Never Forget

Never Forget
Daddy..



5 Tahun berlalu, Dino menutup lembaran yang lalu dan membuka hidup yang baru bersama keluarganya. Dia sudah menutup rapat hubungannya dengan Naomi.


"Dino! Aku mau mengakhiri kenangan buruk ini!" Ucap Naomi dalam mimpi Dino. Ucapan ini terasa sangat real. Dino mulai gelisah, " Naomi .. Naomi..." Teriaknya terbangun dari tidurnya. Jam Beker berbunyi, jam menunjukkan pukul 7 pagi.


"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu. Naomi ... bagaimana kabarnya?" Ia kemudian mencari ponselnya dulu. Ponsel itu sudah lama tidak ia aktifkan lebih tepatnya sejak perpisahannya dengan Naomi. "Dino! Kamu gak perlu lagi membuka masa lalu Naomi pasti sudah hidup bahagia." Ia mengurungkan niatnya dan meletakkan ponsel itu kembali.


"Papa!" Teriak seorang anak perempuan membuka pintu kamarnya dan langsung berlari kearahnya. Ia memeluknya dengan erat, "Papa, are you going to take me to the school?" Ucapnya manja.


"Sure! Milka. I will, I'm promise you." Balasnya. "Now, I want to take a bath and prepare. So could you wait for me at the table? Don't forget to eat you breakfast." Tambahnya, ia mengendong Milka, anak perempuannya dan membawanya ke ruang makan. Rumah mewah dengan fasilitas yang canggih. Milka adalah putri di rumah itu.


"Ma, titip Milka. Aku mau siap-siap." Pintanya kepada Ratih.


"Dino, kamu hari ini akan mengantar Milka ke sekolah? Semenjak dia masuk kamu gak pernah antar dia. Kamu jangan terlalu sibuk dengan kerjaan mu. Ajak Samantha juga, supaya dia bisa mendampingi kamu sebagai ibunya." Tepuk Ratih.


"Ma, sampai kapan mama akan paksa aku dan Samantha. Kita gak akan pernah cocok ma." Jawab Dino.


"Tapi Samantha yang melahirkan Milka, dia melahirkan anakmu, Dino." Bela Ratih. "Jangan karena Naomi, kamu gak berniat membuka hati kamu. Kamu sudah punya anak Dino. Anak kandungmu." Tambahnya membuat Dino pusing.


"Ma, hentikan pembicaraan ini." Balasnya dan kembali ke kamarnya. Ia tak ingin membahas hal itu lagi. "Aku bisa membesarkan Milka. Hanya dia yang aku punya saat ini selain mama." Ucapnya sambil memandang foto ulang tahun Milka yang ke 3 tahun.


Enam tahun berlalu begitu cepat baginya. Selama itu juga ia tenggelam dalam kesibukan mengembangkan perusahaannya di San Fransisco. Milka lahir di tahun kedua sejak ia pindah ke San Fransisco. Ia kembali tersenyum dan bersemangat lagi. Baginya, Milka adalah anugerah terindah dalam hidupnya. Ia memberi nama, Milka untuk putri kecilnya.


"Hello Mr. Dino!" Sapa salah satu guru di sana. "I'm Milka teacher. Nice to meet you. Where is his mother?" Tanya lagi.


"She is very busy. Ms, please take care of my daughter." Ucapnya melambaikan tangan pada putrinya.


"Papa.." Panggil Milka.


"Yes! Milka... What wrong?" Tanyanya lagi, ia heran mengapa Milka kembali lagi.


"Papa, apakah kamu melupakan sesuatu?" Tanya Milka.


"Papa, today is mommy's birthday. Have you call mommy?" Milka lalu memberikan sebuah surat untuk mamanya. "Papa, akan telepon mama dan memberikan ini." Balasnya, sejujurnya ia kaget setelah mendengar ucapan Milka. Ia menyimpan surat itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak. Disitu berisi puluhan surat Milka untuk mamanya.


"It been six years, Have you been living happily?" Ucap Dino sendiri.


"Mr. Dino, there is a call from Indonesia, Mr. Reihan. there is an urgent problem in Bogor Project." Ucap asistennya.


"Ok. Reihan. Ada apa?" Tanyanya. Setelah berbicara cukup lama dengan Reihan, akhirnya ia terdiam beberapa saat. "Aku akan kembali ke Indonesia secepatnya." Balasnya setelah beberapa saat. Setelah menerima telepon itu, ia terdiam sambil melihat ke arah awan. " Aku kembali.." Ucapnya.