
Dino terus menatap Naomi yang tertidur dengan pulas di pelukannya. Ia menyingkirkan rambut-rambut Naomi yang jatuh ke wajahnya dan menariknya kebelakang kupingnya. "Kalau udah tidur, kamu selalu gak ingat waktu." Ia mencubit lembut pipi Naomi agar dia tidak bangun.
"Katanya mau bangun pagi." Ledeknya melihat Naomi yang masih terlelap tidur. Dino lalu mengintip jam yang ada di ponselnya, sudah jam setengah tujuh pagi. Dino pelan-pelan memindahkan kepala Naomi keatas bantal pala yang ada di dekatnya. Naomi tidur tanpa rasa bersalah, tidurnya sangat nyenyak seperti putri tidur.
"Naomi!" Bisiknya di kuping Naomi. "Naomi!" Panggilnya lagi. "Naomi!" Naomi langsung mendorong wajah Dino. "Berisik! Masih mau tidur, 15 menit lagi." Ucapnya sambil senyum-senyum sepertinya ia bermimpi indah. Dino menggeleng, "Naomi kamu memang tidak pernah berubah."
Hari ini, Naomi bermimpi indah. Ia bermimpi Dino memeluknya dengan erat semalaman dan mengecupnya sebagai hadiah di pagi hari. Ia terus tersenyum sambil tertawa malu memeluk bantal gulingnya. "Dino! I love you!" Ia mengigau. Mendengar ini membuat Dino bingung, "Kenapa dia ketawa-ketawa sendiri? Naomi!" Teriaknya. "Wake Up! Wake up this already early in the morning!" Teriakkan ini membangunkan Naomi.
Kedua mata Naomi secara otomatis terbuka setelah mendengar teriakkan itu. Ia mencari-cari letak jam untuk melihat jam berapa sekarang. "Jam berapa sih?" Tanyanya sambil menggeliat setelah bangun tidur. "Jam tujuh!" Teriaknya kaget. "Ini sudah siang!" Ia menatap layar ponsel Dino.
"Masih belum bangun?" Tanya Dino lagi. Naomi menunjukkan tawanya. "Bangun kok."
"Anak-anak udah bangun. Aku siap-siap dulu mau jogging sebentar. Oh iya, kemarin kamu mimpi apa sambil senyum-senyum begitu?" Tembak Dino membuat Naomi malu. Ia reflek menyentuh Bibirnya. Apa ini mimpi? Kenapa seperti nyata?
"Ayo mimpi apa kamu...." Ledek Dino.
Kenapa aku bisa mimpi seperti itu? Ia memeriksa wajahnya yang memerah di kaca. "Naomi kamu gak boleh kayak gini." Ucapnya malu bersembunyi dalam selimutnya.
Ia mempersiapkan dirinya dengan baik. Ia membuat sarapan dan membangunkan anak-anak untuk segera bersiap ke sekolah. Ia juga tak lupa bersiap-siap, ia kembali menjadi Naomi yang dulu. Ia memilih aksesoris kalung dan anting yang membuat dirinya terlihat lebih menarik. Naomi juga mempersiapkan kebutuhan Dino, sehingga setelah suaminya mandi ia tak perlu repot lagi mencari pakaian.
"Dino, hari ini kamu pakai baju profesional?" Ucapnya tiba-tiba muncul di depan Dino yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menunjukkan kemeja polos yang dia siapkan, warnanya coklat bata. Naomi memintanya mengenakan pakaian yang dia pilih dan Dino setuju.
"Ok!" Naomi tersenyum sambil melihat Dino bersiap.
"Kamu ngapain di situ? Kamu gak ngurus anak-anak?" Tanyanya semaring merapihkan bajunya.
"Aku mau bantu kamu. Anak- anak udah siap di meja makan. Tinggal menunggu kamu saja." Naomi berjalan mendekat lalu mengambil alih kancing baju Dino yang belum terpasang.
"Malam ini, kamu pulang jam berapa? Kamu mau aku masakin apa malam ini? " Tanyanya.
"Aku akan pulang terlambat karena ada makan malam dengan klien. Malam ini kamu gak perlu tunggu aku." Ucap Dino dingin, ia masih menghindari Naomi. "Kamu sering seperti ini, membiarkan Milka makan sendirian?" Balasnya.
"Aku mau izin ke Bogor untuk mengurus sekolah Domi. Aku juga akan memindahkan sekolahnya ke Jakarta."
"Papa..." Panggil Milka. "Ayo makan, mama masak nasi goreng..." Ucap Milka. ia tak sabar menunggu ayahnya itu turun dan makan bersamanya. "Iya, Milka. Papa lagi bicara sebentar dengan mama. Kita turun sekarang. Peluk papa." Pintanya mengendong Milka.
"Besok kita pergi bersama, kita daftarkan anak kita ke sekolah Milka." Ucapnya membuat Naomi bahagia, ia hampir menangis haru. "Naomi! Ayo makan, kamu diam aja disitu." Semua terasa rumah bagi Naomi.
Rasanya seperti mimpi, aku bisa berada di ruangan ini bersama dengan Dino dan kedua anakku. Naomi tersenyum melihat semua keluarganya makan dengan lahap. Domi yang berada di sampingnya kini sudah bertemu dengan ayahnya. Ia makan dengan lahap, Milka anak perempuannya tampil cantik dengan seragam sekolahnya. "Milka nanti pulang jam berapa?" Tanya Naomi.
"Mama..." Milka menghampirinya dan meminta untuk duduk di pangkuan Naomi. "Mama.. hari ini aku pulang jam 11 siang. Can you pick up me? I want to introduce mama to my friend. I have mama." Pintanya memeluknya.
"Sure Milka. I will come with Domi. From now on, Mama will take you every day. Are you happy?"
"Happy!! Papa will you join with us?" Tanya Milka.
"Not today Milka, I have meeting at 10 A.M" Ia mengendong Milka untuk menghiburnya. "Today, mom will take you to school, then papa will try to be able to take you every day with mama. I'm promise" Tambahnya. Sosok kebapakannya yang hangat ditujukan Dino kepada anaknya, kehangatan yang sangat ingin dimiliki Naomi sejak kecil. Ia bahagia anaknya tidak mengalami seperti dia.
"Nom, I want to go." Ucapnya memeluk Milka dan Domi lalu mencium keduanya bergantian.
"Dino, ini bekal buat kamu. Dimakan ya, jadi kamu gak perlu makan diluar." Ucap Naomi memberikan sinyal-sinyal cemburu kepada Dino.
"Ok, Nom. Ini buat kamu. Lakukan hal-hal yang bisa menghilangkan kebosanan mu. Satu hal lagi, jangan pernah datang ke kantorku." Ucapnya lalu mengelus rambut Naomi dan pada akhirnya mengacak rambutnya. Ia memberikan
"Papa pergi dulu...." Ucapnya.
"See yaa.. Dino..."
"See yaa...Nomi..."