Never Forget

Never Forget
are you dare!



Tak hanya Santi, Naomi juga menemui Serra dan Samantha juga ikut di penjara karena melakukan rencana kejahatan dan menyebabkan Dino menjadi korban. Pertemuannya dengan Serra yang paling membuatnya sedih. Tidak selamanya hidup berakhir bahagia, Jika bukan di takdirkan untuk kita.


"Buat apa kamu kesini!" Jawab Serra ketus. Rambut dan wajahnya terlihat berantakan.


"Kamu habis berantem?" Naomi ingin memulai semuanya dengan baik.


"Bukan urusan kamu." Jawabnya masih ketus. Naomi mengambil sebuah foto dari tasnya. "Apakah ini kamu?" tanyanya langsung. "Iya.." Jawabnya tegas. Naomi langsung bangkit berdiri dan memohon maaf pada Serra. "Untuk apapun yang terjadi saat kita masih kecil sampai sekarang. Aku minta maaf pernah menyakiti kamu atau berbuat hal yang tidak kamu sukai. Aku tahu kamu membenciku." Serra heran dan justru balik mencacinya. "Tahu apa kamu? Soal penderitaan aku!" Serra mengebrak meja. "Kamu merebut kehidupan yang seharusnya aku miliki." Serra ingat bagaimana Naomi kecil bermain dengan Dino kecil dibawah rumah pohon. Padahal seharusnya dia. Dia terkena jebakannya sendiri. Ia berencana mengunci Naomi di kamar mandi tapi justru malah di yang terkunci karena kunci kamar mandinya rusak.


"Seharusnya yang hidup bahagia bersama Dino itu aku!" Jawabnya. "Kenapa sejak awal kamu masuk ke Panti aku kehilangan semuanya."


"Aku gak yakin kamu bisa bertahan dengan Dino. Aku juga melewati masa-masa yang sulit. Kamu juga pernah merebut kesempatan aku memiliki orang tua. Kalau saat itu, kamu tidak mengunci aku di kamar, aku tidak mungkin punya luka bakar seperti ini." Dia menunjukkan bekas lukanya. "Aku menanggung ini seumur hidupku, dihina dan di bully bukannya seharusnya kamu bersyukur setidaknya merasakan kasih orang tua yang menginginkanmu." Balasnya. Mendengar itu, Serra semakin marah. "Aku diadopsi untuk hidup menderita dengan mereka!" Balasnya.


"Lalu, mengapa kamu marah karena aku bersama Dino?" Tanya Naomi. "Karena seharusnya aku yang datang ke rumah pohon itu!" Balas Serra. "Ok! lalu apa kamu yakin itu karena aku yang mengunci kamu?" balas Naomi.


"Serra, kita tidak dapat membalikan waktu. Aku minta maaf untuk segalanya. Saat ini Dino bersamaku. Kami sudah memilki anak bersama. Aku mohon pamit. Aku sudah memaafkan mu." Ucapnya lalu memberikan tas makanan untuknya. "Itu Oma Murni yang disiapkan, hiduplah sebaik mungkin." Naomi meninggalkan Penjara tanpa bertemu Samantha.


Awalnya, Naomi tidak ingat sama sekali dengan Serra. Sebelum ia pergi ke penjara ia bertemu dengan Oma dan menceritakan soal Serra. "Oma, aku gak tahu kenapa orang itu bisa begitu membenciku." Ucapnya sedih. Dia merasa bersalah karenanya anak dan suaminya terluka.


"Namanya Serra? Apa mungkin dia Serra teman kamu waktu kecil?" Tanya balik Oma Murni, ia juga teringat jika dirinya masih memiliki foto-foto Naomi masih kecil. Ia buru-buru mengajak Naomi ke kamarnya, "Kamu tunggu disini. Oma ambil foto waktu kalian kecil dulu." Oma membuka sebuah kotak berisi foto-foto zaman dulu. Ia lalu mengambil sebuah foto album lama dan menunjukkan foto gadis cantik bernama Serra. "Apakah ini dia?" Oma Murni memberikan itu pada Naomi.


"Siapa gadis ini Oma?"


"Dia adalah temanmu saat masih kecil, kalian itu musuhan. Dia selalu merebut apa yang jadi milikmu. Tapi terakhir kali, kamu yang merebut miliknya." Jawab Oma, Naomi kaget mendengarnya. "Aku merebut miliknya.."


"Saatnya, pertama kali Dino datang ke Panti asuhan. Dia bermain bersama Serra. Serra dan Dino janjian untuk bertemu dibawah rumah pohon. Tapi, karena keisengan kamu." Oma murni mencubit hidung Naomi lembut. "Kamu membuat Serra terkunci di kamar mandi sehingga kamu yang mengantikan dia bertemu Dino. Dan setelah itu Dino selalu mencari kamu bukan lagi Serra. Tapi, dia membuat kamu kehilangan kesempatan di adopsi."


"Serius Oma?" Balas Naomi kaget.


"Iya, Dino itu memanglah jodohmu Naomi." Balas Oma.


