
Naomi berjalan di sebuah jalan penuh pepohonan. Suasana di sana gelap, "Dino... Milka ... Domi ... kalian dimana?" Ia terus berjalan menelusuri semak-semak menjulang tinggi. Dimana ini? Mengapa tempatnya begitu gelap. Dimana Dino, aku mendengar suaranya tapi tidak bisa menemukannya. Dimana mereka, Dino .... aku takut. Aku berjalan dan melihat seorang wanita. Dia sedang merangkul tangan anak-anaknya. Dia lalu, membalikan badannya lalu tersenyum nyinyir padanya. "Mereka akan menjadi milikku, mereka semua .. termasuk Dino." Teriaknya lalu tertawa seperti orang gila. "Jangan! Jangan! Jangan!" teriaknya.
"Tidak!" Naomi berteriak-teriak tangannya terus mencoba meraih sesuatu. "Jangan! Jangan! Jangan! Dino .. jangan tinggalkan aku." Dia terus berteriak sambil menggerakkan tangannya.
"Naomi, bangun Nom. It's me. I'm here." Ucap Dino mengelus rambut Naomi. Ia memegang tangan Naomi. "Nom, wake up!" ia terus mengelus rambut Naomi. Naomi membuka matanya, ia menangis. Ia ketakutan gelisah dan cemas. Ia menatap nanar pada Dino. "Dino" menangis sambil berusaha memeluknya. "What's wrong Nom? Are you having a nightmare? tell me, it's ok, we are here for you." kata-katanya bisa membuat Naomi tenang.
"where is it?" Tanyanya. Ia melihat sekelilingnya asing. "You are in the hospital, you fainted in The Park, did you remember? Do you feel uncomfortable?"
"It's ok, it's better." Balas Naomi. Aku pingsan, aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Terakhir kali, aku ingin memberi minuman kepada Mama Ratih. Setelah itu, aku merasa sesak. Iya! Aku ingat, aku melihat seseorang mengeluarkan pisau dan mengarahkannya padaku. Betul! Aku yakin itu. Mungkinkah dia juga yang ada di mimpiku?
"Bagaimana Bu Naomi, semua hasil pemeriksaan baik. Tidak ada yang perlu dikuatirkan." Ucap Dokter segera memberikan izin Naomi untuk meninggalkan Rumah Sakit. Semenjak ia sadar Naomi jadi suka melamun, dia selalu memikirkan orang itu, siapa dan mengapa dia mengarahkan pisau itu. Ia tidak menghiraukan apa yang di katakan Dino padanya. Naomi seperti punya dunianya sendiri, "Naomi Bratayudha!" Panggil Dino,
"Kenapa kamu diam aja. Malam ini kamu mau makan apa? Mama juga hari ini keluar dari rumah sakit. Kita harus rayakan ini, mama udah terima kamu lagi jadi menantunya." Ucap Dino memeluk Naomi. "Kamu gak perlu kuatir lagi. Kita lupakan saja masa lalu. Kita sekarang harus selalu bersama."
"Dino, it's real." Dia masih terharu dan tak percaya perjuangannya bersabar selama ini ada hasilnya. "Iya, Naomi. Mulai sekarang aku akan lindungi kamu. Kita belajar dari kesalahan kita. Nom, ada sesuatu yang mau aku sampaikan padamu. Aku gak mau menutupinya dari kamu." Ucapnya. Ia memeluk Naomi dengan erat sehingga wanita itu bisa merasa nyaman.
Meskipun begitu, Naomi tetap saja gelisah. Dia bahkan tidak tahu mengapa dia begitu gelisah belakangan ini. "Aku gak tahu kenapa, aku begitu gelisah." kesahnya dalam hati. Hari berganti hari, Dino, Naomi dan Ratih tinggal di satu rumah. Ratih mulai menerima Naomi, ia selalu meminta menantunya untuk menemaninya. Mereka sering sekali belanja bersama, Ratih berubah menjadi ibu mertua yang royal. Ia selalu memanjakan Naomi. Sebaliknya, Naomi juga menjaga mertuanya dengan baik. Semua terlihat baik-baik saja dan cukup membuat Dino lega hati.
"Dino, om mau bicara sama kamu bisa?" Togaya mencegat Dino setelah ia keluar dari ruang meeting. Togaya ingin menghabiskan waktu siang sambil berbincang santai dengan Dino.
"Om juga ada andil bukan cuman aku. Perusahaan aku dengan Alvin berjalan lancar. Dia yang kelola. Om ada apa?" Dia menanyakan maksud Om Togaya.
"Om, akan langsung to the point. Ini soal mamamu. Om berharap kamu bisa memaafkan mamamu. Om tahu sebenarnya kamu sudah tahu apa yang terjadi." Dino langsung meletakkan gelas tea nya. Dengan tenang ia menanggapinya, "Selama, Mama dan Naomi baik-baik saja, aku bisa memaklumi itu semua."
"Kamu dan Naomi sudah saling kenal sejak umur berapa?" Togaya sedikit penasaran, dia menebak apakah saat pertama kali Togaya melihat Naomi, Dino sudah suka padanya. Dino justru memberikan fakta yang mengejutkan, saat itu mereka sudah berpacaran. Dino memang marah pada Naomi karena dia membela anak itu, saingan beratnya Sammy.
"Om, ingat gak? Setelah hari itu, sekolah harus mengeluarkan seorang anak karena berantem sama aku. Dia adalah Sammy, orang yang di bela Naomi saat itu." Dino mengatakannya dengan malu, ia tertawa sendiri mengingat saat itu. Ia sadar terlalu pencemburu dan bucin pada Naomi. "Wow! Keponakan om yang satu ini, pangeran sekolah ternyata bucin sama cewek unik. Om ingat Naomi kalau ke sekolah selalu pake kaos kaki sampai lutut, rambut di kepang lalu di beri hiasan tali warna-warni. iyakan?"
"Iya ...iya om betul." Dino ikut tertawa mengingatnya. "Gak nyangka gadis unik itu bisa buat kamu bertindak sampai sejauh ini. Gadis yang bisa dibilang culun, jadi istri seorang Dino Bratayudha."
"Berapa lama kamu pacaran sama dia?"
"hampir 14 tahun." Togaya heran mendengarnya, bisa-bisanya Dino sabar dan tahan selama 14 tahun. Padahal dia juga tipe yang mudah bosan.
Aku lega mereka sudah berbaikan.