Never Forget

Never Forget
Vacation



Welcome to Bali! Tess! It's the best time ever!


"Naomi... Kamu sebahagia itu?" Dino memeluk Naomi dengan erat. "Mama..." Domi dan Milka ikut lari dan ikut memeluk Naomi.


Ini adalah hari yang terindah untukku bersama Dino dan anak-anakku. Aku tak ingin terikat dengan masa lalu. Aku ingin terikat dengan masa depanku. Aku mencintai dia sangat mencintai dia. "Milka, Domi malam ini mau makan apa?"


"Naomi, kamu pikirannya makan melulu." Dino menjitak pala Naomi lembut. "Sayang kita jalan di sekitar pantai yuk." ajaknya. "Nom, aku mau terus bahagia seperti ini. Kamu masih ingat waktu dulu kamu ngaku-ngaku jadi pacarku? Aku tiba-tiba teringat dan gak berasa dari awalnya kamu ngaku-ngaku sekarang udah ada Milka dan Domi."


"Iya... Makasih Dino sudah membuatku menjadi wanita yang seutuhnya." Balas Naomi.


Akankah liburan ini akan benar-benar memberikan kebahagiaan untuk keluarga mereka?


Suasana Bali membuatku merasa lebih tenang, menatap Dino sedekat ini, melihatnya bersama dengan anak-anak membuat hidupku sempurna. Terima kasih Tuhan untuk anugerah mu ini. Ditambah lagi, mama sudah berangsur membaik dan sudah bisa berjalan lagi. Dino mengajari Domi cara berkuda sementara Naomi dan Milka berkeliling sambil menunggang kuda. "Nom, hati-hati." Dino memperingatkan Naomi. "No, aku juga jago, mau tanding?" Dia malah menantang Dino dengan sombong. "Ayo!" Jawab Dino. Naomi bersama Milka, Domi bersama Dino. Mereka saling berkejaran, kedua anak mereka pun antusias mendukung ayah dan ibunya. Mama! Papa! ucap mereka.


"Besok kita akan pergi ke tempat yang lebih seru." Ketika esoknya mereka akan segera berangkat menuju ke Ubud. Di sana ada galeri lukisan yang selama ini sangat diinginkan oleh Dino. Tak sengaja Dino bertemu dengan rekan bisnis dan mengajaknya bicara sebentar. "Nom, aku ngobrol bentar sama beliau. Kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana, ingat jangan dekat-dekat kolam renang. Kaki kamu masih dalam pemulihan." pesan Dino mengecup dahi Naomi. Setelah Dino pergi tiba-tiba, Ratih berteriak. Topinya jatuh di kolam renang, ia tidak bisa mengambilnya karena masih duduk di kursi roda. Sementara tidak ada orang disana. Ia meminta Naomi untuk mengambilnya. Mereka bekerja sama menggunakan kayu tapi justru tak sengaja mereka mendorongnya semakin jauh ke tengah. Naomi berusaha meraihnya hingga dia terjatuh. "Tolong! Tolong! Tolong!" teriak Naomi membuat Dino panik. Ia segera menyusul dan membantu Naomi beruntung ia cepat sadar setelah CPR dari Dino. "Are you ok? Kita sebaiknya istrihat. Domi, Milka ikut Oma sebentar ya."


Dino membantu Naomi berganti baju dan menemaninya istirahat. Meskipun begitu, Naomi tetap sangat manja pada Dino. "Nom, masih siang. Jangan aneh-aneh." Ucapnya namun tak tahan melihat Naomi cemberut dia melakukan apa yang Naomi inginkan.


Tak terasa, waktu cepat berlalu sudah waktunya untuk Dinner. Ratih mempersiapkan dinner malam ini sebagai tanda terima kasih untuk menantunya, "Malam ini mama sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua tapi akan ada tamu special."


"Siapa ma..." Tanya Dino sambil mengendong Milka di tangannya. "Ms. Serra?" Naomi kaget melihat ia ada di sini. Ia merasakan suatu yang aneh dan tiba-tiba dia teringat orang yang di lihatnya di rumah sakit. Ia merasa cemas, tiba-tiba kepalanya pusing. Dia hampir jatuh beruntung Dino ada di belakangnya. "Nom, are you ok?" Tanyanya spontan. Milka dan Domi menyapa Ms. Serra dengan sopan. "Milka dan Domi, kalian sangat baik dan patuh, semoga Ms. bisa punya anak seperti kamu ya." Serra mengelus kedua anak itu.


