
Kata-kata itu terdengar begitu tajam di telingaku, sangat menyakitkan. Mama Ratih melarang ku dengan kata-katanya. Mama tidak akan pernah mengijinkan wanita yang tidak tahu diri ini masuk ke rumah kita ucapnya dekat telingaku. Dia sudah menghancurkan hidupmu berkali-kali, mengkhianatimu, dia bahkan sempat berpaling kepada orang lain tambahnya lagi semakin membuat hatiku menciut. Aku memang melakukan semua itu. Aku tidak pernah mengkhianati cintaku padanya.
"Ma .. sudah cukup ma. Bagaimanapun Naomi masih sah menjadi istriku. Kami bahkan belum bercerai. Aku memiliki kewajiban untuk menjaganya." Bela Dino di depan Tante Ratih yang semakin menjadi-jadi, ia menuduhku telah mencuci otak anaknya sehingga ia menjadi pembangkang. Ia menuduhku telah merebut anaknya. anak satu-satunya.
"Apa istri kamu? Dia yang menyebabkan semuanya. Dia yang tidak mau bercerai dari kamu. Kamu lupa, apa yang dia lakukan sama kamu, dia meninggalkanmu saat kamu sudah memberikan dia ginjalmu. Dia bahkan meminta cerai dari kamu, nak! Mama gak terima kamu diperlakukan seperti itu." Ucap Ratih penuh amarah menunjuk-nunjuk padaku.
"Ma sudah ma, cukup sudah. Mama bisa sakit kalau seperti ini. Semua sudah berlalu ma, aku baik-baik saja." Ucap Dino memeluk ibunya. Aku tahu dia ada dalam sebuah dilema besar. Aku tahu itu, dilema ini di sebabkan oleh diriku, aku yang dulu terikat oleh masa lalu.
"Ma, Naomi tetap tinggal bersamaku dan anak-anak. Aku minta mama bisa menerima keputusan ini." Ucapnya
"Dino!" Teriak Ratih.
"Ma, aku menyampaikan keputusanku. Mama tahu aku tidak akan pernah berubah." Ucapnya tegas.
Dino menggandeng tangan Naomi dan mengajak anak-anak masuk ke dalam. Suasana mewah dan elegan menyambut Naomi. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di rumah itu. Rumah yang pernah menyambutnya sebagai menantu Bratayudha.
"Domi, sementara kamu tidur dengan Milka. Papa akan dekorasi kamar kamu lebih dulu." Ucapnya. Ia lalu mengendong Domi menuju kamar yang akan menjadi miliknya. Ia lalu mengajaknya kesebuah kamar yang berada di ujung lorong tepat di sebelah kamar bertuliskan kamar Milka.
"Dino.." Panggil Naomi. "Ini kamar Milka, adik kamu?" Tanya Naomi. Dino mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menawarkan Naomi untuk membuka pintu itu setelah ia memperlihatkan kamar Domi.
"Kamu mau liat, coba kamu buka..." Ucapnya menawarkan kunci itu pada Naomi.
"Boleh aku buka?" Balasnya. Ia menganggukkan kepalanya. Naomi membuka pintu itu dan teringat moment-moment nya bersama Milka, adik Dino. "Milka suka sekali warna pink." celetuknya.
"Sama seperti Milka, kecil kita." Ucap Dino tiba -tiba memeluknya. Pelukan itu sangat hangat, ia mengecup leher Naomi lembut.
"Setiap kali aku masuk ke kamar ini, aku punya keyakinan kita akan kembali kesini sama-sama." Ucapnya membuat Naomi tersentuh. "Seperti aku yakin, kalau kamu adalah jodohku, Naomi pasti akan kembali pada Dino Bratayudha."
"Kenapa kamu punya keyakinan itu?" Ucapnya.
"Dulu Tante Dina pernah bilang ke aku. Waktu pertama kali aku melihat kamu bersama Gilang. Tante Dina memergoki aku sedang minum bir dan hampir mabuk. Di saat itu, ia bilang cinta yang sesungguhnya adalah saat kita bisa menjalin cinta tanpa memberatkan salah satu pihak. Semakin dipegang erat, kemungkinan berpisah akan semakin besar. Tante Dina, bilang aku harus bisa memberi kamu ruang, jika kamu memang jodohku kamu akan selalu berjalan kearah ku. Dulu, aku salah, kesalahanku adalah bersikap egois menginginkanmu tetap di sampingku dengan cara yang salah. Aku tidak pernah mau menyelesaikan masalah kita. Aku juga ada andil salah. Maafin aku ya Naomi. Aku pernah mencoba menutupi kenyataan bahwa aku adalah orang yang.."
Dino menutup matanya. Tangan Naomi melingkar di lehernya dan bibir mereka saling bertautan. Dino kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naomi. "I hope it's not a dream." Ucap Naomi.