"Dokter bagaimana keadaan Dino?" Ia datang paling akhir, sementara yang lain sudah berada di sana. "Kata dokter semua baik, Nomi" Ucap Ratih. Ia juga menyuruh Naomi untuk masuk ke dalam, Milka dan Domi ada di dalam bersama Dino.


"Dino, maaf aku baru datang." Ucapnya tapi Dino diam saya dan bersikap dingin. "Iya tidak apa-apa." Balas Dino sangat dingin. "Apa kamu mengingat sesuatu?" Tanya Naomi dan Dino menggelengkan kepalanya. "Belum ada yang bisa ku ingat. Aku gak berniat untuk mengingatnya. Sebaiknya aku melupakannya demi kesehatanku." Jawaban Dino sangat menusuk hati Naomi. "Oh gitu. Baiklah." Tapi sejujurnya hati Naomi hancur mendengarnya. Dino dengan mudahnya memiliki keinginan itu.


"Milka, Domi setelah papa keluar kita pergi ke taman hiburan yuk." Ajak Dino. Dia meminta Naomi untuk ikut bersamanya. Sejak hari itu, sikap Dino benar-benar berubah, sikap dingin yang dulu dia miliki kembali lagi terutama kepada Naomi. Dia jarang sekali memeluk Naomi lebih banyak menghindarinya. Dino pergi pagi hari dan pulang larut malam. Ketika ia pulang mungkin Naomi sudah tidur. Setelah beres-beres, ia langsung pergi tidur. Di pagi hari sebelum Naomi bangun ia sudah bermain-main dengan Fajar dan mengantarkan anak mereka ke sekolah.


"Dino, kamu ada disini?" Tanyanya ketika ia masuk ke ruang tidur Fajar. Ia melihat Dino sedang memeluk Fajar di dadanya. "Kenapa Nom? Aku bersama anakku. Apakah ada suatu yang aneh?" Tanya dingin padanya. "Aku ada kerjaan, aku kasih ke kamu.." Ia membaringkan fajar di tempat tidurnya dan beranjak pergi. "Apakah harus sedingin itu?" Tanya Naomi memegang lengan Dino, ia merasa tak sanggup kalau harus menghadapi dinginnya sikap Dino.


"Lalu, kamu mau apa? Apa yang kamu mau dari aku. Aku gak bisa ingat sama kamu. Bukannya kamu yang bilang gak masalah jika aku melupakan masa lalu dan membangun ingatan yang baru. Sekarang kenapa kamu kayak gini."


"Kamu menghindari aku..." Ucap Naomi, "Aku gak menghindari kamu, itu hanya perasaanmu saja." Balas Dino lagi. Ia pergi meninggalkan kamar itu dan menuju ke Ruang kerjanya. Sikap Dino semakin dingin, dan seisi rumah menyadarinya. "Aku pergi dulu." Ucap Dino tanpa memeluknya seperti dulu.


Lebih parahnya lagi ketika ia berada di depan Adam, "Naomi, aku mau bicara berdua sama Adam." Ucapnya sambil menyeruput teh yang di bawakan oleh Naomi, ia sangat cuek. Terlebih lagi, Adam tidak bisa membujuknya.


"Nom... kamu harus lebih bersabar, ini mungkin karena effect dari amnesianya. Kamu tetap semangat jangan menyerah untuk memulihkan ingatan Dino."


"Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah melakukan segala cara." Ia menceritakan semua usahanya untuk membuat Dino ingat padanya.


"Coba kamu bawa dia ketempat yang penuh kenangan bagi kalian, contohnya tempat kalian pertama kali kenalan, atau hal lain." Adam coba memberikan ide kepada Naomi. Umpan yang baik di sambut oleh Naomi, ia teringat satu tempat yang pasti akan sangat membantu, "Baiklah aku akan mencoba." Naomi kembali bersemangat. Namun tidak semudah itu, Dino orang yang sangat sibuk. Sulit bagi Naomi untuk mendapatkan waktu dengan Dino.


"Dino... aku ajak kamu ke suatu tempat." Ucap Naomi membawakan teh dan juga buah untuk Dino. Hari ini, Dino ada rapat penting dengan klien dari luar negeri. "Aku sibuk..." Balasnya singkat, ia heran kenapa komputernya tidak menyala dari tadi "Kalau setelah ini kamu masih sibuk" Naomi mengeluarkan hadiah besar untuk Dino. "Kamu ..." Dino berteriak, kesal. Naomi mencabut baterai dari laptopnya dan membawanya pergi.


"Nomi, gak lucu!" Dino berhasil mencegah Naomi keluar dari ruangannya, "Nomi! Kamu udah ingat aku?" Tanyanya senang. Ia langsung menarik Dino ke pelukannya dan menciumi suaminya itu. Dino yang awalnya ingin menghindar terlanjur masuk dan menikmatinya. Mereka terbawa suasana, Dino mendekap erat tubuh Naomi. Mereka hampir saja melakukan hal itu namun Dino sadar dan melepaskan Naomi dari pelukannya. Ia segera bangkit dan merapikan tempat tidurnya. "Aku ada meeting penting besok. Aku jemput setelah makan siang." Ajak Dino.


Ini adalah hal terakhir yang aku tahu bisa membuat kamu mengingatku.