
Milka menutup dirinya dikamar. Ia menangis karena apa yang di katakan Dino padanya, ia sangat mengharapkan Ibunya. Tapi Dino menghancurkan segalanya.
"Milka... buka nak. Main sama Om Adam yuk." Adam coba membujuknya. Tapi tetap tidak mempan. Sementara Dino hanya terdiam. "Din, Lo jangan diam aja. Kasian Milka."
"Adam, biarin dia sendiri dulu. Kasih dia waktu , aku yang akan bicara sama dia. Kita jaga dia dari jauh untuk sementara." Jawab Dino, ia mengajar Adam duduk di rooftop rumahnya. Ia menyeduh segelas coklat hangat untuk dirinya dan Adam. "Dam, Milka itu anak kandung aku dan Milka. Setelah tiba di Amerika, mama menginginkan aku memiliki seorang anak. Ia ingin aku menikah lagi tapi aku gak sanggup. Karena kondisi Naomi yang lemah, takut ia tidak bisa punya anak. Kami sepakat untuk menyimpan sel telurnya. Sel telur itulah, Milka. Aku berharap suatu saat kami bisa bersama, berharap ada harapan untuk membangun keluarga kecil yang sekarang sudah musnah."
Tiba-tiba, ada suara pot tanaman yang tidak sengaja tertendang. "Siapa itu!" Bentak Dino.
Pak Beben, keluar sambil tersenyum. "Maaf Den Dino, Bapak gak sengaja dengar pas saya mau sampaikan pesan untuk Aden Dino. Ini ada berkas dari kantor tadi di titip ke satpam rumah." Ia memberikan amplop coklat ditangannya ke kepada Dino.
"Den, Dino. Apa betul yang Bapak dengar tadi kalau Non Milka .."
"Betul Pak. Dia anak saya dan Naomi. Ceritanya panjang dan gak bisa saya ceritakan detailnya." Ia lalu beranjak masuk untuk memeriksa dokumen itu.
Hari sudah semakin malam, Milka tetap mengunci diri dan bahkan belum makan. Dino akhirnya mencoba untuk mendekati Milka dan berbicara dari hati ke hati. Adam memberinya nasehat untuk berbicara heart to heart dengan Milka. Kalaupun ia harus merelakan Naomi, Milka harus bisa menerimanya. Dino mulai mengetuk pintu dengan pelan.
"Milka... buka pintunya. Papa bisa jelaskan. Maaf tadi papa marah. Papa gak bermaksud menyakiti Milka."
"Papa, bohong. Milka mau mama..." Teriaknya dari dalam kamar. "Milka mau mama papa..." Ucapnya lagi.
"Milka.. ada papa disini. Milka gak akan kekurangan kasih sayang. Cinta papa hanya untuk Milka." Dino bicara dengan baik-baik. Milka masih enggan membuka pintu.
"Milka, Mama gak mungkin kembali. Dia gak akan pernah temui kita lagi. Lagi pula ada mama Samantha, papa dan Oma yang akan nemenin kamu."
"Milka mau mama kandung Milka." Ucapnya sambil membuka pintu. Ia terlihat pucat dan lemas. Milka terus menangis, ia mengatakan ingin seperti temannya yang lain. Diantar oleh ibunya. Ia bahkan menunjukkan semua gambarnya tentang ibunya. Ia sangat merindukannya bahkan memohon pada Dino.
"Milka mau mama..." Ia langsung terjatuh di pelukan Dino. "Mama ... mama..." Ucapnya lagi.
"Milka ... badannya panas sekali. Mama, Bi Minah..." Panggilnya panik, ia terus memeluk Milka dalam gendongannya. "Milka, papa minta maaf." Namun Milka terus memanggil mamanya. Di perjalanan pun juga seperti itu dia terus mengigau.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menghubungi Naomi? Tidak! Aku tidak bisa menghancurkan keluarganya." Dia terus memeluk Milka. "Milka sebentar lagi kita sampai."
"Ma, apa yang harus aku lakukan? Aku melihat Naomi sudah memiliki anak dengan laki-laki lain. Sementara, anak aku Milka selalu mencari ibunya." Ia memegang ponsel di depannya. "Haruskah ini, aku lakukan ma? Haruskah aku menghancurkan hubungan mereka demi Milka?"
"Kamu harus mencari ibu untuk Milka. Menikahlah dengan Samantha. Dia ibu yang melahirkan Milka, dia sayang Milka." Ucap Ratih juga tidak memberi solusi pada Dino.
"Ma, hubungi Samantha." Ucap Dino membuat Ratih lega, Dino akhirnya bersedia untuk menikah dengan wanita pilihannya. Pada akhirnya, Dino menyerah dan menyetujui pernikahan itu. Tidak hanya Ratih tapi kedua perusahaan milik Dino dan Samantha juga senang. Dua perusahaan besar akan bersatu, Samantha akan memiliki Dino selamanya.
"Milka, papa akan menikah dengan mama Samantha. Milka akan punya mama dan keluarga kita akan lengkap." Ucap Dino, ia rela melakukan apapun demi keluarganya terutama Milka.
"Gak Milka gak mau. Milka mau mama Milka. Mama Naomi." kekeh Milka semakin membuat Dino bingung sekaligus hancur.
"Milka, papa sayang Milka. Tapi, Papa gak bisa nurutin permintaan Milka." Dino tertekan dan ingin mencari udara segar. Ia ingin sendirian dan meminta Samantha untuk menjaga Milka. Dino pergi keluar ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi yaitu rumah Naomi. Ia berada di depan rumahnya sambil memandang ke salah satu jendela rumah itu. Ia ragu bertemu Naomi dan meminta bantuannya. Tapi, dia tahu Naomi satu-satunya yang dibutuhkan Milka. Tanpa sadar ia tertidur di dalam mobil hingga pagi.
"Mama... Domi mau tahu cerita tentang papa..." Tanya Domi sebelum ia tidur. Ia sangat mengagumi sosok Dino yang di ceritakan oleh Naomi.
"Papa kamu, dia orangnya ganteng dan berwibawa. Dia jago melukis dan pekerjaannya membuat gedung - gedung tinggi." Balas Naomi. "Dia lebih tampan dari Brad Pit." Tambah Naomi.
"Jago gambar seperti aku maa... Papa juga ganteng seperti aku..." Balas Domi polos.
"Jelas dong... Kamu kan anak papa dan mama. Kamu pastilah paling tampan." Ucap Naomi memeluk Domi.
"Ma.. kapan papa akan tinggal bersama kita." Naomi tersentuh dengan permintaan itu. Permintaan yang sederhana namun sangat sulit buatnya. "Secepatnya, asal kamu tidur dulu sudah malam."
"Selamat tidur, mamaku yang cantik." Ucap Domi.
"Selamat tidur, anakku yang baik. Domi Bratayudha."
Mama akan berjuang untuk kamu...