"It's real.." Dino mengecupnya lagi dan lagi. "I want to have a baby twin." Bisiknya meledek. "Auuu! Sakit Naomi kenapa di cubit." Keluhnya
"What! You never changed! Kita udah punya Domi dan Milka." Ucapnya sambil mencubit perut Dino. "Kamu membesarkan Domi sendirian dan aku membesarkan Milka juga, da aku akan menghukum kamu karena membuat Domi baru ketemu ayahnya setelah sekian tahun." Dino langsung mengendong Naomi di depannya.
"Mau dikamar ini atau di kamar kita?" Tanya Dino membuat Naomi malu..
"Kamulah yang sulit dihubungi.." Dino langsung tersenyum mendengar itu. Ini hanya alasan Naomi untuk menghindar, ia merasa istrinya itu sangat menggemaskan. Dia jadi ingat dulu waktu SMA, Naomi selalu mencari alasan ketika ketahuan dirinya sedang mengintip di kelasnya.
Throwback ke moment itu,
Naomi berjalan pelan-pelan sambil berjinjit. Ia menoleh ke depan, samping dan belakang sambil membawa buku untuk menutupi setengah mukanya. Ia lalu mulai mengintip melalui jendela ke dalam kelas IPA unggulan, kelas Dino. Sangking tingginya jendela itu, ia sampai harus menaiki bangku agar matanya bisa sampai di jendela tersebut.
"Mana sih Dino!" Ucapnya kesal karena tak menemukan kekasihnya.
"Pasal ketertiban siswa, dilarang mengintip kelas lain." Teriak seseorang di belakangnya.
"Maaf ... maaf saya cuman mau ngeliat teman aja." Jawabnya ketakutan, kakinya gemetar sangking takutnya untuk berbalik arah. "Pa... maaf..." Tambahnya ia berniat berbalik namun tak sengaja terjatuh dari bangku itu.
"Bapak? emangnya aku setua itu, Nom?" Ucap Dino mengendong Naomi di depannya. "Oh jadi nyari siapa, Aku kira nyariin aku." Balas Dino sambil menurunkan Naomi.
"Bukanlah ... Orang kamu ..." Naomi mencari alasan.
"Aku kenapa?" Dino mencubit hidung Naomi. "Selalu mencari alasan, sudah kembali ke kelas bukannya ada ulangan Matematika. Aku lihat Pak Surya sudah menuju ke ruangmu."
Naomi terkejut. Ahhh! Sial! Aku baru ingat. Naomi spontan menepuk dahinya membuat Dino tertawa, kenapa dipukul? tanyanya.
"Dino, aku duluan..." Ucapnya lalu berlari.
"Naomi .. kamu pasti bisa.." Ucap Dino menyemangatinya.
"Iya bisa ... remedial.." Ledek teman-temannya.
"Hey! Dia itu pacar aku. Kalian dilarang melihat tugasku selama sebulan." Hukum Dino menyebabkan teman-temannya kelabakan.
Dino tersenyum mengingat kejadian itu. Ia memeluk Naomi dari belakang. "Nomi, please don't leave me." Suasana menjadi romantis. Naomi menutup matanya, "Dino kamu adalah cahaya di saat masa gelap ku." Balasnya
Seperti biasa Dino kembali menjahili Naomi, di memegang lemak di perut Naomi. "Udah mulai nih.." Naomi langsung membuka matanya di mencubit tangan Dino.
"Dino kamu kebiasaan ya.."
"Nom, aku akan kasih kamu kebahagiaan malam ini..." Balasnya membuat Naomi semakin malu.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka,
"Papa ... Mama...." Domi dan Milka langsung memeluk Dino dan mengatakan mereka juga ingin di gendong oleh ayahnya.
"Domi, Milka ... kalian ..."
"Kita mau ikut main..."
"Main ... " Jawab Dino heran.
"Iya .. mama papa lagi main polisi maling. Kalian tahu gak ?" Dino langsung melirik padanya. Dia memberikan kode melalui matanya.
"Dino turunin aku, liat itu anak-anak pada ngeliatin."
"Naomi! Kita lagi gak main ..." Ia terpaksa menurunkan Naomi.
"Main-main ..polisi tidur. Papa yang jaga ya, sini Domi, Milka dekat mama." Meskipun kesal mereka tetap bermain dengan keluarga kecilnya.
"Ayo! Kena ini Milka..." Ucap Dino tertawa lebar.
"Bu, bibi senang. Den Dino bisa tertawa lebar seperti itu..."
"Dia tidak akan pernah menjadi menantuku.." Ucap Ratih meninggalkan mereka. Jika Dino bisa menerimamu tidak dengan aku. Aku akan membuatmu hengkang dari sini. Takkan aku biarkan kamu menyakiti anakku, Naomi.