
Setiap hari Dino selalu menunggu Naomi. Ia mulai beraktivitas dari rumah, dia mulai menggambar lagi menggunakan kanvas dan melakukan meeting via daring. Setiap malam, ia selalu melihat bintang sambil meminum segelas coklat hangat. Aktivitas yang padat membuat hari berlalu dengan cepat.
"Bi, apakah hari ini Naomi sudah pulang?" Tanyanya kepada Bi Minah.
"Kamu pulang kerja, bukannya istirahat dulu langsung tanya Naomi." Ucap Ratih.
"Ma, mau kemana?" Tanya Dino menaiki anak tangga untuk memeluk sang ibu yang sudah siap dengan koper dan tas di tangannya.
"Gimana sibuk di kantor?" Tanya Ratih. Namun Dino hanya tersenyum, "Di kantor pernah ma gak sibuk?" Ledeknya kepada Sang Bunda.
"Mama ada urusan di Singapore. Minggu depan mama balik tapi langsung ke Jakarta, kurang lebih 2-3 Minggu di sana." Ucapnya tak rela meninggalkannya sendirian.
"It's ok mom." Membalas pelukan Sang Bunda. "Have fun." Tambahnya lalu membantu Sang Bunda. "Aku antar Mom."
"Gak perlu sayang, kamu istirahat di rumah. Biar Pak Beben yang mengantar mama."
"See you, Mom" Ucapnya melambaikan tangan sebelum mobil Maybach hitam mengantarkan Sang Ibu.
"Bi, aku langsung ke kamar. Kebetulan aku sudah makan dengan klien tadi."
"Baik Den Dino." Balas Bi Minah menutup semua pintu. Ia juga bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Dino.
Di kamarnya, ia membuka sebuah lukisan yang dibuatnya. Setengah dari lukisan itu tertutupi oleh kain. Ia mulai mengeluarkan cat dan mencampurkan beberapa warna menjadi satu. Sedikit demi sedikit, ia menggoreskan cat itu di atas canvas yang kosong. Ia tenggelam dalam dunianya, ia tidak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 dan sudah seharusnya dia mengirimkan design yang sudah di approval kepada timnya.
"Vin, sorry. Aku akan kirim secepatnya." Ucapnya terburu-buru setelah Alvin menghubunginya dan menanyakan dokumen approval itu. "Dimana ya kunci mobil ku, seharusnya ada disekitar sini." Ia kebingungan mencari dimana letak kuncinya. Ia mencoba menghubungi Bi Minah dan menanyakannya karena dokumen itu berada di mobilnya. Ia kemudian turun ke lantai satu, "Pak Maman!" Panggilnya kepada salah satu penjaga kebun yang tinggal di sini.
"Kemana sih! Pak Maman juga gak ada." Dino terus mencari kunci itu ke sela-sela dan sudut-sudut rumah. Ia lupa dimana menaruhnya dan biasanya Bi Minah atau mamanya yang akan menyimpannya.
"Kamu mencari ini?" Ucap seseorang yang membuat jantung Dino berdebar. "Naomi" Balasnya. "Akhirnya, kamu pulang Nom."
Aku yakin dia pasti kembali, aku percaya itu. Dino berlari dan memeluk Naomi. "Sambil menitihkan air mata ia memeluk sang istri. Suatu ganjalan dalam hatinya hilang, ia sangat bahagia. Dino memeluk Naomi dengan erat dan menciuminya. "Nom, aku kangen banget sama kamu. Aku sangat bahagia kamu ada disini." Ucapnya meski Naomi hanya diam saja.
"Nom, aku tahu kamu gak akan mengorbankan cinta kita. Nom, I love you." Ia bicara melalui matanya yang tulus dan gesture tubuhnya. Ia terus memeluknya tak ingin Naomi pergi lagi. "Nom, why?" Ia bertanya setelah Naomi dengan perlahan mendorong tubuhnya menjauh. Naomi lalu melepaskan tangannya dari pinggang Dino. Ia menghapus air matanya.
"Nomi, kenapa kamu nangis?" Dino ingin menyeka namun Naomi menghalanginya. Naomi lalu mencium bibirnya dengan hangat, "Kamu pernah janji sama aku akan melakukan apapun. Apa itu masih berlaku?" Tanyanya.
"I will do everything for you, Naomi." Mereka saling bertatapan satu sama lain. Mata Dino yang hangat, membuat air mata Naomi kembali menetes di kedua pipinya.
"Aku datang kesini hanya mau memintakan tanda tangan kamu di surat ini." Ia lalu menyodorkan amplop Coklat itu.
