
Dino tetap berusaha melepaskan dirinya dari Naomi. "Naomi, lepas! Kamu gak bisa maksa aku kayak gini."
"Kenapa? Bukankah ini yang semua laki-laki inginkan." Mendengar ini justru membuat Dino semakin marah. "Naomi! Aku bukan lelaki brengsek seperti di dalam pikiranmu. Sekarang lepasin tangan kamu dari aku."
Naomi tetap enggan melepaskan, "Naomi bukankah ini perlu dilakukan atas dasar cinta bukan paksaan. Aku tak ingin menyentuhmu."
Naomi tak tinggal diam, ia merelakan segalanya untuk ini, Ia mengarahkan wajah Dino padanya, "Tatap aku dan katakan kamu tidak mencintai aku. Kamu sudah membuang semua perasaan cinta itu. Katakan Dino!" Naomi terus berusaha menggoda Dino. Ia bahkan membuka kancing baju Dino hendak melepasnya.
"Naomi lepas!" Dino mendorong Naomi hingga ia tersungkur. Naomi menangis, ia pasrah dan tak berdaya. "Naomi" Dino segera menghampirinya. "Kamu gak papakan? Ada yang sakit? Naomi aku minta maaf, tadi aku gak sengaja." Ucap Dino panik sambil memeriksa tangan dan kepala Naomi.
"Apa lagi yang harus aku lakuin? Supaya mama kamu bisa terima aku. Apa kelebihan Samantha?" Ucapan itu membuat Dino berhenti melakukan aktifitasnya.
"Kamu mulai lagi..." Naomi menarik tangan Dino untuk merasakan perasaannya. "Aku ingin bahagia, tapi aku mau sama kamu. Aku mau berjuang untuk kita berdua dan anak-anak. Aku tahu kamu mencintai aku..." Ucap Naomi, ia berusaha mengatakan pada Dino hatinya. Ia terus mencoba segala cara,
"Aku akan berjuang lagi..." Dino hanya menatap Naomi, hatinya juga sakit melihat kondisi Naomi yang seperti orang depresi.
"Aku takut kehilangan kamu Dino. Setelah kita berpisah itu barulah mimpi buruk ku." Ia memeluk Dino dan menciumnya. Dino kembali menolak ciuman itu.
Dino sadar! Sadar! Jangan biarkan perasaan ini menguasai mu.
Kenapa aku melakukan itu? Kenapa aku menyakiti kamu terus. Kamu pasti membenciku. Aku harus apa? Ucap Naomi dalam hatinya.
Dino mendekati Naomi, "Naomi" Ia mengelus rambut Naomi membuat wajah wanita itu menoleh padanya. "Jangan menangis lagi." Usapnya. Justru Naomi semakin menangis kejar. "Dino, kenapa kita jadi seperti ini." Ucapnya mukanya sudah merah, hidungnya juga. Dino memperlakukannya seperti anak kecil. "Sudah Naomi, sudah.. Aku tidak pernah membencimu." Pupuk Dino.
"Tatap aku. Berhentilah menangis. Anak-anak bisa terbangun." Dino mengecup bibir manis Naomi untuk menghentikan tangisnya. Namun Naomi tak ingin melepas Dino, hingga akhirnya keduanya terhanyut dalam perasaan mereka. Dino mendekap Naomi dalam pelukannya. Ia benci ketika Naomi menangis, hal ini membuat hatinya sakit serasa teriris silet yang tajam.
Ia membaringkan Naomi dengan lembut. Dino tak ingin melepasnya membuatnya terbang melayang. Dino menggenggam jemari tangannya erat. Sejenak ia berhenti dan menatap Naomi, napasnya beradu,
Naomi kenapa kamu selalu bisa membuatku melanggar janjiku. "I hate you" Ucapnya. Ia lanjut memberikan cintanya pada Naomi.
"Dino! Kenapa?" Tatapnya ketika Dino tiba-tiba berhenti dan menutup matanya. Ia lalu berbisik. "Aku gak akan membiarkan hal yang kamu inginkan terjadi." Ucapnya membuat Naomi tercengang.
"Kamu tidur di sofa malam ini. Kalau mau tidur disini, jangan ganggu aku. Besok pagi aku ada meeting." Dino langsung merapikan bajunya dan tidur membelakanginya.
"Good night, Dino." Ucap Naomi memeluk Dino dari belakang.
"Besok, antar Milka ke Sekolah. Pak Beben akan antar kamu besok." Ucap Dino sebelum mereka tidur.