas dan hendak membantu Dino, "Ayo! Aku bantu.." Dino sudah menghilang. Dari kejauhan dia melihat Dino justru masuk lewat pagar secara normal sementara dirinya ada di atas tembok sekolah seperti maling.
"Kamu! beraninya manjat tembok sekolah!" Ia justru ketahuan guru BP paling killer satu sekolah.
Mengingat itu Naomi jadi tertawa sekaligus kesal pada Dino. "Dino...kamu nyebelin." cubitnya pada Dino. "Kamu ini menertawakan apa? Tiba-tiba langsung mencubit." Dino heran. Dia masuk ke dalam sekolah itu dan bernostalgia dengan masa itu sambil Naomi terus menceritakan kisah mereka. "Naomi, kenapa kamu cerewet sekali." Ucap Dino membuat Naomi terdiam.
"Dino, aku berusaha membuat kamu ingat!" Balasnya. Tapi Dino bilang ia tetap tidak ingat. Naomi cape dan bingung harus kemana lagi. Tiba-tiba dia ingat tempat itu, tempat yang special buat dia. Dia mengajak Dino ke Ballroom sekolah dan membawanya ke belakang panggung. Ballroom ini dipake oleh anak - anak teater. "Naomi, buat apa aku dibawa kesini?" Dino merasa Naomi semakin aneh. "Udahlah kita pulang aja.." Keluh Dino.
"Dino.. ini tempat aku menyatakan cinta kepadamu dan di sini our first kiss." Ucapnya. Ia mengecup bibir Dino berharap lelaki itu bisa mengingatnya. Tapi Dino hanya diam, dan keluar dari belakang panggung. Naomi putus asa dan hanya bisa berjalan sambil menunduk di belakang Dino. "Kamu yakin disini tempatnya?" Ledek Dino.
Naomi berjalan sambil menundukkan kepalanya, menyeka air matanya. "Aku pasrah! Dino ayo kita pulang!" Ucapnya, ia tidak melihat ke depan hanya menundukkan kepala. Tiba-tiba seseorang menariknya kesebuah ruang yang penuh dengan alat olahraga. Mulut ditutup oleh tangan seseorang, ekspresi Naomi kaget. Ia mencoba bicara melalui lengkingan suaranya. "Hmmm..." Dia tidak bisa bicara karena mulutnya di bekap. Lelaki itu mendekat padanya, "Yakin tempat yang tadi..." Balas lelaki itu melepaskan tangannya.
"Dino..." Teriak Naomi. "Inikan gudang olahraga. Kamu ngapain bawa aku kesini?" Tanya Naomi. "Aku mau mengkoreksi, tempat pertama kali kamu menyatakan cinta padaku." Balas lelaki itu. "Lupa?" Ledek Dino. Ia mendorong Naomi ke tembok dalam gudang. Diantara rak-rak, kedua mereka saling berdekatan.
"Siapa cewek yang berani masuk ke dalam gudang olahraga dan menyatakan cinta." Tambah Dino sambil menunjuk Naomi. "Aku ya.." Balasnya dan Dino mengangguk.
Kini Dino yang menceritakan ulang kejadian itu. Saat itu, mereka baru saja akan pergi latihan basket. "Dino, tolong ambilkan bola basket yang akan kita pake besok. Ada di rak nomor 6" Perintah pelatih.
"Baik Pak." Ucapnya. Ia lalu pergi dan membuka gedung olahraga. Ia masuk dan mencari dimana letaknya. "Dimana sih bola itu!" ia terus mencari sampai akhirnya menemukannya jatuh disela-sela bola yang lain. Ketika ia berbalik, Dino terkejut karena ada Naomi dibelakangnya dengan rambut di kuncir dua, kacamata kotak besar, dan behel di giginya. Ia memegang kotak makanan, "Dino..." panggilnya.
"Ngapain kamu disini." Tanya heran sekaligus kaget. Naomi hanya diam saja tertunduk. "Kamu mau makan disini? Keluar-keluar, mau aku kunci gudangnya." Ucapnya. Naomi masih diam saja, "Dino, aku minta maaf. Kamu mau gak jadi pacarku. Aku suka sama kamu." Ucapnya polos sambil memegang tangan pemuda itu membuat Dino kaget dan bingung. Jantung Dino berdetak dengan cepat. "Bukannya kamu udah ngaku-ngaku jadi pacar aku?" Dino menatap Naomi dengan tatapan yang berbeda. Tatapan jaim, ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya.
"Semenjak kemarin kamu ajak aku ke taman hiburan, aku sadar aku suka betulan sama kamu. Kamu mau jadi pacar Naomi?" Jawabnya lagi sangat polos. Dia baru saja menyatakan cinta pada laki-laki. "Bukan aku yang ngajak, adik aku yang nulis surat itu." Dino mulai salah tingkah, ia merasa kepanasan padahal saat itu hujan, dan udara cukup dingin. "Iya, Naomi percaya kok. Kamu mau kan jadi pacar Naomi."
