
"Domi..." Naomi berteriak histeris ketika ia mendapati Domi tidak ada di rumah. Ia mencari Domi kemana-mana tapi tidak ditemukan. "Domi, kamu dimana?" Teriaknya, bahkan satu kampung mencarinya.
"Kita pasti menemukannya." Ucap Gilang.
"Gilang, dimana Domi?" Tanya Naomi lemas. Ia sudah mencari sampai ke seluruh tempat tanpa alas kaki. Kakinya terluka tapi ia tidak memperdulikannya. Panasnya jalanan tetap ia terjang demi mencari Domi. Ia terus mencari sampai rasanya mau gila. "Domi, sayang kamu dimana? Jangan tinggalkan mama nak..." Ucapnya terus sementara Gilang terus mendampingi Naomi.
"Aku gak mau kehilangan Domi. ia satu-satunya yang ku miliki dari Dino sekarang. Aku cuman mau dia. Gilang tolong bantu aku." Pinta Naomi di pelukan Gilang, ia sudah lemas dan tidak bertenaga lagi untuk berjalan. Teriknya matahari membuatnya semakin tak karuan. "Di-no, anak ki-ta..." Naomi hilang dalam ketidaksadaran.
Sementara itu, Dino masih terpikirkan kata-kata Ratih padanya ketika mereka berdebat soal Naomi saat itu. Di tangannya ia memegang ponsel lamanya.
"Dino, buat apa kamu memperdebatkan hal ini dengan Om Togaya?"
"Ma, aku perlu tahu... Oma Murni bilang Naomi pernah datang ke rumah kita saat dia mengandung tapi kenapa gak ada yang bilang sama aku?" Tanya Dino emosi
"Sudah - sudah Dino bukannya kamu yang bilang tidak ingin bertemu dengan Naomi?" Balas Ratih. "Ma, kalau aku tahu dia mengandung anakku? Aku gak mungkin ninggalin dia, aku gak sejahat itu ma..." Jawab Dino, ia tak percaya ucapan Ratih seakan menyalahkan dirinya.
"Ma .. kalau aku tahu, dia mengandung anakku. Aku gak akan biarkan dia sendirian. Aku masih mencintai Naomi..." Ucapnya.
Plaaaakkkkk! Terdengar suara tamparan di ruangan itu. Ratih menampar Dino, ia tak ingin mendengar nama itu lagi. "Mama gak mau mendengar nama itu lagi di rumah ini. Kalau sampai mama dengar lagi, Domi gak akan mama izinkan tinggal di sini."
"Dia cucu mama juga... aku ayahnya.." semua pembicaraan ini terdengar oleh Samantha. "Dino, apa yang aku dengar gak betul kan? Kamu tunangan aku tapi mencintai wanita lain."
Dino menghela napasnya, Ia menatap Samantha. "Iya... Naomi adalah wanita yang sampai saat ini aku cintai. Ibunya Milka dan Domi, kamu udah tahu itu kan?" ucapan itu menusuk hatinya. Meskipun, Samantha tahu kebenarannya tapi ia tetaplah seorang wanita yang mencintai Dino sejak dulu. Ratih ingin menampar Dino lagi tapi kali ini dia coba menahannya. "Tampar Dino lagi... Tampar lagi ..."
"Dino, tapi juga melahirkan Milka. Dia juga anakku." Balas Samantha.
"Samantha, aku tidak akan membohongimu. Aku tidak mencintaimu."
"Tapi cukup aku yang bertahan. Aku mencintaimu. Aku gak mau putus." Ucap Samantha bersikeras atas hubungan pertunangannya namun Dino memilih pergi tak ingin melanjutkan perdebatan ini.
Dino terus memutar ponsel di tangannya. Ia duduk dengan relax. Ia ingin relax sejenak agar bisa berpikir dengan jernih. "Papa...." Milka masuk keruangan dan duduk di pangkuannya. "Papa ... Have you eaten lunch?" Tanyanya polos. Dia lalu memberikan sandwich buatan Ratih dan meminta Dino untuk makan. "This is for me? Thank you Milka, Where is yours?"
"Papa, I' have had lunch." Jawabnya. "Oh, thank you so much." Dino memakan sesuap demi sesuap sandwich yang dibawanya. Selama bersamanya, ia juga bermain bersama Milka dan mengajarinya menggambar. Milka cepat bosan jika menggambar sama seperti Naomi yang susah sekali diajari hal yang sama. Dino ingat moment ketika, Ia mengajari Naomi menggambar. Naomi selalu banyak alasan menghindar dan kabur ke ruang seni untuk belajar ballet.
