Never Forget

Never Forget
I want you!



Dino mengganti handuk dingin di atas kepala Naomi. Ia memeriksa dahinya, "Suhu tubuh kamu masih tinggi." Dino menyelimuti tubuh Naomi dengan selimut.


"Dino!" Naomi memegang tangan Dino yang sedang mengelap keringat di tubuhnya. "Naomi sudah kamu tidur saja. Aku akan jagain kamu di sini." Ucapnya. Naomi lalu menarik tangan Dino dan menaruhnya di dadanya. "Jantung ini masih berdetak untuk kamu Dino."


"Naomi..." Ia menatap Naomi. Tak sengaja ia melihat bekas luka di perut bagian bawah Naomi. Ia memeluk Naomi, "Aku gak akan pernah meninggalkanmu lagi." Ucapnya menitihkan air mata.


"Janji" Kata Naomi parau. Naomi memeluk tangan Dino lebih erat.


"I Love You, Dino." Ia menarik Dino mendekat padanya. Lalu menempelkan bibirnya di bibir Dino. "Naomi, I will always love you.." Ucapnya haru. Naomi menginginkan janji keliling diantara mereka. "Apa masih butuh, Nom?" Ucapnya menolak tapi Naomi tetap bersih keras untuk mendapatkan janji itu.


"Baiklah Naomi. Aku berjanji." Naomi memeluknya dengan erat. "Naomi, ada yang ingin aku bicarakan. Sesuatu hal yang penting, jadi saat kecelakaan hari itu.. Aku..." Naomi menutup mulutnya rapat-rapat dengan ciuman yang hangat. Naomi tak mau melepaskannya dan ciuman itu semakin dalam. "Naomi hentikan! Kamu harus mendengar ku..." Ucap Dino.


"Apa kamu tidak menginginkanku lagi." Naomi menatap mata Dino intens, ia juga meminta Dino menatapnya saja.


"Naomi, aku tidak pernah berhenti menginginkanmu dalam hidupku." Naomi langsung mendorong Dino sesuai keinginannya.


Setelah memenangkan diri sejenak, Naomi akhirnya kembali ke rumah Pak Rusni untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah di sana. Ia kembali ke dapur dan melihat semua makan siang sudah siap. Pak Rusni dan Bu Dini juga sudah menyiapkan tikar untuk mereka makan bersama. Disini serba sederhana.


"Pak, dimana Dino?" Tanyanya.


Sejak ia kembali, dirinya tak melihat kehadiran Dino. "Mas Dino kembali ke kamarnya, katanya mau beres-beres untuk kembali ke Jakarta. Mobilnya juga sudah di perbaiki, kemarin terselip oleh tanah." Balas Pak Rusni.


"APA!! Kembali ke Jakarta." Naomi berlari menuju kamarnya. Beruntung, ia berpapasan dengan Dino yang membawa tas di tangannya. "Dino, kamu masih marah? Aku minta maaf. Kita mau balik sekarang?"


"Kita, hanya aku Naomi. Kamu di sini saja. Tadi kamu minta aku pergi, aku akan pergi secepatnya." Balas Dino jutek dan ketus, sangat dingin seperti es batu.


"Dino, aku mau ikut ke JAKARTA! Aku mau ketemu sama Milka dan Domi." Pintanya.


"Boleh, tapi kamu pulang sendiri. Aku gak mau semobil dengan orang yang bukan siapa-siapa aku. Ditambah lagi, orang itu sangat tidak bertanggung jawab." Balas Dino membuat Naomi sedih. Dino marah, ia tidak bermaksud membuatnya marah. Ia hanya tidak tahu harus bagaimana. Apakah ia masih pantas mendampingi Dino. Sementara, Dino menderita karena dirinya. Ia kembali teringat perkataan Ratih padanya, pengorbanan Dino untuknya.


Ia melangkahkan kakinya, "Aku pulang!" Ia sengaja berteriak kencang. "Aku mau ke Jakarta." Tambahnya lagi.


"Dino!" Panggil Naomi, inilah reaksi yang diinginkan Dino. "Aku minta maaf, Aku cinta sama kamu. Aku bohong gak mau ketemu kamu lagi. Semalam, aku gak bisa lupa. Semalam aku gila memaksa kamu... Tapi, aku bahagia... Aku hanya merasa, apakah aku masih pantas mendampingi kamu setelah menyakitimu berkali-kali. Aku takut kehilanganmu Dino." Ia mengejar Dino dan memeluknya dari belakang.


Dino tersenyum, ia berhasil membalas Naomi. Meskipun kecil tapi inilah yang ingin dia dapatkan. Naomi jujur padanya. Naomi masih menginginkannya. Melihat Naomi yang merengek padanya, Dino semakin iseng dan mengerjai Naomi. Ia menghempaskan tangan Naomi, "Sudah terlambat, aku tak ingin lagi bersamamu. Aku akan menghubungi Samantha dan memintanya untuk kembali bersamaku. Menjadi ibu dari anakku nantinya."


"Dino! Jangan! Maafin aku." Naomi memeluknya lagi. Setiap kali dihempaskan Dino, ia akan memeluknya lebih erat. "Lepas!" Kata Dino tapi Naomi semakin tidak ingin lepas. "Aku gak akan biarkan kamu kembali sama Samantha." Naomi mengambil ponsel Dino dan melemparkannya ke laut.


"Naomi.." Dino shock dengan apa yang baru terjadi. Naomi melempar ponselnya, "Aku gak akan membiarkan kamu menghubungi Samantha atau siapapun." Ucap Naomi lega, ia menang satu langkah dari Dino.


"Naomi, barusan kamu buang ponsel aku..." Ucapnya shock dan tak percaya dengan tindakan Naomi yang diluar ekspektasinya. Ia hanya bisa tertawa, dan kembali berpura-pura marah pada Naomi. "Gak masalah, ponsel bisa aku beli lagi. Lepasin aku!" Ia menghempaskan tangan Naomi.


"Dino, Jangan! Aku gak mau melepas mu. Aku salah." Ia memeluk Dino dari depan.


"Bukannya kamu tidak menginginkanku lagi?" Ucap Dino.


"Aku sangat menginginkanmu, aku akan melakukan apa aja. Kamu boleh menjitak kepalaku." Naomi memberikan dahinya."Tapi, Jangan keras-keras, eh kalau gak keras pasti kemarahan mu tidak redah. Boleh keras sedikit." Ucapnya memejamkan mata.


"Betul boleh." Tanya Dino menegaskan. Dino menyiapkan tangannya dan langsung menempelkan tiga jarinya di dahi Naomi, iya bersiap menjitak.


"Kamu gak boleh bilang kamu gak pantas jadi istri aku. Gak boleh bilang tidak menginginkanku lagi." Ucapnya memeluk Naomi. "Kamu miliknya Dino." Berbisik membuat Naomi tersenyum bahagia.


"Kamu mau kemana?" Tanya Naomi ketika melihat Dino berjalan menuju mobilnya.


"Aku mau masukin barang. Liat itu di depan kamar, Pak Rusni memberikan banyak oleh-oleh. Jadi ku cicil dikit-dikit. Kamu bantu bawain ya." Ucapnya tersenyum, senyum kemenangan atas Naomi.


"Dino! Kamu ngerjain aku ya!"


"Kalau gak gitu kamu, gak mengakui cinta kamu ke aku." Balas Dino.


"Dino! Awas yaaa....."