"Kamu kok maksa. Lagian gak ada tempat lebih bagus dari pada gudang olahraga ini?" Dino tidak menjawab dan langsung keluar. Naomi langsung down, setelah cintanya di tolak. Terdengar suara Isak-isak tangisnya, "Naomi ngapain masih disitu ayo keluar, mau aku kunci. Ayo cepat." Dino mengunci pintu itu dan langsung pergi meninggalkannya seperti tidak terjadi apapun. Padahal, jantung Dino rasanya mau copot.
Setelah berjalan cukup jauh, ia melepaskan bolanya dan menahannya dengan kakinya. Ia menghembuskan napasnya sepanjang-panjangnya. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, dia terus meraba dadanya yang sepertinya akan meledak.
"Dino! sini cepat!" Panggil pelatih. "Iya pak." Ucapnya berlari menghampiri.
"No.. Lo kenapa? Muka Lo merah gitu." Tanya Reihan.
"Gimana udah ingat belum?" Dino menempelkan telunjuknya di dahi Naomi dan menepuknya lembut. "Kamu kok bisa sih waktu itu nembak aku kayak gitu. Kamu tahu gak jantung aku rasanya mau copot." Ledeknya lagi. "Dino! Stop!" Naomi merasa malu mengingatnya. "Kenapa mukanya di tutup. Aku ingat semuanya, Nomi." Ucapnya mengecup bibir Naomi. Kedua tangannya berpindah ke pinggang Naomi, Dino tak ingin melepaskannya. Tidak sedetikpun, semakin dalam dan panas. "Kalau kamu udah ingat semua, kenapa selama ini kamu bersikap dingin sama aku."
"Itu karena aku marah sama kamu, saat aku lupa ingatan, kamu malah bilang ke aku tidak apa-apa melupakan masa lalu kita. Bagaimana ada kita saat ini jika tidak ada masa lalu." Dino mengecup Naomi lagi. Ia tidak mengijinkan Naomi untuk bicara, dia mengunci bibir Naomi dengan bibirnya.
"Naomi, maaf aku gak bisa menemani kamu saat melahirkan. Kamu pasti kesakitan. Aku pasti akan menebusnya." Ucap Dino.
"Bagaimana cara?" Balas Naomi merebahkan dirinya di dada Dino. "Baby number 4." Celetuk Naomi. "Auuu!" Dino kesakitan. "Kamu melahirkan sendiri." Ucap Naomi. Sebelum pulang Dino mengajak Naomi istirahat sebentar. Dino mengendong Naomi dan merebahkannya di atas tempat tidur, menguncinya dengan kedua tangannya memastikan Naomi tidak akan kemana-mana. "I love you, Nom." Dino mencium Naomi kembali. Dino menghujani Naomi dengan cinta.
Malam hari, Dino terbangun dan merasa haus. "Kamu mau kemana? Fajar bangun?" Ucap Naomi spontan. "Bukan aku mau ambil minum sebentar."
"Mama..." Panggil Dino. Ia tak sengaja melihat Ratih di dapur. Ia sedang ingin ambil air minum sama seperti dirinya. "Ma ... makasih udah mau terima Naomi." Ucapnya. "Dino sayang mama." Mendengar itu Ratih langsung memeluk Dino. Ia langsung minta maaf pada putranya. "Ma... aku udah maafin mama. Sejak om Togaya kasih tahu aku. Apa yang mama lakukan, awalnya aku marah. Tapi, setelah kecelakaan itu aku mengerti bahwa orang tua akan melakukan apapun demi anaknya meskipun itu hal terburuk baginya sekalipun. Makasih mama udah selalu berjuang untuk aku." Ratih tetap saja minta maaf sambil memeluk anaknya erat-erat. "Kamu udah ingat semua?" Ia mengangguk dan memeluk ibunya. "Maafkan mama, Nak."
"Baik, Oma." Ucap Naomi sambil membawa Fajar di tangannya. "Fajar bangun..." Ratih menggendongnya. Dino dan Naomi tersenyum melihatnya. "Besok ikut aku ke suatu tempat."
Semua harus di bayar sampai lunas. Dino mengajak Naomi ke suatu tempat, ia pergi mengunjungi Santi, Serra dan yang paling utama adalah Naomi. "Din...kamu buat apa kesini?" Tanyanya.
"Aku mau minta maaf ke mereka. Mereka adalah orang baik yang melakukan hal buruk karena aku penyebabnya." Ucapnya, "Kamu gak perlu takut ada aku." Dino didampingi Naomi pergi menemui dan meminta maaf kepada semuanya. Aku berharap kalian bisa hidup dengan baik pesannya. Sampai jumpa, kita sampai disini saja.
Hidup itu ada kalanya harus bisa memutuskan perbuatan jahat dengan tegas.
Inilah kisah ku, dan ini adalah awal kehidupan dan perjuangan kami selanjutnya. Tapi aku yakin, kami bisa melaluinya.
"Naomi cinta Dino."
"Dino cinta Naomi." Mereka saling berpelukan di taman dekat kampus mereka dulu melihat anak-anak mereka tumbuh dan bermain. Mereka sekeluarga memutuskan pindah ke Inggris.
Ending ....