
Apa mungkin orang yang datang itu adalah Naomi, dan bagaimana keadaan anak itu? Mengapa aku tidak bisa melupakannya? Mengapa wajahnya selalu terngiang-ngiang di dalam pikiranku? Wajahnya tidak asing tapi siapa? Usia anak itu seharusnya sama dengan Milka.
Wajah Domi selalu terngiang-ngiang di dalam benaknya. Entah mengapa Dino selalu saja mengingatnya.
"Dino, semua udah siap kita berangkat sekarang?" Tanya Reihan.
"Ok, aku akan segera ke parkiran." Balas Dino.
Kedua sedang dalam perjalanan menuju ke Bogor. Dino akan menangani proyek pembangunan mall di sana. Mall ini adalah mimpi besar ayahnya. Banyak hal yang mereka bicarakan selama di perjalanan termasuk salah satunya adalah mengenang masa lalu saat mereka masih SMA. "Reihan, Bogor sudah banyak berubah." Ucap Dino.
"Reihan, sepertinya ada yang mau kamu tanya kan dari dulu, ada apa? Katakan saja kita hanya berdua sekarang." Ceplos Dino pada Reihan.
"Dino, aku penasaran soal ini dari dulu. Siapa ibu kandung Milka? Apakah kamu menikah diam-diam selama di San Francisco?"
"Reihan, dia itu anak aku. Siapa ibunya cukup aku yang tahu." Balas Dino santai, ia terus memandangi design mall melalui Ipad-nya.
"Saat Lo pindah, Naomi datang ke kantor dan mencari mu." Ucapan Reihan membuat Dino menoleh. Lalu tanya Dino pada Reihan. "Aku gak kasih tahu dia soal kamu." Balasnya lagi.
"Ya Sudah, clear kan. Naomi pasti sudah punya hidup yang baru. Bersamaku dia tidak akan bahagia, buat apa aku paksa." Tambahnya cuek dengan masalah itu. Ia tak ingin mengungkitnya, tak ingin juga membukanya. "Aku tak ingin membahas Naomi lagi. Please jangan bahas apapun lagi."
Kalimat itu membuat Reihan terdiam, ia tak berani membuka pembicaraan lagi tentang Naomi ataupun masa lalunya. Dino juga terdiam dalam situasi ini, ia sangat terganggu dengan pembicaraan Reihan tadi. Tapi, dalam hatinya ia sangat menghawatirkan Naomi. Terutama bagaimana hidupnya sekarang.
"Selamat datang! Pak Reihan, Pak Dino." Sapa penanggung jawab proyek itu. Ini kali pertama ia bertemu langsung dengan Dino. Sementara ini adalah kunjungan yang kedua bagi Reihan.
"Terima kasih, Pak Andi. Saya sudah banyak dengar tentang bapak dan team. Team yang sangat baik. Salam kenal semuanya. Saya, Dino Bratayudha." Ucapnya memperkenalkan diri kepada semua karyawan di situ. Tak sedikit karyawan wanita yang langsung terpesona dengannya. Ia sangat ramah dan juga berkarisma. Semua wanita mulai membicarakannya, dan bermimpi bisa menikahinya.
"Pak, bagian ini kapan di perkirakan akan rampung?" Tanya Dino.
"Secepatnya, kurang lebih 3-4 Minggu." Ucap Andi gemetar, pasalnya dari awal hingga sekarang, Dino banyak mencecar pertanyaan yang sulit terkait proyek ini. Ditambah lagi pengalaman Dino yang sangat detail dan cepat. Setelah mendapatkan jawaban memuaskan, Dino barulah akan berpindah lokasi jika tidak ia akan terus menerus mengali informasi. "Ok, kita lanjut ke sebelah sana."
Kesibukan Dino menjadi satu-satunya cara dia untuk melupakan masalahnya sejenak. Tenggelam dalam kesibukannya tak jauh dari lokasinya seorang wanita sedang mengoes sepeda menuju lokasi pembangunan dengan rok panjang sambil membawa kotak kue yang besar. Sambil mendengarkan musik dengan earphone nya dengan bunga mawar di keranjang depannya. Ia terus bersenandung, sambil menyapa orang-orang yang di lewatinya.
"Hati-hati, mba Naomi." Ucap berapa orang.
"Baik Bu.." Teriaknya membalas. Ia terus mengoes sampai di lokasi pembangunan. "Akhirnya sampai juga." Ucapnya menurunkan standar sepedanya dan membawa kotak kue itu, Roti Nomi sudah tiba! Teriaknya membuyarkan konsentrasi seluruh pekerja yang sudah menunggu roti buatannya.
"Akhirnya datang juga, Mbak!" Teriak salah satu dari mereka di sana.
"Silahkan mas." Ucap Naomi yang langsung di serbu oleh orang-orang. Ia sangat bahagia melihat banyak yang menyukai kuenya.
