
Kalau aku bisa mengulang waktu, aku akan memilih ketika kita pertama kali bertemu, pertama kali aku menginjakan kakiku di Panti asuhan tempat tinggal mu. Aku akan memperbaiki segalanya tidak akan menyakitimu dan tidak akan melukaimu.
Aku sadar, mengapa kamu membenciku. Bukan karena bekas luka itu, tapi kehidupanmu dan hatimu yang ku hancurkan. Kamu harus melewati hidupmu dalam ketakutan akan judge orang lain. Aku adalah orang yang menyebabkan kebebasanmu terenggut darimu. Aku adalah orang yang membuatmu menjadi seperti ini. Apa yang kamu lakukan selama ini, kecemburuan yang kamu perlihatkan dulu itu semua karena aku. Aku adalah ketakutan itu bagimu. Maaf Naomi. Tapi bisakah aku memperbaikinya?
"Keadaan Dino masih belum ada perubahan, belum ada tanda-tanda ia akan segera sadar." Ucap Sang Dokter membuat hati Ratih tak berhenti berdoa, "Dok, mau bagaimanapun tolong selamatkan anak saya." Pintanya.
"Tante, dokter Asma akan berusaha sebaik-baiknya." Ucap Adam. "Adam, Dino pasti akan sadarkan. Tante gak punya siapa-siapa lagi selain Dino. Tante, gak mau kehilangan Dino." Balasnya tubuhnya sudah lemah, ia sulit makan, dan terus mengalami kecemasan berlebih karena kondisi Dino.
"Tante sebaiknya pulang, aku akan menjaga Dino malam ini." Ucap Adam, ia kasian melihat Tante Ratih yang sudah berjaga selama seminggu ini.
"Dino, Lo hebat. Ginjal Lo bisa diterima dengan baik di tubuh Naomi. Sekarang dia sudah mulai melakukan aktifitas dibawah pemantauan Dokter. Lo juga harus bangun, katakan sama Naomi kalau Lo cinta dia, Lo akan melindungi dia." Ucap Adam saat ia berjaga, ruangan itu hanya ada dirinya dan juga Dino yang masih belum sadarkan diri.
"Din, besok hari peringatan Milka. Gw akan mewakili Lo. Lo harus segera sadar, Tante Ratih hanya punya Lo sekarang." Tambahnya menepuk pundak Dino dengan lembut. "Sleep Well, Dino." Ia sangat berharap Dino segera sadar.
Setelah mengunjungi Dino, ia berjalan ke kamar Naomi. Ia masuk kesana dan melihat ruangan itu kosong. "Naomi" Ia menemukan Naomi masih dalam posisi terjaga. "Kamu belum tidur?" Tanyanya.
"Adam, kenapa kamu baru datang sekarang? Kamu sendirian?" Ia balik bertanya.
"Berharap siapa yang datang Naomi?" Tanya Adam meledeknya, " Dino?" Cetusnya. Naomi hanya terdiam, ia tidak ingin menyebutkan nama itu lagi.
"Naomi, gimana kabar kamu ? Kamu seharusnya bersyukur, kamu bisa mendapatkan donor ginjal yang sesuai secepat itu. Kamu harus berterima kasih sama Di.." Pembicaraan ini terputus ketika Adam menerima kabar melalui ponselnya. Keadaan Dino drop, Adam diminta untuk datang segera bersama Dokter Asma.
"Naomi, I have to go." Ucapnya terburu-buru. Adam langsung berlari secepat mungkin keruangan Dino. "Dino! Lo harus sadar. Kalau Lo kenapa-kenapa gw akan rebut Naomi dari Lo!" Ia semakin mempercepat langkahnya.
"Segera siapkan peralatan" ucap Dokter Asma di telinganya.
"Adam, Dino." Ucap Tante Ratih sebelum ia tidak sadarkan diri.
"Tante!" Ia lalu mengendong Tante Ratih dan membawanya ke IGD. "Dino! Gila Lo! Bangun Dino! Lo gak kasihan sama nyokap Lo" Ucapnya selama perjalanan ke IGD.
"Adam, gimana Dino? Tante mau lihat Dino, Adam. Dino akan baik-baik saja kan?" Tanya Ratih bertubi-tubi.
"Tante tenang aja. Dino sedang di tangani Dokter. Kita berdoa yang terbaik ya. Sekarang Tante tunggu di sini, Adam akan cari tahu soal Dino ya." Ia kembali berlari menuju ruangan Dino dan menunggu di depan ruang itu dengan cemas. Ia terus mondar mandir sambil terkadang mengintip lewat kaca jendela kecil di ruangan itu.
