Never Forget

Never Forget
Bonus: Love at The First Sight



20 tahun yang lalu, SMP Putra Bangsa.


Dino remaja berlari dengan panik, "Woi! Reihan kita kemana nih! Sekolah udah mau masuk. Ini hari pertama sekolah masa udah dihukum!" Teriak Dino.


"Dino, Lo liat itu anak Cempaka pada ngejar kita." Teriak Reihan ketakutan. "Apa yang perlu Lo takuti, kita hajar aja. Kita hadapi!" Balas Dino. "Lo enak, Om Hendrik kepala yayasan. Gw bisa jadi tempe ama bokap kalau ketahuan berantem."


"Udah hadapi aja." Dino menarik Reihan. "Udah gak perlu lari." Akhirnya mereka berdua terlibat baku hantam. Pada akhirnya, Dino yang menang meskipun mukanya juga terluka babak belur. Di tengah perjalanan menuju ke sekolah. Ia melihat kucing kecil yang terjebak di atas pohon.


"Rei, pegang tas aku. Aku mau naik ambil kucing itu."


"Dino, jangan aneh-aneh. Ini sekolah udah telat. Ditambah ini lagi." Dino meminta Reihan untuk pergi terlebih dulu. Tapi ternyata Dino sendiri takut sama ketinggian, dia gak pernah naik pohon dan gak tahu cara turunnya. Pada akhirnya dia jatuh dan badannya kotor. Tapi baginya jatuhnya kali ini membuatnya lebih berani.


"Pak jangan di tutup dong!" Teriak Seorang gadis memohon pada Satpam untuk dibukakan pintunya. Dengan santai Dino berjalan mendekat dan memandangnya, dia terlihat dingin dan santai. Dia melirik jamnya, "Palingan 1 Jam lagi baru dibuka." Ucapnya.


"Hah?! Pak Tolong dibuka pak, ini hari pertama sekolah masa udah telat." Pintanya merengek-rengek. "Berisik tahu, kamu baru ya?" Balas Dino. "Iya baru satu Minggu." Ucapnya. "Sini ikut aku. Mau masukkan." Ajaknya. Dia mengajak Gadis itu pergi ke pohon dekat sekolah. "Kamu naik ke sini. Langsung ke ruang kelas kok. Kamu naik, aku jagain. Abis itu gantian." Ucapnya. Dia membantu Naomi naik dan melemparkan tasnya. Dia melihat Nama gadis itu, "Naomi." Setelah berhasil naik, ia langsung pergi karena dia gak mungkin naik ke tembok.


Pas dia kembali ke gerbang utama, Satpam itu langsung membuka pintu itu. "Maaf ya Dino. Tadi Bapak Hendrik telepon. Selamat datang di SMP Putra Bangsa." Ucap Satpam itu, "Pak kenapa gak dari tadi... supaya cewek itu juga bisa masuk." Ucapnya memasang earphone nya.


"Pak, anak itu yang nyuruh saya naik." Naomi menunjuk anak itu. "Hei, kamu jangan sembarangan dia anak ketua yayasan. Jangan mencari alasan, kamu anak baru kan!" Ucap guru BP paling killer satu sekolah memarahi dan menghukum Naomi membersihkan toilet. Karena jarak sekolah yang cukup jauh, hampir sering kali Naomi dihukum membersihkan toilet. Tapi mau gimana lagi. Dia bersekolah karena beasiswa dari salah satu donatur panti.


"Hello! Tolong dong bukain! Aku harus keluar ada kelas bentar lagi." Gedor Naomi dari dalam. Tak lama ia disiram air oleh Shella dan kawan-kawannya. "Rasain Lo! Siapa suruh cupu" teriak Shella. Akhirnya, salah satu dari mereka membuka pintu dan menertawainya.