"Mbak, hari ini kita kedatangan bos besar. Ganteng banget Mbak. Itu Mbak yang itu." Tunjuk salah satu pekerja di sana. Orang yang ditunjuknya adalah mantan suaminya. Naomi kaget, ia merasakan sesak di dadanya. Ia melihat dengan jelas Dino di depan matanya. Tak jauh darinya, Dino yang ia cari. Berjalan di depannya sambil memegang beberapa kertas gulung. Ia tetap tampan dan tidak berubah seperti dulu saat ia masih menjadi asisten Dino. Setiap kali meninjau proyek, ia pasti selalu membawa Naomi bersamanya. Dino hanya mengizinkan Naomi menyentuh barangnya.
Lelaki itu kini berada di depannya, menggunakan style kasual dengan kemeja biru dan celana jeans coklat. Tangan kemeja di gulungnya hingga ke siku dan ia memakai topi proyek untuk keamanannya. "Dino" Sebutnya pelan.
"Namanya, Pak Dino." Tambah pekerja itu.
"Pak, sudah jam 12 siang. Biasanya kalian makan dimana?" Tanyanya.
"Biasanya kami makan catering Pak. Sebentar lagi datang, tapi di jam 11 kami ada Snack kecil. Itu Mbaknya yang membuat Snack untuk pekerja dia juga salah satu office girl disini." Andi coba menjelaskan.
"Ok, boleh saya minta dua untuk saya dan Reihan. Reihan, sini makan dulu." Panggil Dino. Suaranya terdengar jelas di telinga Naomi. Mata wanita itu mulai berkaca, apalagi saat mendengar Dino datang bersama Reihan.
Jadi selama ini, Reihan tahu keberadaan Dino?
"Mbak tolong antarkan 5 roti kesini ya." Pinta Andi, hal ini membuat masalah besar bagi Naomi. Naomi tak bergeming, membuat Andi akhirnya mengambilnya sendiri. "Mbak tidak apa-apa?" Tanya Andi.
"Saya baik-baik saja." Ucap Naomi sambil melirik kearah Dino yang sudah menerima Rotinya dan memakannya. "Terima kasih." Balas Dino. Ia melihat Dino membuka kuenya, dan mencium aromanya. Ia jadi teringat saat Dino mencoba roti pertamanya. Dino selalu komplain tapi ia adalah pelanggan setianya. Ia mengusap air matanya, ia sangat bahagia bisa melihat Dino lagi. Sampai ia sadar, kini Dino sedang menatapnya dan pergi dari situ.
"Dino, apakah kamu tahu itu buatanku?" Hanya bisa menatap ruangan tempat Dino bekerja.
Sementara di Ruangannya, Dino dengan cepat membuka jendelanya dan menggunakan ponselnya untuk melihat Naomi. "Naomi." Ucapnya sambil memandang roti yang ada ditangannya. Ketika ia menerima roti dan membukanya, Dino langsung bisa mengenali aroma roti tersebut. Ini adalah roti buatan Naomi. Namun, jika ia mengejar Naomi mungkin ia akan pergi dan Dino akan kehilangan jejaknya.
"Naomi, kenapa jadi seperti ini? Apa yang terjadi? Apakah uang dan properti yang ku berikan kurang?" Tanya Dino dalam hatinya, dia juga ingat Andi berkata jika Naomi juga pekerja di proyek. Tempat yang berbahaya bagi seorang perempuan.
"Din, gw cariin. Rotinya enak juga, lembut dan beraroma." Ucap Reihan.
"Ini roti buatan Naomi. Reihan, Lo tunggu sini." Ucap Dino, ia segera bergegas mencari cara untuk bertemu Naomi.
Di sisi lain Naomi tak dapat menghentikan air matanya. Ia bertemu dengan Dino, ayah dari anaknya. Jika Domi ikut dia pasti sangat bahagia.
"Domi, mama ketemu papa kamu, Nak." Ucapnya.
"Papa?" Ucap salah seorang yang suaranya tak asing bagi Naomi. Ia lalu berbalik arah sehingga sepeda itu terlepas dari tangannya.
"Dino." Naomi melihat Dino berdiri di depan pintu masuk proyek. Tubuh Naomi lemas, Dino berjalan mendekatinya dan membantunya membetulkan sepedanya.
"Apa kabar Naomi. Apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku sedang bekerja." Balas Naomi.
"Kenapa harus di proyek ini? Kamu tahu dari awal proyek ini milik Bratayudha Group."
"Dino, kamu apa kabar?" Itulah yang bisa terucap dari Naomi, ia tak bisa menjelaskan alasan utama ia berada disini. "Jangan lagi datang kesini." Tapi Dino dengan dingin meninggalkannya dan memberi perintah untuk melarang Naomi masuk lagi kedalam proyek. Hal ini membuat semua orang kaget dan heran. Ia bahkan tak segan, mengizinkan siapapun yang membantu Naomi untuk keluar dari proyek.
Dino aku menunggu enam tahun untuk hari ini, aku akan berjuang buat Domi, anak kita- Naomi
Naomi, kenapa harus disini? Kalau mama tahu kamu bisa dalam bahaya- Dino