Never Forget

Never Forget
Till the end (Part 2)



"Jangan mendekat!" Teriak Samantha, sementara Ratih sudah pucat.


"Ok!" Jawab Dino santai. Dia meletakkan Senjatanya, dan berniat menyerah. Akhirnya, Samantha kabur. Tapi dengan cepat ia membalikan keadaan. Lelaki itu takluk dengan satu gerakan taekwondo nya. Samantha juga tertangkap oleh anak buah Alex. Serra kabur dan Santi diamankan anak buahnya. Dino langsung berlari, menyelamatkan mamanya. Melepaskan, tangannya dari ikatan. "Dino! Maafkan mama, Nak." Ratih menangis menyesali perbuatannya. "Ma, kita harus cepat keluar. Alex bawa mama aku keluar. Aku akan mencari Serra."


Serra kabur dan bersembunyi. Di persembunyiannya, ia melihat ada kayu dan mengambilnya. Kemudian ia mendekati Dino dan hendak memukulnya. "Awas kamu Dino!" Teriak dia, dengan cepat Dino menghindar dan tak sengaja justru mendorongnya. "Serra! Belum kapok ya kamu." Posisinya berada di seberang anak-anak. Ia langsung lari memukul anak buah Alex dan mendapatkan dia. "Jangan mendekat!" Dia mengambil Domi dan Milka dan mengeluarkan senjata tajam.


"Serra, jangan sakiti anak aku." Pinta Naomi, ia terus memohon tanpa ampun. "Serra, jangan bodoh! Kamu akan menyesal!" Ucap Dino. Diluar tempat tersebut sudah di kepung oleh polisi yang ternyata sudah stanby dan merekam kejadian di gedung itu. "Letakkan senjata gedung ini telah kami kepung. Menyerahlah!" Ucap salah satu polisi.


"Hebat! memang hebat kamu Dino!" Serra memberikan applaus! "Jangan mendekat atau aku akan menyakiti mereka." Serra terus berjalan mundur, ia mendekati tralis besi yang cukup tinggi. "Serra jangan mundur! Kamu bisa jatuh dan terluka. Jangan sakiti anak aku, masalah kamu selesaikan sama aku jangan bawa-bawa mereka. Jangan bawa Milka atau Domi."


"Masalahku adalah kamu Naomi. Aku adalah Serra teman masa kecilmu satu panti Asuhan. Kamu ingat? Sejak kecil aku gak bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Sejak kamu datang Oma Murni langsung menyanyangimu. Lalu, aku kira setelah diadopsi aku akan bahagia. Ternyata, aku lebih menderita. Sementara, kamu tambah bahagia. Kamu punya Dino, punya Milka dan Domi. Kamu hidup berkecukupan dan memiliki cinta yang begitu besar dari Dino. TIDAK ADIL!" Keluhnya, ia melangkah kakinya mundur semakin dekat.


"Aku hanya menginginkan sedikit kebahagiaanmu. Berbagilah denganku Naomi. How?" Pintanya. Naomi langsung berteriak, "Apapun asal jangan sakiti anakku!"


"Aku menginginkanmu, Dino!" Naomi terpukul. "Tidak! Aku tidak akan menyerah pada Dino."


"Ok! Serra. Lepaskan anakku selebihnya bisa kita bicarakan. Kamu mau uang? rumah? Mobil? Aku bisa kasih." Ucap Dino ia kuatir melihat anaknya, hatinya seperti teriris melihat Milka menangis ketakutan.


"Aku menginginkan posisi Naomi." Ucap Serra.


"Ok! Aku setuju!" Dino spontan mengatakan ia. Demi anaknya, ia melihat Naomi terpukul tapi ia tidak punya pilihan. Jika terus bertengkar akan berbahaya bagi anaknya. Ia mulai mendekat, dan mencoba meraih tangan Serra. Polisi masuk dan menyuruh wanita itu untuk menyerah. "Serra! Jangan pedulikan mereka. Raih tangan aku. Lepaskan mereka. Aku akan menuruti semuanya. Ayo, Serra. Milka dan Domi tenang ya. Ms. Serra baik. Lepaskan mereka." Pintanya masih sabar.


"Serra, aku mengerti perasaan mu. Aku pernah mengalami nya. Naomi pernah mengkhianati ku membuat ku terluka. Aku paham, Naomi pernah sama-sama menyakiti kita." Serra mulai luluh, ia melangkah maju untuk mendapatkan tangan Dino. Namun, Samantha berteriak, "Serra jangan percaya!" Serra langsung sadar dan menarik tangannya, ia justru melukai Dino dengan pisaunya. Kakinya tidak sengaja menginjak kayu dan membuatnya kehilangan keseimbangannya. Disaat ini, Dino menarik kedua anaknya lalu memeluknya. "Papa...." ucap keduanya.


Dino memeluk kedua anaknya dan melindungi keduanya dalam pelukannya agar kedua anaknya tidak melihat Serra. Serra terjatuh tepat di atas balon penyelamat yang di pasang polisi. "Domi, Milka .. it's ok. Kalian sudah baik-baik saja." Diluar Ratih merasa kuatir dan panik, Alex menemaninya. Adam dan Alvin datang, Reihan juga datang. Tapi mereka dilarang masuk ke dalam.