"Cewek kayak Lo mana ada yang mau, udah cupu, remedial melulu lagi." Mereka tertawa dengan puas. "Siapa bilang aku udah punya pacar! Namanya Dino Bratayudha!" Tantang Naomi, ia asal bicara karena sahabatnya Vivi baru mengucapkan nama itu dan terlontar begitu saja di bibirnya. Mereka semua kaget, dan langsung marah terutama Shella, "Jangan ngaku-ngaku Lo!" dorongnya. Gosip itu langsung menyebar ke seluruh sekolah tak terkecuali telinga Reihan dan Dino.


"Cie yang baru aja jadian! Gak bilang-bilang ternyata gitu selera Lo Din. Diam-diam menghanyutkan juga Lo." Ledek salah satu anak di kelas Dino. Kelas unggulan nomor satu. "Siapa ya namanya, Naomi!"


"Dino, semua orang juga udah tahu Lo punya cewek. Satu sekolah udah tahu kok." Ucap yang lain membuat Dino marah tapi ia tidak terlalu memusingkannya. Ia beranjak keluar kelas dan tak sengaja menabrak Naomi yang dikejar-kejar teman-temannya. "Kamu! kamu yang buat aku dihukum." Ucap Naomi. "Kamu yang nabrak kamu yang marah."


"Kamu Naomi?" Tanya Dino. "Iya, aku Naomi."


Dino! teriak salah satu temannya yang adalah Reihan, "Kamu Dino Bratayudha." Naomi melihat lebel nama di dada Dino. "Iya kamu betul, Dino Bratayudha." Naomi sadar dia harus kabur tapi Dino menghalangi. "Kenapa? Jadi kamu yang ...." Naomi langsung membekapnya dan mendorongnya ke lorong sepi dekat ruang kelas. Dia memohon agar Dino tidak memberitahu yang lain. Dia bersedia melakukan apapun. Dino menatap kedua matanya, jantungnya berdebar dengan kencang. Cantiknya! ucapnya dalam hati. "Cewek aku minimal harus pinta dan gak remedial." Balasnya meninggalkan Naomi.


Sejak saat itu, Dino secara tidak langsung melindungi Naomi. "Udah Rey, gak perlu kita kerjain. Biarin aja." Ucap Dino mengembalikan tas Naomi yang diambil oleh Reihan. "Yang di gosipkan itu aku bukan kalian. Yang harusnya ngerjain dia itu aku bukan kalian. Aku gak perlu diwakilin." tepuk Dino di bahu Reihan.


"Nomi..." Panggil Dino, ia berdiri dari tadi di samping pintu masuk kelasnya. Dia memberikan jawaban ulangan matematika kepadanya, "Ingat jangan bikin aku malu." Ucapnya. Naomi melihat jawabnya dan ternyata Dino sudah memberikan jawaban dan rumus yang sudah betul. Sejak hari itu, ia jatuh cinta pada Dino, dan selalu mengikutinya kemana-mana. Sejak hari itu juga dia belajar dengan rajin hingga tujuannya adalah dia bisa sejajar dengan Dino.


Naomi mengajak Dino bertemu di belakang panggung. Naomi sudah menyiapkan kado untuk Dino, "Kenapa sih, Naomi. Kamu masih belum puas ngikutin aku terus. Kamu juga ngapain sih ngomong kalau kamu pacar aku ke adik aku. Kamu tahu gak aku jadi bahan ledekan di rumah sama adik dan kakak sepupu aku." Dino terus mengeluh, tapi Naomi tetap mendengarnya.


"Tetap tidak tepat, lapangan kayaknya lebih bagus." Ucapnya. Naomi merasa tertolak lagi dan kali ini dia benar-benar menangis. "Besok, ikut aku belajar di perpus. Pacar aku gak boleh remedial lagi." Ucap Dino ternyata Naomi tidak mengikutinya dan masih ada di belakang panggung. "Kamu ngapain Nom?"


