Never Forget

Never Forget
The Repentance of Ratih



Wanita itu berdiri dengan berani di depan Ratih, wajahnya ditutupi oleh masker scuba hitam. Matanya memancarkan aura kebencian pada Naomi. "Saya berharap tante bisa membantuku, sebagai imbalannya Tante bisa memisahkan mereka berdua." Ucapnya memberi penawaran pada Ratih.


"Saya memang membenci Naomi, tapi saya tidak akan melukai dia. Bagaimanapun anak saya sangat mencintai Naomi, anak saya akan terluka jika wanita itu tersakiti."


Wanita itu tak habis akal, dia membujuk Ratih dengan cara yang lain. Ia mengatakan bahwa setelah mereka berpisah Ratih bisa memilih wanita lain sebagai pengganti Naomi. Ia juga mengingatkan Ratih bahwa Dino terlalu banyak menderita karena Naomi. Dino tidak pantas mendapatkan istri seperti Naomi. "Siapa Kamu?" Ratih kaget, wanita itu tahu banyak tentang keluarganya. Siapa wanita ini? Bagaimana dia tahu begitu banyak tentang Dino dan Naomi? Wanita ini pasti bukan wanita sembarangan. Aku harus lebih waspada.


"Saya tidak ingin berhubungan dengan kamu. Sekarang kami keluar. Saya tidak akan menyakiti menantuku." Tolaknya dengan tegas. Tapi wanita itu tidak bergeming, "Yakin?" ucapnya sambil tersenyum dibalik masker. Ratih sekali lagi mengatakan, tidak! Ia lalu mengambil tombol bel untuk memanggil suster. "Cepat pergi sebelum suster datang." Usirnya. Anda! akan menyesal katanya. Ratih mengusir wanita itu dan memintanya jangan kembali lagi, ia kesal melihatnya. Dia merebahkan dirinya, menunggu suster datang ke ruangannya. Tak lama suster itu datang dan menanyakan apa yang dibutuhkan Bu Ratih, dia adalah pasien VVIP di rumah sakit.


"Apakah anak saya sudah datang?" Tanyanya namun suster itu menggelengkan kepalanya. Sedih tapi apa lagi yang bisa dia perbuat, Ratih sadar Dino kecewa padanya. Ratih menatap langit yang biru, ia teringat masa kecil Dino dan Milka. Ketika pertama kali ia tahu bahwa saudara kembar Milka tidak bisa di selamatkan, ia menangis sambil memeluk bayi Milka di peluknya. Saat itu usia Dino masih 7 tahun. Dino berlari menghampiri ibunya, lalu memeluk ibunya. "Mama jangan sedih. Dino gak akan nakal lagi, mama jangan menangis." Saat itu Dino belum mengerti mengapa mamanya menangis.


"Dino, kamu sudah besar, Nak. Kamu benar sekarang kamu punya keluarga yang harus kamu jaga. "Ratih memandangi foto Dino dan Milka kecil yang terpasang dalam sebuah liontin. Ia juga ingat pembicaraannya bersama Dino. "Ma, mama adalah orang tua Dino. Mama gak akan pernah tergantikan ma. Aku sadar mama lakukan semua ini untuk Dino. Sekarang Dino sudah punya Milka dan Domi. Dino juga mau melakukan seperti apa yang mama lakukan, berjuang untuk anak-anakku. Dan yang aku mau adalah memberi mereka keluarga yang utuh. Ma.. please ngertiin Dino. Aku cuman minta itu ma.." Dino memeluk sang Ibu dari belakang. "Ma.. aku mau mama lupakan kejadian pahit itu, Naomi udah berubah ma. Dia gak akan sakiti aku lagi. I trust it." Tambah tetap tidak menggoyahkan hati Ratih yang menentang hubungan itu. Akhirnya, Dino memilih pergi dan tinggal di kondominiumnya.


Ratih sedih, pada akhirnya dia sendiri disini. Keluarga yang dulu memberi dia kehangatan kini satu per satu hilang karena keluarganya masing. Hanya diri sendiri yang dia punya saat ini. Hatinya merasa kosong dan hampa meskipun kamar yang di tempati nya tidak kekurangan fasilitas. Tapi sadar bukan ini yang dia mau. Ia menangis sendiri malam itu.


"Dino.. mama rindu nak." Rintihnya.


Kasih ibu sepanjang masa, Kerinduan sang Ibu kepada anaknya. "Dino! Hati-hati, nak." Panggil Ratih. Dino kecil berlari kesana kemarin mengejar kupu-kupu di belakang rumahnya. Hendrik juga sedang duduk sambil minum teh. "Ma, Dino mau ambil robot dulu." Dino lalu berlari ke dalam rumah. Ratih tersenyum bahagia, rasanya sangat tentram melihat keluarganya. "Ma..." tiba-tiba suasana berubah Hendrik menghilang, rumah yang awalnya ramai menjadi sepi, ia seorang diri. Ia berlari masuk ke rumah sambil memanggil Milka dan Dino. Milka! Dino! teriaknya. Tapi foto Milka dan Hendrik lampunya sudah mati.


"Ma ...." Dino memanggilnya. Dino dewasa memeluknya. "Mama, nyari Dino dari tadi." ucapnya.


"Maaaa....." Dino terbangun dari tidurnya. Naomi yang juga tertidur pulas sambil memeluknya dari belakang juga ikut terbangun. Dino bangun dengan napasnya terengah-engah. Naomi bangun dan mendekatinya, "No, kamu mimpi buruk." Dino langsung memeluk Naomi dengan erat. "Aku mimpi mama Nom. Sekarang udah jam 2 pagi. Aku harus ketemu sama mama." Dino segera bergegas.


"No, ini udah hampir subuh. Gak mungkin kamu bisa masuk." Ucap Naomi merapihkan bajunya.


"Nom, aku harus pergi sekarang. Aku harus pastikan mama baik-baik saja. Kamu sama anak-anak dirumah saja." Dino segera bergegas. Ia mengambil kunci mobilnya dan sesegera mungkin menuju rumah sakit. Hatiku begitu gelisah, semoga mama baik-baik saja. Aku sangat menyesal, pertengkaran ku membuat mama sakit. Dia adalah satu-satu orangtua yang ku miliki, lindungilah mama, Tuhan. Mama tunggu Dino.


Ratih masih menutup kedua matanya, dari ujung matanya. Dia menangis dalam tidurnya. Dia mencoba membuka matanya, ia masih melihat ruangan yang kosong. Namun, ada Dino yang sedang tidur di sofa persis di depannya. Dino tidur dengan pulas. Ratih tak percaya ia lalu duduk dan memastikan bahwa ini nyata. "Dino..." Panggilnya sambil menangis.


"Mama.." Dino terbangun karena adanya suara tangisan. "Ma.. Dino disini... Dino akan temani mama." Ucapnya. Ia duduk disamping Ratih membiarkan wanita itu menyentuh wajah dan rambutnya. "Janji nak."


Dino mencium tangan ibunya, "I'm promise" ucapnya. "Bagaimana dengan istrimu?" Tanyanya.


"Ma.. aku memanglah seorang suami dan ayah, tapi jauh sebelum itu aku adalah anak mama. Aku harus menjaga mama. Maafin Dino ya.." Mereka berpelukan dengan rindu.


Jauh sebelum aku menghadirkan Milka dan Domi ke dunia, mama lebih dulu menghadirkan aku di dunia ini. Dunia yang mempertemukan aku dengan Naomi.