Never Forget

Never Forget
LEAVE



"Bagus, keadaan kamu semakin membaik. Kamu sudah boleh pulang. Ingat, mulai sekarang lebih diperhatikan kesehatan kamu. Sekarang ginjal mu hanya ada satu." Ucap Sang Dokter setelah melakukan pemeriksaan harian pada Dino.


"Dok, kapan Naomi bisa pulang?" Tanya Dino mencegah Sang Dokter keluar terlebih dulu.


"Secepatnya dalam Minggu ini." Balas Sang Dokter lalu menepuk pundak Dino, "Saya doakan kalian segera memiliki momongan. Tapi untuk sementara hindari dulu hal-hal yang terlalu berat." Tambahnya sebelum keluar dari ruangan.


"Ma, aku mau ketemu Naomi." Pinta Dino berharap, Ratih akan mengijinkannya.


"Baik, mama antar kamu ke sana." Balas Ratih menemani Sang anak. Meskipun ia tahu, Dino hanya menambah rasa sakitnya. "Serius Ma." Balas Dino ceria setelah mendapat restu dari Sang Ibu. Ia segera menghubungi toko bunga langganannya untuk memesan satu bouquet Bunga Mawar dan Tulip kesukaan Naomi.


"Makasih ma, udah memperbolehkan aku bertemu dengan Naomi." Peluk Dino.


Pesanan bunga Dino akhirnya tiba, seperti biasa dia selalu menulis kartu dengan tangannya, Bersyukur atas kesembuhan mu.


"Ma, gimana penampilanku?" Tanyanya.


"Dino, kamu terlihat tampan." Jawabnya


"Ma, aku gak terlihat pucat kan?" Ia kembali ingin menegaskan keadaannya. Ratih mengangguk memberikan persetujuan pada Dino. "Makasih ma." Ucapnya tersenyum mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Naomi. Setelah ia siap keduanya pergi menuju ruangan Naomi. Bahagianya Dino, ia sudah tidak sabar pergi kesana. Ia sudah tidak sabar bertemu Naomi.


"Dino, apa kamu yakin?" Tanya Ratih kembali, rasanya ini bukan hal baik bagi Dino untuk bertemu Naomi hari ini. Ia tahu jika Nino pasti akan menghalangi mereka. Tapi disisi lain, ia tak bisa membiarkan Dino terus gelisah.


"Dino!" Panggil Adam terburu-buru. Ia menghadang jalan Dino dengan ekspresi kuatir. "Lo ngapain disini?" Tanyanya lalu memintanya untuk segera kembali ke kamarnya. "Lo, masih lemah." katanya lagi terus mendorongnya untuk kembali.


"Adam, aku baik-baik saja. Aku cuman mau ketemu sama Naomi bukan ikut marathon." Balas Dino.


"Lebih baik Lo ikut marathon." Balas Adam sambil terus mendorongnya.


"Adam, ada apa? Sesuatu terjadi pada Naomi? "Tanyanya langsung, dia tahu Adam sedang menutupi sesuatu dari dirinya. Meskipun Adam berbohong ia tahu karena mereka berteman lebih dari 20 tahun.


"Adam, aku tahu kamu selalu memikirkan aku, tapi kebohongan bukan pilihan yang baik." Balas Dino. Dino hanya terdiam, dia tetap berusaha agar Dino tetap kembali ke kamarnya. Sikap ini membuat Dino sadar, jika terjadi sesuatu pada Naomi.


"It' s ok, I will be fine." Ucapnya meskipun kini nyatanya ia sudah hancur. Ia memberikan bouquet yang di persiapkan pada Adam.


"Dino.. Naomi.."


"Stop Dam.. Aku gak mau dengar sekarang." Dino membuka pintu slide ruangan itu, hanya air mata yang bisa diungkapkannya. Ruangan itu sudah kosong, tempat tidur sudah di bersihkan. "Suster, dimana pasien yang ada di ruangan ini?" Tanyanya pada suster yang berjalan di lorong yang sama.


"Ibu Naomi, sudah di keluar dari rumah sakit kemarin malam." Balas Suster itu.


"Kemarin malam?"


"Iya, bersama keluarganya." Ucap Suster itu.


"Terima kasih suster." Balas Dino. Ia kembali menatap ruangan itu, "Naomi!" teriaknya ia membiarkan tubuhnya bersandar di salah satu dinding yang mengarah ke tempat tidur. Ia menangis sejadi-jadinya, bahkan tak lagi ia bisa mengindahkan rasa sakit yang ada. Ia selalu mengingat kata-kata suster itu bahkan semalam ia bermimpi jika Naomi pergi meninggalkannya setelah ia berkata ia membenci Dino.


"Tante, kita kasih waktu buat Dino." Ucap Adam mencegah Ratih mendekat pada anaknya.


"Naomi! Kenapa harus menghukum ku seperti ini." Teriak Dino kacau. Dino meringkuk sambil menangis. "Kamu jahat Naomi." Ucapnya lagi.


Tak terasa semalam sudah berlalu, "Dino." Panggil Adam membangunkannya. Ia terbangun padahal ia tidak tidur semalaman. "Gw masih ingat waktu dulu Lo mati-matian memperjuangan Naomi. Lo selalu memperhatikan dia meskipun Lo jauh di Inggris. Eh, masih ingat gak? Waktu Naomi ikutan blind date, kamu langsung buru-buru cari tahu siapa cowoknya, asalnya, wajahnya"


Adam menatap Dino yang terdiam.


"Dino, Lo gak boleh lemah, Lo harus kuat. Lo lupa perjuangan Lo dulu." Sambil mengerakkan kedua alis matanya meledek Dino.


"Apaan sih Dam." Ucap Dino menghela air matanya.


"Lo harus bangun, Lo udah semalaman kayak gini. Itu luka Lo perlu di jaga."


"Thanks Dam."