Never Forget

Never Forget
Live or died?



Ambulance itu tiba! Naomi di dalam dalam keadaan kesakitan. Naomi bertahanlah! ucap semua orang yang mendampinginya. Naomi hanya bisa diam sambil menahan sakit itu. Ia mencoba tegar, ia tahu kondisi Dino dalam keadaan yang tidak baik. "Bagaimana kondisi suamiku?" Tanyanya menggunakan sedikit kekuatan yang masih dia miliki. "Dam, Bagaimana kondisi Dino, apakah dia masih hidup?" Naomi memegang tangan Adam berharap ada kabar baik dari Adam untuknya.


"Nom, bayi ini harus lahir dengan selamat. Mungkin ini satu-satu yang bisa kita lakukan." Jawab Adam membuat Naomi semakin bersedih. "Auuuu!!! Sakit banget!" Keluhnya. Ia tetap mencoba kuat. Ia harus bisa melahirkan anak ini meskipun harus mengorbankan nyawanya. Ia segera berganti baju dan masuk ke sebuah ruangan. Kondisinya cukup serius, bayinya belum cukup umur. "Nom, bagaimana keadaanmu, kita akan melakukan operasi secepatnya. Kamu harus kuat untuk bayi kamu." Ucap Adam terburu-buru, ia harus mengurus proses dan mempersiapkan semua kebutuhan untuk operasi ini. "Dam.." Panggil Naomi. "Aku bisa, aku akan melahirkan anak ini. Aku udah janji sama Dino, kita akan rawat anak ini sama-sama. Dino pasti menepati janjinya." Naomi menepuk tangan Dino dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Ia berusaha untuk memejamkan matanya untuk mengatur emosinya dan sakit yang di rasakan ini.


Dino, aku yakin kamu gak akan ingkar janji. Kamu janji kita akan membesarkan anak ini sama-sama. Kamu gak boleh tinggalkan aku, gak akan ada Domi atau Milka kedua. Aku percaya kamu baik-baik saja. Kamu harus baik-baik saja. Air mata ini terus menerus keluar dari kedua mataku. Aku memeluk perutku dan aku merasakan pelukan dari bayi ini. Perasaanku sudah campur aduk, tak bisa ku definisikan secara detail, kuatir, sedih, takut, bahagia. Semua campur aduk, aku bahagia akan bertemu dengan bayiku secepat ini. Tak masalah rasa sakit ini harus ku tanggung demi bayiku. Tapi, hatiku hancur karena kondisi Dino yang masih belum pasti. Aku terus memeluk bayiku, dia begitu tenang. Rasa sakit ini seperti merontokkan tulang ku.


"Cepat segera pindahkan pasien ke ruang operasi. Kondisi darurat, air ketuban sudah pecah dan kondisi bayi genap 7 bulan." Kata mereka sebelum membawaku keluar dan memasuki ruang operasi. "Dino...." Panggil Naomi parau. Lampu operasi menyala, operasi sedang berlangsung.


"Operasi Caesar atas nama Naomi Bratayudha, kondisi bayi berumur 7 bulan, kondisi ibu baik. Perkiraan operasi 60 menit. Kita mulai, pisau!" Ucap dokter yang memimpin operasi itu. Naomi memejamkan matanya. Ia membayangkan Dino ada di sini bersamanya. "Anakku, kamu harus selamat, kita akan segera bertemu." Doanya sambil menitihkan air mata. "Tuhan lindungilah anak dan suamiku." Ia pasrah dengan keadaan yang dijalani nya.


Sementara diluar ruang operasi, Oma Murni, Togaya dan Ratih yang duduk di kursi roda menunggu dengan cemas. "Dam, gimana kondisi Naomi?" Tanya Ratih. "Tante gak akan maafin diri Tante jika terjadi sesuatu yang buruk sama Naomi." Ucapnya, ia benar-benar menyesal. Bahkan air mata sudah mengering dan tidak bisa membayar penyesalannya. "Dam, tolong Naomi. Selamatkan keduanya." Pinta Ratih.


"Seharusnya Anda berpikir sebelum bertindak, kalau bukan karena kamu Ratih, cucu saya tidak akan sampai seperti ini. Dulu, kamu membuat cucu saya menderita waktu mengandung Domi sekarang kamu ulangi lagi. Dasar kamu wanita jahat." Maki Oma Murni, ia sudah tidak tahan dengan Ratih.


"Ibu, saya mohon maafkan kakak saya. Kami tahu kami salah, sangat bersalah pada Naomi. Tapi bukan sekarang waktunya saling menyalahkan, kita harus berdoa untuk Naomi dan Dino." Togaya coba menengahi.


"Kamu bilang kamu sayang sama anak kamu tapi kamu hampir membunuh cucumu, Domi." Makinya lagi, Oma Murni benar-benar lepas kontrol. "Membunuh Domi?" Togaya kaget, apa yang sudah di lakukan Mbak Ratih? pikirnya. Kenapa, Ibu Murni harus bicara seperti itu?


"Oma, Tante kondisi Naomi baik. Dia juga wanita yang kuat." Ucap Adam memberikan sedikit kelegaan. Mereka semua menunggu dengan harap-harap cemas. Sementara Domi dan Milka di bawa pulang ke rumah.


"Dino..." panggil Naomi. Dino lalu menoleh, ia mengenakan kaos putih dan celana jeans. Ia tersenyum lebar, ia mengandeng tangan Naomi. "Bagaimana Naomi. Apakah kamu senang?" Tanya Dino sambil berputar-putar di pinggir pantai. Naomi menggunakan dress putih dan topi pantai coklat yang cukup besar. Dino lalu memeluk Naomi dan menciumnya. ia lalu berlutut dan mencium perut Naomi. "Papa sayang kamu." ucapnya tersenyum pada Naomi.


"Kita akan rawat anak kita sama-sama." Ucap Dino. Naomi tersenyum mengingatnya. Ia mendapatkan semangat untuk terus berjuang. Dia merasakan seperti ada sesuatu yang diangkat dari perutnya. Tidak ada rasa sakit, suara itu akhirnya terdengar. Suara tangisan anaknya. Ia melihat anaknya yang diangkat oleh dokter. "Selamat, bayinya sudah lahir, bayinya laki-laki sangat tampan seperti ayahnya." Ucap dokter itu.


Melihat anaknya, ia tak kuasa menahan air matanya. Dia menangis sekencang-kencangnya, apalagi saat bayi itu ditaruh di sampingnya. "Hallo, anakku... terima kasih kamu sudah lahir dengan selamat. Welcome to the world." Setelahnya bayi itu dibawa untuk dibersihkan, dan di bawa sementara ke ruang perawatan karena kondisinya yang premature.


Lampu operasi telah dimatikan, operasi berjalan dengan sukses. Salah satu dokter yang bertugas keluar dan menyampaikan kabar baik itu, "Selamat bayinya telah lahir, seorang bayi laki-laki, berat 2,8 KG dan panjang 48 cm. Saat ini, masih dalam perawatan intensif. Dimana ayahnya?"


Semua yang ada melihat satu sama lain, ekspresinya sedih. "Ayahnya..."


Naomi sudah dipindahkan keruang rawatnya, ia terus menitihkan air mata menatap langit yang begitu gelap, lampu-lampu gedung yang berkelap-kelip. Ia memeluk dirinya sendiri merindukan Dino.


Takdir selalu mempertemukan kami... Dia selalu berada di dekatku dalam keadaan apapun.