"Adam." Panggil Dino. Ia duduk disebelah Adam. "Cape kayaknya. Sampai gak ganti baju." Tambahnya sambil tersenyum, Adam hanya melihatnya dan baru tersadar beberapa menit kemudian.
"Dam, Lo kayak anak kecil aja. Gw gak papa kok. Buktinya gw disini. Dam, jagain nyokap ya." Dino menepuk tangan Adam. "Kamu mau kopi, aku ambilkan." Ucapnya namun Adam menolak ia ingin Dino tetap disini. Tapi Dino kekeh untuk pergi.
Lalu bayangan Dino menghilang dan ia tersadar, ini memang mimpi. Ia langsung berlari ke ruang Dino. "Dino! Kalau Lo gak sadar, gw pastikan hidup Naomi menderita. Gw akan balas dendam ke dia! Dino bangun Lo! Atau gw akan membuat wanita yang paling Lo cintai menderita!" Ancamnya lagi, dalam hatinya ia menangis.
Dino Lo janji, kita akan punya anak sama, supaya saat dewasa kita bisa menjodohkan mereka. Dino, Naomi itu menunggu Lo. Lo jangan pergi No.
Di sisi lain, Naomi juga memimpikan Dino. "Naomi." Panggil Dino, ia lalu memeluknya erat tanpa berkata. " I love you so much." Ucapnya lagi namun Naomi tidak dapat mengeluarkan suara apapun dari mulutnya. Lama kelamaan Dino pun menghilang.
"Dino, Jangan pergi!" Teriak Naomi bersamaan dengan itu, detak jantung Dino kembali normal ia melewati masa kritisnya.
Setelah sekian lama, akhirnya para dokter itu keluar dan Dino berhasil di selamatkan. "Terima kasih Dok." Ucap Adam mewakili Tante Ratih.
"Dino, syukurlah kamu bisa bertahan. Mama benar-benar takut sayang. Mama sangat takut terjadi apa-apa sama kamu." Ucap Ratih sambil memeluk anaknya yang masih belum sadarkan diri. "Tante, lihat tangan Dino bergerak." Celetuk Adam ketika melihat reaksi Dino pada Ratih. Bertahap, Dino mengerakkan jarinya sedikit demi sedikit lalu ia mulai membuka matanya.
"Dino!" Teriak Adam menyambut Dino kembali. Namun, Dino masih terlihat lemah, ia beberapa kali menutup matanya dan kembali membukanya. Ia tidak bisa bicara karena alat-alat yang terpasang pada tubuhnya. "Selamat datang Bro!" Sapa Adam dengan bahagia. Dino hanya merespons dengan matanya, ia sangat berterima kasih pada Adam.
Beberapa hari setelahnya kondisi Dino semakin membaik, alat-alat yang sebelumnya terpasang kini sudah di lepas. "Ma.." Ucap Dino memeluk Ratih. "Ma, aku baik-baik saja. Semua sudah berlalu."
"Ma.. gimana kondisi Naomi? Apakah ginjalnya dapat diterima dengan baik oleh tubuh Naomi?" Tanyanya membuat mereka berdua shock.
"Ma, Adam? Naomi dikamar berapa? Dino mau ketemu?" Ia lalu bersiap namun Adam melarangnya. Ia melarang Dino beranjak dari kamarnya.
"Dam, aku udah seminggu sadar. Aku mau ketemu istri aku, Dam." Ucapnya heran mengapa Adam melarangnya. "Dam, aku mau ketemu Naomi." Ucapnya lagi, namun Adam tetap melarangnya. Dino tetap bersikeras mau menemui Naomi. Ia tidak mengindahkan kata Adam. "Apa yang kamu tutupi dari aku Dam!" Tanya Dino to the point.
"Adam! Lepasin.. aku ..."
"Adam, Dino! Sudah jangan bertengkar." Lerai Ratih.
"Lepasin aku, Adam." Dino tetap beranjak dari tempat tidurnya.
"Lo, gak akan boleh masuk! Nino menyewa preman agar Lo gak bisa ketemu sama Naomi." Ucap Adam membuat Dino sadar, ia hanya menutup matanya dan menerima kenyataan ini.
"Bantu aku untuk bisa ketemu Naomi, Dam." Ucap Dino kepada Adam. "Ini permintaan seseorang kepada sahabatnya." Ucap Dino semakin membuat Dino tertekan.