Never Forget

Never Forget
Destiny..



Di ruang persiapan Melahirkan,


Naomi terus menahan rasa sakit yang di rasakan. Ia terus memeluknya. Ia juga terus menangis sambil mengelus perutnya. "Nom..." Adam datang napasnya seperti orang berlari puluhan KM. "Nom, Dino berhasil diselamatkan. Dino mengalami benturan di kepalanya sehingga harus di operasi. Ia akan di operasi di waktu yang bersamaan dengan kamu. Kamu harus kuat untuk Dino dan bayi kamu. Aku keluar dulu." Ucapnya Naomi sedikit merasa lega.


"Bagaimana, Naomi akan segera di operasi?" Tanya Oma Murni. "Betul Oma, aku sudah memberitahu Naomi kondisi Dino. Ia jauh lebih baik setidaknya dia tahu suaminya di rumah sakit ini dan berhasil selamat. Dino juga akan dioperasi." Ucap Adam juga membuat semuanya lega.


Naomi dan Dino dibawa keruang operasi. Dino dalam kondisi tidak sadar sementara Naomi masih bisa membuka matanya. Suster memasangkan alat bantu pernapasan pada Dino dan selang oksigen pada Naomi. "Pisau!" Kata dokter itu. Lampu kedua ruang operasi itu menyala bersamaan.


Suara tangis bayi menggema! Dino resmi menjadi seorang ayah untuk ketiga kalinya.


Bayi itu menangis kencang seakan terhubung secara emosional dengan sang ayah.


Dokter yang menangani Naomi keluar, "Anaknya laki-laki, dimana Ayahnya?" tanyanya.


"Ayahnya masih diruang operasi, Dok." Ucap Oma Murni. Lampu ruang operasi Dino masih menyala. Mereka masih berusaha menyelamatkan Dino. Beruntungnya, keadaan alat vital Dino masih sangat stabil.


"Ayo, Din! Lo pasti bisa. Naomi juga lagi berjuang! Lo harus bisa keluar dengan selamat." Ucap Dino. Alvin, Reihan dan istrinya serta Alexander dan semua anak buahnya. Menunggu dengan cemas bercampur takut. "ahhhh!" Teriak Alex,


"Seharusnya aku yang ada di dalam. Bukan Dino, Seharusnya aku yang kena bukan Pak Dino." Ia menyalahkan dirinya sendiri, memukul kakinya yang dibalut gips. Ia di vonis patah tulang di kaki kanannya.


"Boss! Udah boss. Kaki boss juga terluka." Ucap Anak buahnya. Mendengar itu, Alexander langsung marah. "Sakit gw gak seberapa dibandingkan Boss Dino. Sadar gak kalian." Bentaknya. "


"Sudah, Alex. Lo udah lakuin yang terbaik." Ucap Alvin. Ia juga tidak ingin Alex terus menyalahkan dirinya sendiri, saat ini waktunya kita untuk berdoa demi keselamatan Dino. "Cukup! Bukan waktunya menyalahkan diri sendiri. Gw yakin Dino bisa melewati ini." Ucap Adam yang juga cemas menunggu Dino. Saat ini, dua orang yang berada diruang operasi sama-sama berjuang untuk sebuah kehidupan.


"Alex, bayi Dino sudah lahir. Bayinya laki-laki, Lex Lo udah menyelamatkan anak Dino dan Lo juga udah menyelamatkan Dino. Sekarang, ini udah jadi bagian Dino dan Tuhan. Kamu gak perlu menyalahkan diri sendiri." Tambah Adam. Dia lalu bangkit berdiri dan mendekat kearah pintu ruang operasi. "Dino, Naomi udah melahirkan anak kalian, Kondisinya baik, anak kalian laki-laki, baby boy!" Ucap Adam. Meskipun dia tahu, Dino berada jauh dari tempatnya sekarang berdiri namun ia optimis Dino akan bisa melewati itu semua.


