Never Forget

Never Forget
Naomi meet Milka



"Apa..???" Naomi kaget setengah mati. "Bagaimana bisa dia adalah anak aku. Aku hanya melahirkan Domi." Ucapnya.


Milka anakku bukan Samantha. Mereka keluargaku. Keluargaku utuh! Aku harus mempertahankan mereka.


Aku akan berjuang for my family.


Keadaan Domi berangsur pulih, dia perlahan membuka mata dan sadar. "Papa ...." Ucapnya pertama kali ketika melihat Dino disampingnya. "Anak papa..."elus Dino.


Naomi kembali datang ke Rumah Sakit dan kini ia tidak takut. Ia ikut menjaga Domi meskipun harus diusir berkali-kali oleh Ratih.


"Dia akan tetap bersama dengan aku." Ucapnya membuat Dino kesal. Ia menarik Naomi keluar, "Naomi! Dia anak aku... Aku gak akan membiarkan kamu membesarkan dia dalam lingkungan yang seperti itu. Aku lebih bisa membesarkan dia dengan apa yang aku miliki sekarang."


"Aku bisa memberikan Domi keluarga yang utuh." Hal ini semakin membuatnya kesal.


"Dengan cara memberikan Domi dan Milka ibu tiri? Kamu masih berhutang penjelasan padaku!" Ucap Naomi. Ia kembali berani dan menjadi Naomi yang dulu.


"Apa .. jaga ya bicara kamu. Setelah Domi keluar dia akan langsung ikut aku." Ucap Dino dan itu pasti akan terjadi.


Namun Naomi berubah menantang Dino, "Aku gak akan ganggu kamu dan Samantha. Biarin Domi tetap bersamaku. Aku akan bilang ke dia, ayahnya harus hidup bahagia. Kita gak boleh mengganggunya. Aku gak akan menuntut apapun ke kamu." Ucapannya semakin tidak masuk akal bagi Dino.


"Jadi maksud kamu? Kamu akan bawa Domi pergi lagi. Membawa anak kita pergi, Naomi kamu masih akan melakukan hal yang sama lari dari aku. Minta putus dan memaksa aku menandatangani surat perceraian. Domi adalah anak aku, dia adalah ikatan nyata untuk kita berdua. Kamu dilarang membawanya pergi kemanapun."


"Hubungan aku dan Samantha bukan urusan kamu. Satu lagi, dia bukan istri aku. Samantha adalah tunangan aku." Balas Dino memberi angin segar bagi Naomi.


Setelah Domi sehat, ia tinggal bersama dengan Dino dan Milka. Milka sangat senang menyambut saudaranya. Dino memilih untuk tinggal di kondominium miliknya dan Naomi dulu. Ia ingin punya waktu yang intens dengan kedua anaknya.


"Papa..." Sambut Milka.


"Domi.. Dia adalah saudara kamu. Milka dia adalah adik kamu.." Ucapnya memperkenalkan mereka berdua dan mengajak Domi berkeliling. Ia juga telah mendesign kamar untuk Domi, ruangan yang cukup besar untuk Domi sendiri.


"Bagaimana, Apakah Domi senang?" Tanyanya. "Domi, Milka.. Kalian tunggu sini, papa buka pintu dulu." Ucapnya. Belum juga ia membuka pintu tapi pintu utama sudah terbuka. Naomi membawa koper berdiri di depannya.


"Aku akan tinggal disini mulai sekarang bersama suami dan anakku." Ucapnya membuat Dino kaget. Ia langsung memeluk Dino dan menciuminya.


"Naomi lepasin aku! Kita gak boleh kayak gini. Kita udah bukan suami istri lagi." Dino mencoba melepaskan Naomi dan mengusirnya. Ia membuka pintu, "Sekarang kamu keluar. Aku gak mau liat kamu lagi."


"Baik! kalau itu mau kamu!" Naomi menarik tangan Dino dan menutup pintu itu. "Aku gak akan tinggal jauh dari anakku." Naomi terus mengintimidasi Dino dengan tatapannya sementara lelaki itu enggan menatapnya.


"Kamu yakin gak mau lihat muka aku lagi? Kamu bukannya tidak tahu kalau Paijo itu aku." Ucapnya. "Jadi kamu nyalahin aku.. Aku cuman mau kasih kesempatan kamu untuk bekerja." Balas Dino terbata-bata.


"Dino, I'm sorry!" Ucap Naomi. Membuat Dino semakin goyah. Naomi memeluk Dino dengan erat dari belakang. "Aku yang kekanak-kanakan hanya memikirkan diri sendiri. Aku menyalahkan kamu atas segala yang terjadi. Aku sadar ini bukan salah kamu. Tapi aku membuatmu harus membayar semuanya."


