
"Segera laporkan pada saya jika kamu sudah menemukan dimana alamat Naomi yang baru." Ia mulai mencari tahu apa yang terjadi pada Naomi. Mengapa ia harus hidup susah seperti ini. Padahal setelah perceraian seharusnya ia bisa mendapatkan setengah harta Dino. Naomi juga resign dari kantor yang sesungguhnya memang dia tinggalkan untuk Naomi. Ada sesuatu yang di sembunyikan Naomi darinya. Setelah, ia mendapatkan alamat itu segera Dino pergi untuk mencari tahu semuanya.
"Seharusnya, ada di daerah sini." Ia harus melewati jalan perkampungan untuk sampai ke alamat itu. "Menurut MAP, seharusnya disini, tapi kok gak ada rumah satupun." Ucapnya sambil menyusuri jalanan. Ia lalu mulai bertanya dan jarang orang yang tahu tentang Panti ini. Mereka berkata tidak ada panti di daerah ini.
"Sebenarnya Naomi tinggal dimana sih?" Dia juga mengeluhkan sinyal yang sulit di sana. Tiba-tiba, ia mendengar suara anak kecil menangis sambil memegang anjing kecil miliknya. Kambing itu terluka begitupun juga dia.
"Papa.." Ucap anak itu. Dia menangis memeluk anjingnya.
"Kamu... anak yang waktu itu. Sini, aku bantu." Ia membantu anak itu berdiri. "Ini peliharaanmu? Siapa namanya?" Tanya Dino, ia berusaha menenangkan anak itu. Dino mengendong anak itu menuju mobilnya. Anak itu terus menangis kesakitan. "Sabar ya, sebentar lagi kita sampai. Om akan obati luka kamu. Oh iya, om juga suka sama binatang. Masih kecil om pengen banget pelihara domba. Sekarang Om memelihara seekor kuda, namanya Browny. Om tunjukan fotonya."
Dino berhenti sejenak, dan mendudukkan Domi disebuah batu. Ia memperlihatkan Browny kepada Domi. "Kamu boleh pegang, supaya bisa kamu lihat." Dino kembali menggendongnya. Domi dengan nyamannya memeluk Dino, ayahnya. Sepanjang perjalanan ia hanya memeluk anjingnya dan Dino.
"Sudah sampai kamu duduk disini." Dino lalu membeli obat luka di sebuah warung.
"Bu, ada obat luka?" Tanyanya.
"Ada dong mas ganteng." ternyata penjaga warung itu adalah Siti yang terkenal centil.
"Buat siapa? Aduh Domi, kamu kenapa nak? Kamu jatuh dimana? Pasti kerjaan anak-anak kampung sebelah!" Ucap Siti emosi, ia sangat mengenal anak itu. Ia mengatakan jika anak itu sangat pinta dan baik hanya saja ia tidak memiliki ayah. Ibunya seorang single parent.
"Terima kasih, Bu." Dino hanya tersenyum. "Oh iya, ada ice cream chocolate? Kalau ada saya beli dua buah." Pintanya lalu membayarnya nominal yang besar. "Tidak apa-apa Mbak, ambil saja kembaliannya."
"Nak, kamu tahan sebentar." Dino menuangkan alkohol di sekitar luka itu. Namun Domi sudah kesakitan, "Nak coba pegang ice ini. Kalau kamu berhasil melawan rasa sakitnya, kamu boleh makan ice ini? Gimana? Deal?" Domi mengangguk menyetujui hal itu. Dino lanjut mengobati anak itu. Domi terus memeluk lengan tangan Dino seakan tak ingin terlepas darinya.
"Siapa nama kamu? Domi betul?" Tanya Dino.
"Iya, nama gabungan dari mama dan papa aku." Jawabnya. "Nama yang bagus, om juga kalau punya anak laki-laki berencana akan memberinya nama itu."
"Domi, punya arti khusus untuk om. Domi itu juga singkatan dari nama om dan wanita yang berarti untuk om."
"Cie... Romantis banget mas. Boleh dong saya jadi ibunya anak mas.." Ceplos Siti yang langsung di tegur oleh ibunya pemilik toko. Sampai-sampai, ia minta maaf atas sikap anaknya yang kelewatan. Namun, Dino hanya tertawa.
"Rumah kamu dimana? Kamu suka ice cream chocolate?"
"Suka, aku suka chocolate seperti papa." Jawab Domi polos, ia terus bergelayutan bersama Dino. Tiba-tiba, ada orang yang melemparkan bola kearah Domi. "Hey! Siapa itu!" Teriak Dino, dia beruntung dia bisa mencegah bola itu mengenai Domi.
"Domi, bawa sini. Main sama kita." Ajak anak - anak itu namun Domi ketakutan melihat anak itu. Dino mulai heran, "Kenapa kamu takut karena gak punya ayah ya!" Teriak salah satu dari mereka.
