
"Nom, aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Ada yang mau aku omongin di sana."
"Kemana?" Tanya Naomi.
"Tunggu kita sampai sana, aku akan jelaskan semuanya."
Dino membawaku ke sebuah ruangan rahasia yang selalu terkunci. Dino membuka kunci itu dan menyuruhku untuk masuk. "Ini ruangan apa No?" Tanyaku. Ternyata, ini adalah ruang kerja ayahnya, Om Hendrik. Lalu, apa yang mau dia lakukan disini? Kenapa dia membawaku kesini?
Kami tepat berhenti di depan meja kerja ayahnya. Mejanya ku lihat terbuat dari kayu jati asli dan semuanya masih bagus dan terawat. Ia lalu berlutut di hadapanku, dan memegang tanganku. "Naomi, aku sayang sama kamu. Aku gak mau menutupi apapun dari kami baik itu masa lalu atau sekarang. Aku akan ceritakan semuanya." Ucapnya membuatku takut. Ada apa ini, mengapa dia membuatku takut.
"Nom, aku mau kamu baca buku ini." Dino membuka laci meja itu dan mengambil sebuah buku. Buku catatan milik sang Ayah, Hendrik. Catatan itu ditulis Hendrik 27 tahun yang lalu. Saat itu, usia Dino dan Naomi masih kecil. Apa yang tertulis adalah kenyataan pahit yang pernah memporak porandakan rumah tangganya dengan Dino.
"Din.." Ucap Naomi. Ia menitihkan air matanya. Dino dengan hangat memeluknya,
"Aku mau kamu bisa lepas dari masa lalu, dan benar-benar bisa memaafkan aku. Aku gak mau kedua anak kita harus menerima dampaknya. Aku gak mau kamu tahu dari orang lain." Tambahnya.
Naomi tak kuat menahan air matanya yang membanjiri wajahnya. Ia menggenggam tangan Dino erat. Lelaki itu, melihat seduh padanya. "Nom, yang kamu baca itu betul. Catatan itu di tulis papaku sehari setelah..." Aku menghentikan Dino melanjutkan perkataannya. Aku tak sanggup mendengarnya, emosiku terkuras habis untuk hal ini. Aku tak ingin mempercayai apa yang aku baca, apalagi mendengar langsung dari mulut Dino. Aku tak sanggup. Aku hanya bisa memeluk Dino dengan erat berharap aku tidak bisa mendengarnya. Tidak! Aku tidak ingin mendengarnya.
"Naomi, kamu harus mendengarnya. Aku gak mau ini jadi boomerang buat kita. Hal ini adalah boom waktu." Ucap Dino
"Tidak Dino... Aku tidak mau mendengarnya. Kamu gak takut kehidupan kita akan hancur?"
"Naomi... justru kalau aku gak cerita. Ini akan jadi bom waktu untuk kita dan terlebih anak-anak kita. Jika suatu saat kamu dengar bukan dari mulut aku, apa yang akan kamu lakukan? Meminta aku untuk bercerai, memisahkan anak kita? Aku mau kamu benar-benar tuntas dengan masa lalu."
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu dengar ini dari orang lain? Apakah mau mendengar penjelasan ku? Apakah akan langsung pergi dan mengirimkan gugatan cerai?" Tanyanya tak bisa Naomi jawab. "Aku mau kita sama-sama sembuh. Aku mau melepas masa lalu. Beban ini Nom. Aku gak mau berbohong sama kamu Nom."
Naomi hanya terdiam, "Nom. Kamu harus tahu yang sebenarnya, catatan ini ditulis ayahku sehari setelah kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuamu. Dan aku ada disitu, hari itu papa membawaku ke rumah sakit karena aku jatuh sakit. Diperjalanan, mobil kami bertemu dengan mobil kamu dan terjadilah kecelakaan."
