Never Forget

Never Forget
Wake Up!



Naomi mendekatkan dirinya dan membaringkan wajahnya di samping Dino. "Rasanya seperti kemarin baru bertemu kamu." Ucap Naomi. "Sekarang, kita malah sudah punya tiga anak." Tambahnya. "Dino, kamu harus bisa melewati ini semua. Kamu harus membuka mata kamu dan melihat anak kamu. Dia lahir belum cukup umur, jadi dia masih di rawat. Doakan dia ya.." Tambahnya. "Aku akan kembali lagi."


Keadaan Dino makin membaik-baik, tanda-tanda vitalnya juga stabil. Sudah dua Minggu dia ada di ruang ICU dan Naomi setia menemaninya. Setelah memberikan asi kepada bayinya, ia akan meminta suster mengantarkannya menemui Dino. Dia menceritakan hal apa saja yang terjadi dengan Milka dan Domi. "Din, bulan depan anak-anak akan ada pentas seni. Kita diundang karena anak kita bermain di panggung itu." Ucapnya pada Dino yang masih belum sadar. Naomi memegang tangan Dino dan menciumnya, "I miss you." Dan ia memberi reaksi. Jari tangannya bergerak. "Dino, kamu sudah sadar Din." Naomi segera memanggil dokter dan perawat. Hari demi hari reaksi frekuensi reaksi Dino semakin sering, ini menunjukkan dia akan segera membuka matanya.


"No.. Dino..." Sapa Naomi. Ia adalah orang pertama yang dilihat Dino. Dino masih belum bisa bicara karena alat masih menempel pada dirinya. Ia hanya bisa mengedipkan matanya dan terpejam lagi. Dino terus mendengar suara bayi menangis, itu suara bayinya yang masih dalam perawatan. Karena kondisinya yang premature dia mengalami alergi sehingga perlu di lakukan observasi.


"Hari ini, Dino akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Kondisinya sudah semakin membaik." Ucap Adam kepada Naomi. "Sebentar lagi, anak kamu akan bertemu dengan ayahnya." Tambahnya ketika melihat bayi Dino di Inkubator. "Aku yakin, mereka punya ikatan batin. Sebelumnya dia selalu menangis namun setelah Dino sadar dia jadi lebih tenang." Ucap Naomi. "Bayi, mama mau ketemu papa dulu ya.. "


Di Ruang Rawat Dino,


"Terima kasih, suster. Semua sudah lengkap Suster." Dino merebahkan dirinya dan kepalanya yang masih di perban.


"Maa.. kenapa aku bisa di rumah sakit?" Tanyanya sambil memegang kepalanya yang masih sakit. "Ma, dimana Milka? Kenapa aku tidak melihat dia."


"Dino, Milka masih di rumah. Rumah sakit melarang anak dibawah umur 13 tahun datang ke ruang rawat." Balas Ratih, tapi Dino tertawa. "Ma, Naomi bukannya udah 17 tahun. Kita baru merayakan ulang tahunnya." Jawab Dino membuat Ratih shock. "Dino, adik kamu sudah meninggal, Nak?" Dino shock, dia mengeluh sakit di kepalanya. Ratih mendekat dan memeluknya. "Ma, kenapa Milka bisa meninggal siapa yang membuatnya pergi?" tanyanya kepalanya semakin sakit. "Nak, dia udah meninggal 10 tahun yang lalu." Dino kaget, dia melihat kalender tahun 2023. "Ma.. kenapa aku gak ingat apapun." Ucap Dino menangis, isi kepalanya kosong. Dia hanya ingat peristiwa sampai Milka 17 tahun setelah ia tidak ingat apapun dan yang lain tidak dia ingat.


Ratih mencoba tenang, "Kamu gak ingat Santi, Samantha, Naomi, Alvin?" Tanyanya kebetulan Adam dan Togaya datang. Mereka kuatir melihat kondisi Dino yang mengeluhkan kepalanya. "Siapa mereka? Santi, Samantha, Naomi ... aku gak kenal ma. Aku gak ingat." Ucapnya membuat semua yang mendengar dan ada disitu Shock bukan main. Terutama Adam, "kita lakukan pemeriksaan ulang." Lontarnya langsung. Disaat itu, Naomi tiba di ruangan itu, semua terdiam.


"Dino... kamu kenapa?" Tanyanya ia mencoba merangkul Dino. Namun Dino justru mendorongnya. "Who are you?" Ucapnya sambil menahan sakit. "Dino .. aku Naomi, istri kamu." Ucapnya semakin membuat kepala Dino sakit. "Istri.." Ucapnya parau. Sementara Naomi terdiam, seluruh tubuhnya terasa tersambar petir.


"Dino, Naomi baru saja melahirkan lukanya mungkin belum terlalu kering." Balas Oma Murni spontan. "Apa melahirkan?" Dino semakin kesakitan.


"Naomi... gak perlu kuatir kita lakukan tes ulang." Ucap Adam.