"Hey! kalian kenapa kasar sekali dengan teman kalian! Siapa yang mengajari kalian bicara kasar seperti itu!" Dino langsung membentak anak-anak itu, namun ia tetap bijaksana dan berkepala dingin. Ia menasehati anak-anak itu namun salah satu ayah mereka tidak setuju dan malah berbalik menyerangnya. "Kamu siapa! anak ini itu anak haram! Bapaknya gak tahu siapa! Ibunya sok cantik!" Bapa itu meluap-luap membentak Dino.
Dino langsung menutup kedua telinga Domi agar tidak mendengarnya. "Dasar Bapak tua, bilang saja kamu ditolak sama ibunya Domi." Celetuk Siti kesal.
"Siapa yang berani menolak aku. Adikku mandor utama di proyek mall Bratayudha. Aku kaya raya, seharusnya dia beruntung aku sukai. Dasar perempuan tidak tahu diri!" ledeknya.
"Apa! Kamu bilang ibunya gak tahu diri. Anda pantas di tolak karena sikap anda."
"Berani Lo lawan gw! Siapa Lo!" Ia langsung melayangkan pukulan yang langsung di tepis oleh Dino. "Sialan Lo!" Balasnya lagi pada Dino setelah gagal menghajarnya.
"Saya gak mau berantem depan anak-anak. Sebaiknya anda pergi sekarang bawa anak anda! Ajarkan dia cara bersikap yang pantas sebagai laki-laki!" Balas Dino mengunci tangan bapak itu dengan tangannya. Bapak itu terdesak dan kesakitan.
"Lepasin Gw sekarang!" Ia memberontak namun tak semudah itu lepas dari Dino. "Saya lepasin, minta anak anda untuk minta maaf pada Domi." Namun bapak itu justru hampir memecahkan botol ke pala Dino.
"Oh ternyata bapak masih belum puas juga.." Balas Dino, "Mau pecahin botol ini ke kepala saya." Siti dan ibunya mulai ketakutan. Tiba-tiba, adik Bapak itu datang dan bersiap juga menghajarnya. "Siapa yang berani pukul kakakku!"
"Saya!" Ucapannya membuat adik itu kaget.
"Pak Dino!" Ucapnya terbata-bata, "maafin kakak saya pak" Ucapnya sambil berlutut.
"Dik, kamu ngapain? Dia udah menghina kakak. Kamu harusnya belain kakak!" Bapak itu tambah marah.
"Kak, dia ini bos aku. Dia, Dino Bratayudha." Ucap Andi gelisah. "Pak, saya mohon maafkan kakak saya. Ini hanya salah paham. Saya, minta maaf atas keributan ini."
"Pak Andi, anda tahu? Kakak anda menghina anak ini, dengan mengatakan anak ini haram. Keponakan kamu mengatakan anak ini tidak punya ayah. Bagaimana bisa keluarga kami bersikap tidak bermoral seperti itu."
"Maafkan kami pak. Nak, om minta maaf ya. Ini ada uang buat kamu." Andi lalu memberikan uang jajan kepada Domi.
"Anak saya bukan pengemis." Ucapan itu membuat Andi kaget. "Dia anak bapak?" Tidak hanya dia semua juga kaget termasuk Siti dan ibunya. Domi langsung berlari kepada Dino, ia memeluknya, "Papa..." Ucapnya.
"Anda tidak perlu lagi datang ke proyek." Ucap Dino membawa Domi dan anjingnya pergi dari situ.
"Ini rumah kamu?" Tanya Dino setelah ia berhenti depan sebuah rumah sederhana yang ramai dengan anak-anak. "Papa, ayo turun.." Ajak Domi.
"Domi, saya ini bukan papa kamu." Ucapnya namun Domi tak terima, ia langsung berdiri dan memeluk Dino. "Papa ... Domi kangen.."
Domi memeluknya dengan sangat erat, ia tak tahu bagaimana cara melepaskan anak ini. "Ok kita masuk kedalam ya." Ucapnya sambil mengendong Domi.
Saat sampai di depan pintu, ia tertegun melihat Oma Murni sedang menjahit di kelilingi anak-anak yang sangat familiar baginya. Ia terdiam, "Domi kamu tinggal disini?" Tanya Dino kaget.
"Ayo papa masuk..." Ajaknya lalu meminta diturunkan oleh Dino.
"Domi!" Panggil Gilang yang sepertinya baru tiba. Gilang memeluk Domi di depan mata Dino dan tak lama Naomi keluar dan ikut menyambut mereka berdua.
"Domi, anaknya Naomi?" Hatinya semakin teriris setelah mendengar Domi memanggilnya Ibu. Air mata Dino tak tertahankan. Inilah kenyataan paling menyakitkan bagi dia. Naomi sudah punya anak.
"Mama ada papa..." Tunjuk Domi namun Dino telah menghilang dari situ.