Seminggu setelah kejadian itu, Naomi datang dengan sedih ke ruang OSIS tepat setelah Dino selesai rapat. Ia lalu menunjukkan kertas ulangannya yang jelek, dengan nilai lebih rendah lagi. "Aku mau belajar melukis." Ucapnya bersedih. "Betul, mau belajar? Tidak akan kabur lagi?" Ledek Dino sambil membereskan meja rapat.
"Bener, gak akan kabur lagi." Ia menjawab dengan ekspresi sedih. Dino melirik sedikit pada Naomi dan tersenyum geli melihat kekasihnya itu. "Yaudah ayoo... Ikut aku belajar." Ajak Dino.
"Beneran belajar lukis?" Tanya Naomi, ia merasa Dino tak akan berbaik hati lagi padanya. Ia akhirnya mengikuti Dino sambil menunduk, seakan tangannya sedang terikat dengan tali panjang yang ditarik oleh Dino.
Sepertinya, jalan ini tidak asing. Dino mau kemana sih? Ini bukannya mau ke ruang Seni?
"Kenapa familiar sama ruangan ini?" Tanya Dino sambil berjalan membelakanginya. Ia lalu membuka ruangan seni. "Ayo masuk." Ajaknya. Dino lalu memanggilnya dengan tangannya, menyuruhnya kemari. "Dino kamu ngapain ke sini. Aku gak akan kabur lagi kok." Tanya masih menunduk di depan Dino. Namun Dino hanya tersenyum. Dia lalu menarik kunciran rambut Naomi.
"Kamu lebih cantik ketika rambutmu di gerai. Kamu pake make up?" Naomi terdiam dengan kata-katanya. Jarang sekali Dino memujinya, ia seperti robot dingin yang tak pernah romantis.
"Kenapa diam aja." Dino lalu menggendongnya duduk diatas bangku tinggi." Naomi masih terdiam menatap Dino seakan tidak percaya. Dino lalu mendekat dan memainkan hidungnya dengan hidung Naomi. Kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri gadis itu.
"Mulai hari ini kamu gak perlu belajar lagi soal melukis. Lakukan apapun yang kamu mau. Aku akan melukismu." Ucapnya lalu mengecup bibir Naomi lembut.
"Kamu gak harus pintar eksakta yang penting kamu harus lulus. Mana mungkin ballerina gak lulus SMA." Ledek Dino lagi. Ia lalu memberikan lukisan Naomi yang di gambarnya ketika ia sedang berlatih. "Nomi, aku selalu mendukungmu."
Ia lalu menghapus make up di leher Naomi, "Begini kamu lebih cantik, aku gak malu kok." Dino lalu memasangkan sepatu ballet yang dia beli kemarin. "Aku gak tahu ini muat atau tidak. Aku gak terlalu paham. Kamu duduk di sini. Aku mau melukis kamu." Dino lalu beranjak dari Naomi yang masih tertegun melihatnya. Dino lalu mengatur posisi dimana ia harus meletakkan canvasnya. "Ok, Naomi. Aku mulai ya." Teriak Dino.
Naomi langsung turun dan berlari kearah Dino. "I love you..." Ia mencium Dino dengan lembut. Ia duduk di pangkuan Dino membuat papan warnanya jatuh. Ciuman itu sangat indah. Dino sangat mencintai Naomi.
Sekarang ia hanya bisa tertawa mengenangnya. Melihat Milka versi Naomi kecil. "Kamu bosan?" tanya Dino melihat gambar Milka yang tidak karuan. "Papa, i don't like drawing. Aku mau latihan ballet." Ucapnya. "Ok, tapi kemarin kata Oma gak tempat yang cocok sama kamu."
"Milka mau mama latih aku." Jawabnya membuat Dino tersenyum.
Dino, kenapa kamu harus marah dan kecewa? Mengapa harus menyalahkan keadaan ini? Kalau bukan karena hal ini, kamu tidak akan memiliki Milka. Milka malaikat kecil yang membuatmu bertahan. Dia juga anakmu dengan Naomi. Ini saatnya aku mencintai kedua anakku.
"Bagaimana kalau kita nonton ballet?" Ucap Sang ayah. "Ayah dengar akan ada pertunjukan swan like" Tambahnya membuat Milka kesenangan. Mereka kembali berpelukan. Dino begitu gemas dengan Milka yang imut dan selalu ceria.