"Naomi lepas!" Dia tidak ingin jatuh lagi pada Naomi.


"Aku tahu alasan setelah kecelakaan itu. Kamu langsung pulang ke Jakarta. Kamu gak mau aku dianggap tukang bohong atau penipu seandainya orang-orang tahu aku Paijo." Peluknya lagi lebih erat. Air matanya tak hentinya berhenti. "Aku tahu kamu selalu seperti itu. Dulu, aku menyakiti kamu bersama Gilang. Aku seharusnya sadar, kamu pacar aku seharusnya lebih tahu dulu kesusahan aku. Aku yakin kamu akan support semuanya. Seharusnya, aku bicara soal papa kamu, seharusnya aku jadi diri sendiri. Aku selalu mempertanyakan kamu cinta aku atau gak, aku mau kamu buktikan cintamu. Tapi, aku lupa selama ini kamu yang bertahan sama aku, itulah bukti kamu mencintai aku."


Naomi meminta Dino menatapnya, "Tatap aku sekali saja. Maafin aku karena aku menyalahkan kamu atas luka ini. Padahal saat kita pacaran kamu sudah menerima luka ini. Tapi aku yang selalu menutupinya."


Dino terbawa suasana, ia tidak bisa menutupi cintanya untuk Naomi. Bodoh! Laki-laki yang tidak bisa move on. Tapi Dino mencintai Naomi dengan tulus bukannya tidak mau move on, takdir yang selalu mempertemukan mereka. Dino menatap Naomi, Ia menghela air mata dengan tangannya. Matanya terus berbicara, "Everything it's gonna be alright. Aku sanggup melakukannya demi kamu."


"Dino, tolong kasih aku kesempatan." Ucap Naomi menggenggam tangan Dino. Dino hanya terdiam. Ia melihat Milka dimata Naomi. Ia teringat bagaimana Milka selalu meminta dirinya kembali bersama Naomi. Naomi adalah kakak favoritnya. Naomi mulai mendekati Dino dan mengecupnya dengan lembut.


"Pergi Naomi. Aku gak ingin menyakiti kamu. Kesalahan keluarga aku terlalu besar bahkan tak sanggup aku bayar dengan apapun juga." Ucapnya sambil menitihkan air mata. Naomi masih menggenggam tangannya.


"Papa aku membuat kamu harus tinggal di Panti Asuhan. Membuat kamu besar tanpa orangtua. Dan sekarang Domi besar tanpa seorang ayah akibat kesalahan aku."


"Get away. Aku gak bisa melihat kamu lagi. Kamu aku pecat sekarang dan carilah pekerjaan yang baik. Aku akan memberikan referensi untukmu."


"Tidak Dino!" Namun Naomi enggan melepasnya. "Aku tidak akan pergi dari sini. Aku hanya akan tinggal bersama keluargaku. Kita belum berpisah, kita tidak pernah bercerai." Ucapnya mengagetkan Dino. "Apa Nom?"


"Aku membatalkan perceraian itu setelah kamu pergi. Aku tahu, apa yang sudah kakakku lakukan padamu dan keluargamu. Aku tahu kamu adalah pendonor ginjalku dan mata ini adalah mata Milka, adikmu." Naomi menarik tangan Dino dan memintanya untuk menyentuh matanya.


Dino meraba mata Naomi, ia kembali teringat Milka adiknya. Naomi memeluknya, "Terima kasih, Dino. Kamu selalu memberikan yang terbaik untukku." Mendengarnya membuat Dino semakin ingin menangis. Ia membalikkan wajahnya agar tak terlihat oleh Naomi.


Naomi langsung memeluk Dino dari belakang, "Maafin aku..." Ucap Naomi. Kedua mata mereka saling bertatapan, Naomi dengan berani mengecup bibir Dino.


"Mama...." Panggil Milka, Dino langsung mendorong Naomi. "Akhirnya, mama datang juga ..." Ucap Milka memeluknya.


"Mama ...." Ucap Naomi bingung sambil melirik pada Dino. "Milka adalah anak kita, anak pertama kita. Anak kandung kamu, Naomi."


"Apa ?? Gak mungkin? Aku hanya melahirkan Domi." Balas Naomi spontan.


"Milka lahir dari ibu pengganti. 5 tahun yang lalu." Balas Dino.


"Kita adalah satu keluarga Dino." Ucap Naomi memeluk Milka.


"Kamu mau makan apa hari ini, mama buatkan." Ucapnya.