Baru juga sebentar bernapas lega, "Mama ..." Teriak Domi ketika melihat Naomi dibawa oleh Santi. Jantung Dino seakan berhenti, "Naomi!"


Santi dengan cepat membawa Naomi, mereka setengah berlari hingga perut Naomi kesakitan. "Santi, kasihanilah anak di kandunganku. Dia tidak bersalah." Dino buru-buru membawa Kedua anaknya keluar dan menitipkannya pada Adam. "Aku harus masuk lagi, untuk menyelamatkan Naomi."


"Dino, jangan!" Ratih ingat Santi membawa korek api di kantong nya sementara Dino punya trauma dengan api. "Mama... Jangan kuatir, aku akan segera keluar." Ucapnya.


"Santi, dimana kamu! Hadapi aku!" Teriaknya, lorong di sana sangat gelap. Ia kehilangan GPS Naomi. Ia yakin Naomi menjatuhkan jam tangannya. "Dino! Tolong!" Teriak Naomi terdengar oleh Dino. "Naomi..." Ia berlari menghampiri Naomi. Naomi sudah setengah sadar. Badannya sudah sangat lemas. Tiba-tiba, ada suara ledakan pistol membuat Naomi takut. Dino membawa Naomi ketempat yang lebih aman. "Aku akan berjuang sampai akhir!" Ucap Santi sudah sangat putus asa.


"Santi jangan senjata itu berbahaya." Santi menembakkan lagi keberbagai arah. Sehingga mereka berdua terlibat tembak menembak. Alex berhasil mengamankan Santi dan membuatnya pingsan. Dino dan Alex buru-buru membawa Naomi, karena ia mulai mengeluhkan sakit di perutnya.


"Lex sepertinya Naomi akan melahirkan." Mereka terburu-buru langsung membawanya.


"Dino!" Teriak Santi. Meskipun ia sudah terluka, ditangannya ada bensin dan korek api. Ia mencegat di depan mereka bertiga, "Jangan ada yang mendekat, atau aku akan melemparkan minyak ini. Aku sudah tidak bisa kembali lagi." Ia langsung melemparkan minyak itu kearah Dino dan yang lainnya. Ia juga menyalahkan api. Itu semua terjadi persis di depan Ratih dan semua orang. Santi tertawa, ia menangis melihat semua itu. Ia ingat pertama kali dulu ia jatuh cinta pada Dino.


Trauma Dino kembali muncul, ingatannya dulu kembali lagi. Tubuhnya mulai lemas. "Dino, kamu kenapa?" Ia mulai merasa pusing dan sesak napas. "Dino ada aku disini." Naomi ingin menenangkan Dino namun ia menolak. "Alex bawa Naomi pergi!" Naomi menolak tapi Dino membentak.


"Alex, anakku harus lahir!" pesannya. Dia mendorong Alex dan mengancam dia. Alex dengan terpaksa membawa Naomi keluar lebih dulu sementara api semakin besar. Ratih terus berteriak melihat Dino. Ia meminta semua orang untuk menyelamatkannya. Diluar semua orang bergantian mengambil air, dengan berat hati Alex meninggalkan Dino dan keluar bersama dengan Naomi. Naomi mengeluarkan darah, ia sangat kesakitan. Kedua anaknya menangis memanggil ayahnya. Adam dan Alvin segera membawa Naomi dan Ratih berserta kedua anaknya pergi. Ini adalah pesan Dino yang masih didengarnya.


"Bawa merek pergi, Dam." Ucapnya sebelum dia pingsan. "Nak, kamu harus lahir dengan selamat." Dia ingat saat dia memegang perut Naomi sebelum perpisahan mereka. Reruntuhan mulai berjatuhan dan terjadi ledakkan di gedung itu. "Dino!" Semua berteriak.


"Dino, tidak!" Teriak Samantha, ia menyesal.


"Dino!" Ucap Ratih parau, ia menitihkan air matanya sementara Naomi sudah tidak sadarkan diri. Ratih mencoba untuk berdiri tapi ia terjatuh, kakinya tak bisa digerakkan. "Aku harus menyelamatkan Dino." Ucapnya sambil memukul-mukulkan kakinya.


"Sudah mbak! Mbak mau kemana? Jangan mbak, bahaya!" Cegah Togaya. Pemadam kebakaran langsung dikerahkan untuk menghentikan api yang semakin membesar.


"Dino, maafkan mama nak! Kamu harus selamat!" Ratih, sangat menyesal, dirinyalah yang membuat nyawa Dino dalam bahaya. Dia ingat pernah menyalahkan Hendrik dengan sikap yang dia ambil. Tapi apa yang dia lakukan sekarang, tidak ada beda dengan Hendrik. Ia menangis kencang mengingat semua itu.


"Mbak, sudah mbak." Togaya menepuk pundaknya. "Sekarang kita harus membantu Naomi." Ucapnya.


Adam tertunduk sambil menitihkan air mata begitu juga Alvin yang duduk di depan dekat supir bersama Domi sementara Milka tidur di pelukannya, "Din


"Kakak ..." Panggil seseorang. Milka kembali muncul dan mengandeng tangannya. "Milka, papa..."