Naomi hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan itu. "Naomi jawab. Nino yang mengajukan ini?" Tanya Dino, ia mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya sakit, ia ingin marah namun tak bisa. Ia tak punya tenaga lagi untuk bertengkar. Ia hanya menatap Naomi yang tak pernah mau menatapnya. Kesal, ia membanting surat itu. Ia memaksa Naomi menatapnya.
"Kenapa Naomi? Kamu bilang, kamu cinta aku! Kamu ngelakuin semuanya untuk aku. Kamu berusaha untuk kuliah di Inggris bersama aku. Kamu belajar berkuda, supaya papa aku mau terima kamu." Dino menghentikan perkataannya. Ia ingin mengumpulkan tenaganya lagi. Ia tak sanggup bicara lagi. "Tapi kenapa? Setelah kamu mendapatkan semuanya, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini."
"Karena kamu dan seluruh keluarga Bratayudha telah menghancurkan keluarga aku dan membuatku menderita. Kalau aku tahu, gak akan pernah ada kita!" Balas Naomi sambil menangis.
"Berhenti menangis. Aku gak mau kamu menangis!" Dino tak ingin Naomi menangis karena baginya Milka juga menangis. Mata Naomi adalah mata Milka. Rasa sakit menatap kedua mata itu berkali lipat bagi Dino. "Kamu yakin gak akan jatuh cinta sama aku? Kamu menyukai aku sejak pertama kali kita bertemu. Kamu yang mengajak aku pacaran duluan. You love me!" Ucap Dino membuat Naomi semakin tersiksa. Ia menutup telinganya rapat-rapat tak ingin mendengar hal itu.
"Kamu menandatangani surat operasi pengangkatan rahim itu. Kamu tahu aku akan sulit untuk punya anak! Aku benci kamu! Aku benci kamu."
"Naomi itu semua demi keselamatanmu. Aku melakukannya demi kamu." Dino berusaha menjelaskan semuanya namun Naomi sudah tidak mau dengar. "Bohong! Kamu mau membalas dendam padaku, kamu mau menghancurkan hidupku seperti ayahmu menghancurkan hidup kakakku."
Omongan Naomi semakin tak masuk akal bagi Dino. Seberapapun ia berusaha Naomi tidak akan pernah mau mendengarkannya. "Karena kamu benci sama aku, maka hatimu juga sudah tertutup." Ucap Dino.
"Apapun yang terjadi tidak akan ada perceraian. Dino merobek surat itu di depan Naomi dan membuangnya ke tempat sampah. "Sebaiknya kamu pergi." Usir Dino.
"Dino, please mari kita akhiri penderitaan ini. Aku mau tenang. Aku mau hidup aku yang dulu. This is what I need, Dino. Aku ingin lepas dari kenangan buruk ini." Ucapnya sambil memeluk Dino dari belakang. "Hidup sebelum mengenalmu." Naomi memeluknya semakin erat.
Hidup sebelum mengenalku? Kapan Naomi, kamu bahkan mengenalmu sejak kita kecil.
"Dengan perceraian?" Ucapnya lusuh. Ia menghapus air matanya. "Apa ini benar-benar dari hati kamu?" Tanyanya lagi.
"Aku yang mengajukan perceraian itu bukan Nino." Kalimat ini semakin menyakiti Dino. Ia tak sanggup menerima kenyataan ini tapi dirinya sudah mencapai batas. "Baiklah, mari kita bercerai." Ucapnya.
Naomi tertegun mendengarnya, ia menangis sejadi-jadinya, "Tapi aku punya satu syarat." Ucap Dino menatap wajahnya.
"Apa?"
"Bagaimana jika diriku bilang, aku menginginkanmu. I want you." Ucapnya. Naomi menunjuk dirinya. "Aku..."
"Tetaplah disitu." Dino lalu berjalan menujunya menariknya dalam peluknya dan mencium bibirnya, mengecup setiap inchi tubuhnya. Ia memberikan Naomi kehangatan yang tak terlupakan.
Setelah menghabiskan waktu bersama Naomi, Dino terlihat keluar dari kamar dengan mengunakan kemeja profesional sambil membawa koper di tangannya. Sementara Naomi masih tertidur pulas. Di atas meja rias, Dino meletakkan surat cerai itu lengkap dengan tanda tangan dan surat yang ditulisnya. "Semoga kamu bahagia, Naomi."
Nomi aku akan belajar melepaskan mu, aku pasti bisa melakukannya. Dino dalam penerbangan menuju San Fransisco.
Pada akhirnya perpisahan itu tak terelakkan. Aku sudah berusaha tapi aku lebih butuh kebahagiaanmu.