Saat itu hujan begitu derasnya, Dino mengalami panas tinggi. Hendrik memutuskan untuk membawa Dino kecil ke rumah sakit. Ia kuatir terjadi sesuatu dengan putranya. "Pa.. Ini hujan besar, jalan juga pasti licin." Cegah Ratih. "Ma, kita perlu bawa Dino apupun yang terjadi. Mama dirumah aja tunggu info dari mama." Ucap Hendrik sebelum pergi bersama Dino.
Di jalan yang gelap dan sedikit cahaya, Hendrik menyetir dengan terburu-buru. Tak tahu apabila dipertigaan jalan ada mobil lain yang hendak berjalan menuju rumah. Itu adalah mobil keluarganya Naomi dan seluruh keluarganya termasuk Ayah tirinya. Tak disangka mereka bertemu dengan cara yang tragis. Mobil Naomi tak sengaja menabrak pohon dan membuat kedua orangtuanya meninggal di tempat sisanya dia dan saudaranya yang masih hidup. Hendrik panik, ia lalu pergi membawa Dino dan meminta sekretarisnya untuk mengurus itu semua. Setelah seminggu dan ketiga anak itu sudah sadar. Hendrik lah yang mengurus agar Naomi hidup di panti asuhan itu. Dan 3 tahun kemudian, Naomi dan Dino bertemu untuk pertama kalinya.
"Kita bertemu 3 tahun setelahnya, dan aku penyebab kebakaran itu. Penyebab luka ini, papa membawa aku untuk menjalani pengobatan, hipnoterapi. Sehingga, aku lupa semuanya. Aku gak pernah ingat masa laluku. Tapi aku punya trauma sama api yang membara. Aku baru tahu semuanya ketika mama memberiku buku ini dan aku ketemu boneka beruang ini. Boneka yang aku perebutkan denganmu hari itu."
"Jahat kamu Dino." Balasnya. "Aku mau kamu maafin aku ya. Maafin ayah aku. Maafin keluarga aku. Gilang adalah suruhan ayah aku untuk menghancurkan hubungan kita." Tambahnya semakin mengagetkan Naomi.
"Gilang?" Naomi shock, Dino kembali memeluknya dan mengiyakan. "Sebelum kita putus, Gilang datang ke kantor aku dan menjelaskan semua. Beasiswa, biaya kehidupan semua diatur ayahku. Gilang yang selalu ada buat kamu, bantu kamu mencari pekerjaan dan membuat kita salah paham. Aku salah paham selama bertahun-tahun. Aku yang justru mendorongmu." Naomi memeluk Dino erat.
"Din, aku cinta banget sama kamu. Aku memang merasakan kenyamanan pada diri Gilang saat kamu mengacaukan aku. Tapi, aku gak pernah berpikiran selingkuh dari kamu." Dino sadar dan menerima semuanya. "Saat itu aku benar-benar merasa menyesal untuk semua yang sudah papaku lalukan. Lalu, aku malah bodoh memutuskan mu. Seharusnya, aku hadapi dan perbaiki bukannya lari." Ia lalu meminta maaf lagi kepada Naomi. Naomi masih menangis tak henti-henti. Dia memukul Dino dengan tangannya. "Jahat-jahat!"
"Iya aku jahat, Nom. Aku udah cerita semua. Apakah ada yang mau kamu ceritakan ?" Naomi menggelengkan kepalanya. "Maukah kamu tetap bersamaku ?"
Naomi hanya diam. Dino tahu pasti jawabannya tidak. "Aku tahu jawaban kamu, aku gak bisa maksa. Tapi setidaknya tidak ada lagi yang aku tutupi, aku lega Nom. Biarkan aku tetap menemui Milka dan Domi." Dino, menyerahkan formulir surat perceraian, "Kalau kamu yang gugat akan lebih cepat, aku akan hadir dan tidak akan lari." Dino juga menitihkan air matanya. Ia tetap berusaha tegar untuk melangkah pergi.
Nom, aku gak mau kamu menyesal. Aku mau kamu bahagia. Aku mau jadi tempat sandaran mu. Tapi, kamu bahkan tidak bisa jujur padaku. Ini caraku melindungi mu.