"Kamu jahat banget sih! Aku tahu aku jelek tapi kan udah usaha." Ucapnya. Dino menghampirinya, "Kamu bilang aku jahat! Emangnya tadi aku bilang tidak mau? Kamu mau nangis di hari pertama kita pacaran?"


"Jadi, kita pacaran!" Ucapnya antusias. Dino mencium Naomi. "Kamu itu cerewet banget." Ucapnya. Sejak hari itu, Naomi sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi lebih baik. Dino juga berubah ketika bersama Naomi.


Semenjak itu, dia semakin bersinar dan pada akhirnya dia bisa sejajar dengan Dino. Dia selalu masuk 15 besar siswi terbaik di kelas. Dia juga memperbaiki penampilannya dan gaya berpakaiannya. Dia juga belajar hal-hal baru dalam hidupnya.


"Naomi ... kamu jangan marah dong. Masuk yuk, kita makan." Ucap Dino dari mobil. "Kamu pulang aja sendiri." Jawab Naomi sepertinya ia ngambek. "Nomi, aku janji gak akan dekat-dekat sama Shella." Ucapnya menyusul Nomi dia keluar dari mobil dan memeluk Naomi. "Janji ...."


"Iya ....." Ucap Dino.


Mereka melalui masa remaja menuju dewasa bersama-sama hingga meraih mimpi mereka di Inggris, negara impian Naomi.


"Dino, kamu foto jangan dekat-dekat gitu. Aku keliatan gendut." Keluh Naomi. Dino kalau foto selalu close up. "Gak! Bagus kok!" Puji Dino menunjukkan hasil fotonya. Foto naomi dengan kuncir kepang andalannya serta kacamata hitam sedang membaca buku. "Dino tuh kan gendut banget!" Naomi mencoba menghapusnya namun ia kalah dari Dino.


Sepulang sekolah Dino mencetak foto itu, dibelakangnya tertulis SMP Putra Bangsa, My glasses girl. "Gila Dino! Ini cewek Lo!" Adam terkejut dengan selera Dino. Ia baru menerima kiriman Dino dan mereka langsung membahasnya via online.


"Iya, Dam. Dia cewek aku. Kamu tahu gak dia anak perempuan yang sama bantuin aku waktu diculik." Dino memandang foto yang sama dengan yang dipegang Adam dia juga melihat bekas lukanya.


"Oh, ternyata si pemilik luka itu. Kok lo bisa tahu?" Balas Adam. Cukup simple jawabannya, tatapan matanya yang selalu aku ingat.


"Yes! Peri Kecilku..." Dia mengakhiri teleponnya. Dino memandang foto naomi di kamarnya, sambil tersenyum sendiri.


Tiba-tiba Nana dan Milka datang dan langsung meledeknya, "Cie yang abis dicium, seneng banget. Kakak liat Lo, gimana gak kakak ada disitu Dino." kata Nana kakak sepupunya meledek adiknya itu membuat Dino malu. "Kak, apaan sih! Hah serius, Kakak lagi di atas panggung ya?" ucap Dino malu.


"Kakak juga mau dicium kayak tadi" Ucap Milka polos.


"Hei! kamu mah masih kecil, jangan coba-coba ya" kata Dino mengultimatum Milka lalu dipeluk dengan erat oleh Dino.


"Ayo ada apa nih!" Papa dan mamanya juga masuk dan ikut berpelukkan. "Kakak baru punya pacar ma..." Celetuk Milka. Dino langsung malu tapi ia tidak memungkiri. "Iya, ma.." Mereka semua langsung meledek Dino dan mulai mencari tahu tentang siapa pacarnya. Mereka kelihatan sangat bahagia.


"Hallo Tante, perkenalkan saya Naomi. Pacarnya Dino." Naomi masuk dan memperkenalkan diri dengan senyum lebar.


Pengalaman dan moment adalah buku paling berharga yang tak akan pernah lekang oleh waktu, Never Forget.