Setelah melakukan pengecekan terhadap otaknya, Dino dinyatakan mengalami amnesia akibat benturan di kepalanya. Alex juga bercerita tentang peristiwa yang terjadi setelah Alex membawa Naomi keluar. Ia mencari cara lain untuk masuk dan menyelamatkan Dino. Pintu utama telah tertutup oleh api dan beruntung ada jendela kayu yang bisa dia masuki. Ia melihat Dino sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Ia berlari kearah Dino tapi naas kakinya terjatuh dan tak sengaja menghantam kayu. Dengan kakinya yang pincang, ia memapah Dino namun ketika mereka sudah sampai diluar. Rumah itu tiba-tiba meledak, Dino dan Alex terhempas, mereka jatuh ke bukit. Kepala Dino terhantam batu dan kaki Alex yang terluka juga. "Pak Dino!" panggilnya sebelum ia pingsan saat dia sadar dirinya sudah berada di rumah sakit.


"Tidak! Ini gak mungkin! Dino pasti ingat aku." Naomi histeris mendengarnya. Ia tak kuasa menahan kenyataan ini. "Gak mungkin ..." Oma Murni mencoba menenangkannya. Adam dan yang lain juga pusing dengan kondisi Dino sekarang. Dia bahkan tidak mengingat anak-anaknya.


"Dino, dia.. Naomi istri kamu." Ucap Ratih kepada Dino. Ia memberikan tangan Naomi, kepadanya. "Maaf... aku belum bisa mengingatmu. Aku gak ingat sama sekali. Maaf juga tadi aku mendorongmu." Ucap Dino, Naomi berkaca-kaca melihat suaminya yang hanya menatapnya datar tak ada tatapan cinta dimatanya. "Iya.." Ucapnya.


"Kamu pasti sedih, aku gak bisa ingat kamu. Apalagi kamu baru melahirkan, maaf Naomi." Ucapnya ketika Naomi sedang tidur. Mendengar itu Naomi menangis dalam diam. Dia tahu sebenarnya Dino menghindari dia. Dia mendengar Dino beranjak dari tempat tidur.


"Dino kamu mau kemana?" Tanyanya.


"Aku mau cari udara segar." Dino mengajak Naomi bersamanya. Mereka duduk di taman rumah sakit sambil melihat langit berbintang. "Maaf belakangan ini aku menghindari kamu terus menerus. Aku rasa kamu tahu hal ini." Ucapnya.


"Aku gak masalah asal kamu gak usir aku." Jawab Naomi. Muka Dino tegang, "Gak mungkin aku usir kamu. Sudah berapa lama kita menikah?" Jawabnya.


"Kita bersama lebih dari 20 tahun, menikah 5 tahun, berpisah 6 tahun dan menikah lagi 2 tahun." Naomi menjabarkan kondisi hubungan mereka membuat Dino bingung. "Maksudnya?" Dino coba mengkonfirmasi.


"Kita pernah berpisah karena kesalahpahaman. Tapi kita sudah menyelesaikannya dan kembali bersama. Kita udah punya tiga orang anak, satu putri, dua putra. Putra ketiga kita baru saja lahir dan masih dirawat."


"Ada apa dengan anak kita?" Tanyanya kaku. "Apakah kamu punya foto anak-anak kita?" Pintanya seperti meminta pada orang asing. Naomi menunjukkan fotonya pada Dino dan menjelaskan satu per satu, "kenapa kita bisa bersama?"


"Karena aku agresif." Kata-kata ini langsung membuat Dino Shock. "Kamu paling suka saat aku seperti ini." Naomi mencium Dino. Dino kaget, semua tubuhnya langsung terkejut. Dino buru-buru menghentikan ciuman itu, "Kamu baru saja melahirkan, bagaimana kondisi mu sekarang? apakah bekas lukanya masih sakit. Dimana bayi kita, aku ingin bertemu bayi kita." ceplosnya masih kaku. "Naomi, Aku gak yakin. Aku suka kamu karena kamu agresif." Ledek Dino.


Mereka pergi ke kamar bayi, Naomi memapah Dino sampai keruang bayi. Dari luar jendela, Naomi menunjuk bayi laki-laki yang berada di inkubator itu adalah bayinya. Bayi dan Dino. "Hi, ini papa, Nak." Ucap Dino. Ia terlihat sangat bahagia. "Terima kasih, kamu pasti sangat sedih melahirkan seorang diri." Ceplos Dino membuat Naomi terharu.


Setiap hari Dino selalu mengunjungi bayinya. Keadaannya semakin baik dengan menggunakan tongkat di kanannya ia berjalan menuju ke kamar bayi. Dia tak menyangka disitu ada Naomi yang sedang menyusui bayi mereka. "Nom, sorry. Aku gak tahu kamu sedang menyusui. Aku akan tunggu diluar."


"Dino, aku sudah selesai. Bayi kita sudah bisa pulang besok." Ucapnya. "Baguslah, aku ingin mengendong nya." Ia melakukan skin to skin dengan bayinya. Ia juga mendoakan bayinya dan bermain dengannya. Dia terlihat begitu bahagia sambil belajar mengingat semuanya. "Besok ajak Milka dan Domi, aku ingin bertemu mereka. siapa nama bayi ini?" Tanyanya.


"Kamu yang biasa kasih nama ke mereka." Jawab Naomi terharu. "Bagaimana jika Fajar." ucapnya. "Bagus, Fajar Bratayudha." Ucap Naomi ia menitihkan air mata haru. Setiap sore Dino selalu datang menemui bayinya dan menggendongnya.


"Nak, maafkan papa. Papa belum bisa ingat mamamu, kakak-kakakmu, kalau tidak bisa mengingatnya papa akan buat kenangan yang baru bersama keluarga kita." Ucapnya memeluk bayinya. Naomi yang mendengar menangis haru campur bahagia.