
"Ma, malam ini aku gak bisa makan malam di rumah aku udah ada janji sama klien."
"Ok, Dino. Mama gak akan maksa. Mama sekarang lagi di supermarket untuk membeli beberapa keperluan kamu. Abis dari sini mama langsung ke tempat kamu. Oh ya, Milka ada di kantor, mama jemput di sekolah katanya sudah di jemput orang tuanya." Ucap Ratih membuat Dino teringat bahwa sekarang di rumahnya sudah ada Naomi dan Domi. Milka juga pasti di jemput oleh Naomi.
"Ma, sehabis dari supermarket langsung pulang aja. Milka ada di kantor sama aku." Balas Dino. "Ma .." Tiba-tiba Ratih tidak meresponnya. "Ma..." Panggilnya lagi.
"Pak Dino, apa kabar?" Seseorang tiba-tiba memotong pembicaraannya dan memperkenalkannya kepada salah satu kerabat yang sudah sejak lama ingin berkenalan dengannya. Ratih, memutus panggilan teleponnya. Firasat Dino mulai tidak enak. Ia menghawatirkan Naomi. Ia ingat Naomi ingin mengajak Milka jalan-jalan untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Menurutnya lokasi terdekat adalah supermarket tempat Ratih juga membeli kebutuhan untuknya.
"Pak sepertinya saya harus pulang lebih dulu." Ucapnya dengan gelisah. Ia tidak ingin Ratih mempermalukan Naomi.
Sementara itu di Supermarket, semua pemikiran Dino menjadi nyata. Ratih melihat Naomi sedang bercanda gurau dengan kedua anak Dino, Domi dan Milka. Mereka berdua berada di kereta dorong sambil menunjuk bahan-bahan yang mau mereka beli. Milka terlihat bahagia dan dekat sekali dengan Domi. Ia mengandeng tangan Domi erat-erat ketika Naomi memintanya mengambil beberapa bahan yang berada di lorong depan.
Kesal! Melihat kedekatan ketiganya. Kemarahan Ratih tak dapat ditahan bersama Samantha, ia langsung melabrak Naomi. Ia kaget dan tak bisa berbuat apa-apa. Samantha dengan emosinya menampar Naomi dan menghinanya sebagai perempuan murahan, perebut suami orang.
"Dasar perempuan tidak tahu diri!" Ratih menyiram Naomi. "Beraninya kamu mendekati cucu saya. Dasar wanita murahan!" Ucap Ratih kasar dan membuat Naomi menjadi bulan-bulanan. Naomi memilih diam dan tidak ingin bertengkar, ia memeluk anak-anaknya yang ketakutan. "Oma, jangan sakiti mamaku." Bela Milka namun tak di gubrisnya. Samantha menarik Milka dan membawanya pergi.
Disaat seperti itu, Ratih juga mengambil Domi dari pelukannya dan meninggalkan Naomi sendirian. Tak ada yang berani, karena Mall itu milik keluarga Bratayudha. Hanya Naomi yang tersisa, mencoba bangkit dan meminta maaf kepada semuanya. Ia lupa bahwa, dompetnya ada di tas Domi yang berada bersama Ratih. Ia membereskan rambut dan menatap tangannya yang terluka. Ia menangis sendiri. "Inikah karmaku?"
Selama di perjalanan, hati Dino semakin gelisah dan pikirannya tertuju pada Naomi. Ia yakin terjadi sesuatu. Feeling-nya selalu tepat jika itu tentang Naomi sejak dulu. Ia mencoba menghubungi Naomi tapi tidak diangkat. Ia dengan cepat menuju ke rumahnya. Sesampainya di condominium, ia melihat pintu utama sudah terbuka dan terdengar suara perempuan yang sudah bercengkrama.
"Papa!" Panggil Milka berbisik, ia sudah menunggu Dino sejak tadi di anak tangga yang tidak terlihat oleh Ratih dan Samantha.
"Milka, Are you crying? Mata kamu bengkak?" Peluk Dino. "Dimana mama?" Tanyanya. Ia langsung memeluk anaknya. Ia mengintip kedua wanita itu yang tidak menyadari kehadirannya. Ia juga melarang Bi Minah untuk memberitahukan kehadirannya.
"It's ok Milka. Papa akan cari mama. Kita cari sama-sama."
"Pa, apakah papa akan menikah dengan mama Samantha. Milka mau mama Naomi." Ucapnya membuat Dino tersentuh.
"Papa juga maunya mama Naomi sayang. Papa hanya cinta sama mama kamu."