Di dalam ruangan, Dokter masih berkutat dengan peralatan dan kondisi Dino. "Dino, ayo! Diluar keluargamu sudah menunggu." Ucap Dokter itu, menyemangati Dino. Waktu operasi sudah berjalan lebih dari dua jam.


Di Ruangan 303, atas nama Naomi Bratayudha. Naomi masih sangat gelisah, ia terus menunggu panggilan dari Adam. "Nom, Dino operasi Dino masih berjalan. Dino pasti bisa melewatinya. Sekarang kamu istirahat sebelum nanti kamu akan menyusui bayimu." Ucap Oma Murni yang terus mendampinginya. Naomi hanya bisa mengangguk dan mencoba untuk tidur. Ia kembali bermimpi tentang Dino, dalam mimpi itu kembali ke zaman saat dia dan Dino masih SMA.


Hari itu, Naomi menunggu Dino menjemputnya di tempat ia berlatih ballet. Langit sudah gelap dan ia dengan nekat pulang sendiri. Ditengah jalan ia bertemu dengan beberapa anak berandalan yang menggodanya. "Hi, ikut kita yuk. Senang-senang!" Goda mereka, Naomi mendorong mereka dan membela diri. Mereka semakin menjadi-jadi, salah satu dari segerombolan itu mendekati Naomi. Jangan! teriak gadis itu. Ketika ia membuka mata lelaki itu sudah tersungkur ke tanah dan Dino keluar dari mobil dan menghajar mereka. "Lepasin cewek gw!" teriak Dino, membuat mereka kabur.


Keesokkannya, Dino dan Naomi sedang berjalan-jalan santai bersama selepas pulang sekolah. tiba-tiba, di jalan mereka bertemu dengan orang-orang yang semalam menggoda Naomi. Jumlah mereka lebih banyak dan sudah bersiap dengan tongkat hendak menghajarnya. "Mau apa kalian!" tanya Dino, Naomi mulai ketakutan tapi pemuda itu mengandeng tangan Naomi erat lalu memukul mereka dengan tangan kanannya dan lari bersembunyi bersama Naomi. Mereka akhirnya bersembunyi di balik gerobak bunga yang sedang terparkir, "Dino kamu berani banget mukul mereka." Ucap Naomi tangan mereka masih saling bergandengan satu sama lain. "Kalau aku gak pukul mereka gak akan terkecoh, kita gak bisa lari." Ucapnya.


"Din, ajarin aku juga dong cara melawan penjahat-penjahat itu." Ucap Naomi. "Supaya, aku bisa hadapi mereka." Tambahnya.


"Gak perlu, ada aku.." Ceplos Dino sambil mengamati kondisi jalan. Naomi langsung mencubit Dino, "Ngaco! Kamu kan gak selalu ada di samping aku." Ucapnya.


"Pastilah, bukannya kamu mau jadi istri aku. Kamu mau nikah sama yang lain memangnya." Balas Dino membuat Naomi gelagapan.


"Kalau kamu udah tua dan gak bisa berantem lagi, gimana?" Celetuk Naomi. Dino langsung melirik padanya, lalu menciumnya.


"Cukup lahirkan anak laki-laki untukku, aku akan mengajarinya melindungi mu dan anak perempuan kita." Balasnya membuat Naomi salthing. Dia hampir berteriak tepat di depan para anak-anak itu. "Hutss! Naomi, jangan teriak! Mau ketahuan mereka." Dino menutup mulut Naomi dengan tangannya. Naomi menatap Dino, melepaskan tangannya dan menarik wajah Dino kearahnya, "kenapa Naomi?" Tanya Dino heran. Naomi tanpa berkata langsung menciumnya. Dino kaget tapi ia menikmatinya. Naomi terbangun, ia mendapatkan massage dari Adam.


"Selamat Nom, Dino masih di ruang operasi."