"Maaf, Bu Naomi. Saya juga liburan disini. Saya gak ada urusan mengikuti keluarga kamu." Balasnya seperti ingin mengajak Sharon ribut. "Jangan sentuh anak-anakku." Ia punya feeling yang tidak baik dengan Serra.


"Nom, Ms. Serra hanya kebetulan aja ada disini? Mama gimana bisa ketemu dengan Ms. Serra?" Tanya Dino. Ratih dengan santainya menjawab jika ia yang mengundang Ms. Serra makan malam bersama kita. "Kenapa ma? Ini makan malam keluarga ma, seharusnya orang luar gak perlu ikut." bisiknya pada Ratih. Ratih justru membela Serra, dia adalah guru Milka dan Domi, ia juga meminta agar Dino menjalin hubungan yang baik dengan Serra. Agar proses belajar anak-anak lebih baik. Ratih justru memaksa Dino untuk menerima Serra untuk makan bersama. "Aku kembali ke kamar, aku rada pusing. Kalian makan duluan aja." Ucap Naomi. Ia sangat tidak nyaman berada dekat Serra.


"Nom, kamu kenapa? Nanti kamu sakit. Kamu gak suka sama Ms. Serra." Naomi menggelengkan kepalanya namun tak dapat membohongi Dino. "No, waktu aku pingsan di rumah sakit. Aku liat, ada orang yang postur dan gesture nya sama dengan Ms. Serra. Dia memegang pisau dan aku juga dapat SMS yang isinya. Kalau dia akan merebut semua milikku." Ia coba menjelaskan perasaan yang dia alami. Dia memeluk Dino, "Aku gak mau kehilangan kamu, No." Mendengar apa yang dikatakan Naomi ia jadi teringat ucapan mamanya. Kalau semenjak Naomi pingsan, ia jadi sering melamun dan paranoid sehingga kadang-kadang bisa melukai dirinya sendiri. Seperti salah satunya ketika ia jatuh dan patah tulang. ART di rumah mengatakan bahwa Naomi melamun sehingga tidak sadar menginjak lantai yang baru saja di pel. ART itu mengatakan bukan licin karena minyak tapi licin karena kecerobohan salah satu karyawan yang tak sadar airnya bocor.


Melihat sikap Naomi yang memang paranoid bahkan terhadap Ms. Serra membuatnya mulai percaya. "Kamu yakin itu Ms. Serra, tapi kita gak pernah ketemu dia selain di sekolah anak-anak." Dino membiarkan Naomi bersandar di dadanya. Ia yakin ini akan membuat Naomi lebih tenang bersamanya. Ia bisa mencari tahu lebih banyak. Semakin lama semakin dalam, Naomi menceritakan semuanya dan memberitahu bukti-bukti SMS yang dia dapat.


"Saat aku antar anak-anak ke sekolah tatapan Ms. Serra ke aku itu berbeda No. Dia melarang aku untuk dekat sama anak-anak. Dia melarang aku duduk disampingnya dan bermain bersama Domi dan Milka padahal orang tua yang lain diminta untuk menemani. Tapi kalau ada kamu, dia beda banget."


"Ok, and then ..." Lanjut Dino sambil memijat dahi Naomi agar ia lebih relax. "Kamu cemburu?" Tanya Dino. Naomi langsung menatapnya, lelaki itu berusaha mendekat dan hendak menciumnya. "Aku mau buat keraguan itu hilang dari dirimu." Jawabnya. Dia semakin mendekat, dan mencium Naomi. Ciuman yang cukup panas. Naomi merangkul Dino dan lelaki itu memeluknya lebih dekat. Ia duduk di atas Dino. Tiba-tiba, bel berbunyi seorang datang, dia adalah Ms. Serra. Dia ingin bertemu dengan Dino dan memberikan laporan bulanan perkembangan kedua anaknya.


"Ms. Serra berikan saja kepada Naomi." Balasnya.


"Laporan ini harus diberikan kepada Pak Dino, sebagai ayahnya." Ucapnya dengan nada bicara yang menggoda. "Ms. tinggal di hotel ini juga?" ucap Dino sesuatu yang diluar dugaan, sepertinya ia mulai tergoda.


"Siapa Dino ..." Bukan siapa-siapa katanya. Lelaki itu mendapatkan pesan, "2035" isi pesan itu.