
"Baik Bu Ratih, saya akan segera bersiap!" Ungkap Serra dengan patuh. Naomi! Bersiaplah untuk segera angkat kaki dari kehidupan Dino. Sesampainya di Bali, Serra selalu berada di dekat mereka. Bahkan Serra membantu Ratih untuk membuat Naomi terpeleset dan jatuh ke Kolam renang. Semua rencananya berjalan dengan sempurna, ditambah Ratih yang terus menerus mempermudah jalannya. Sampai malam itu, Ia melihat dengan kepalanya sendiri sosok Dino yang sebenarnya, bertapa besar cinta dia pada Naomi yang mampu memberinya kekalahan besar.
"Dan kamu, Ms. Serra. Saya sudah peringatkan kamu tapi kamu tetap mengunakan cara rendahan seperti ini. Saya akan laporkan kamu ke kantor polisi." Ancam Dino. Ia melihat mata Dino, Jangan pernah kamu sentuh Naomi! bisiknya. Dino bukanlah orang sembarangan, ia tidak sepolos yang dilihat. Ia berbahaya, lebih berbahaya dengan kekuasaannya dapat menghancurkan siapapun yang dia inginkan. Aku gak boleh gegabah tapi aku harus menyelamatkan diri. Serra dalam sekejap jatuh dalam ketakutan besar melihat Dino yang terus mengancamnya, dia juga melihat ada Alvin dan juga Togaya berdiri di depan. Akhirnya, dia memilih untuk berkhianat dan lari. Di depan hotel Samantha sudah menunggu memberikannya tiket keluar negeri. "Sementara, waktu kamu harus bersembunyi, Dino pasti akan mencari kamu. Saya kenal Dino, dia pasti dengan mudah menemukanmu di Indonesia." Samantha buru-buru mengantarnya pergi sebelum Dino mencoba mencekalnya. "Naomi mungkin sekarang kamu lolos tapi suatu saat aku akan kembali dan langsung merebut semuanya dari tanganmu." Ucap Samantha.
Tiga bulan berlalu, Serra kembali lagi ke Indonesia setelah hampir tiga bulan harus berpindah-pindah Negera karena Dino. Ia tiba di Indonesia dengan identitas baru, Clara. Sementara Samantha terus memantaunya dari Jauh. "Aku sudah berada di Indonesia. Kapan kita akan menjalankan rencana itu?" Serra sudah tidak tahan. Ia ingin segera menyingkirkan Naomi. "Tenang, waktunya akan segera datang." Samantha menutup teleponnya dengan kesal. Ia lalu melemparkan semua barang di atas meja. "Kenapa Naomi!!! Kamu selalu menang. Kenapa kamu dengan mudah mendapatkan Dino! Dulu, saat aku memiliki Milka dan hampir mendapatkan Dino. Kamu justru memiliki Domi. Sekarang, kamu sedang mengandung anak Dino. Tidak akan aku biarkan. Aku akan mendapatkan Dino!" Samantha merobek foto Naomi. "Aku akan jadi orang yang kaya raya." Tambahnya sepeti orang gila.
"Nomi, baju aku yang biru garis-garis dimana ya?" Tanya Dino setelah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono. "Kamu belum beresin baju aku?" Tambahnya.
"Kamu itu ya.. aku udah bereskan di atas tempat tidur. Kamu nyari di sana gak akan ketemu No." Ungkapnya kesal kepada Dino. "Nom, aku becanda kok." Ucap Dino membujuk. Ia memeluk Naomi dari belakang sambil mengelus perut Naomi yang cukup membesar. Usianya sudah masuk usia 6 bulan. "Aku udah liat makasih ya. Anak-anak sudah siap belum? Aku akan mengantarkan mereka lebih dulu." Ia sudah bersiap.
"Milka, Domi. Kita sarapan yuk." Teriak Bi Minah yang sekarang tinggal bersama dengan mereka. Milka dan Dino semakin pintar dan mandiri. Mereka saling menjaga satu sama lain. Sementara itu, Ratih tinggal sendiri di rumahnya karena Dino dan Naomi memutuskan untuk tinggal di Condominium.
"Kamu udah telpon mama, No? Katanya mereka mau main sama anak-anak. Kapan mama akan datang?"
"Naomi, biar Pak Beben antar anak-anak ke rumah mama." Ucap Dino dingin, "akhir Minggu ini aku akan mengunjungi mama, tolong siapkan makanan ya Nom kalau kamu gak cape." Ia mengakhiri sarapannya dan langsung mengajak anak-anak untuk turun. "No, aku mau ketemu mama." Pinta Naomi. "Nom, aku gak mau bahas hal ini lagi." Ucapnya meninggalkan Naomi bersama anak-anak.
Naomi mengingat pembicaraan terakhir di Rumah Sakit hari itu. "Dino, mama perlu bicara sama kamu." Pinta Ratih. "Dino mama tahu, kamu benci sama mama. Kamu gak mau ngomong sama mama. Mama minta maaf sama kamu, mama gak bisa menutupi kemarahan mama pada Naomi dan keluarganya. Nino adalah penyebab dari penyakit jantung papa kamu. Naomi menyebabkan kamu hanya punya satu ginjal. Dino, mama hanya punya kamu. Mama sudah kehilangan Milka dan papamu. Mama gak mau kehilangan kamu. Dino marah karena Dino gak ada di posisi mama. Jadi, Dino gak tahu!" Ungkap Ratih kesal.
"Dino, mama hanya mau mempertahankan kamu. Kamu sudah terluka, kalau kamu terluka lagi kamu bisa hancur nak." Balas Ratih.
"Ma.. aku ikhlas melakukan semua itu untuk Naomi. Kalaupun aku terluka itu karena apa yang mama lakukan. Mama betul, mama adalah orang yang melahirkan aku tapi dia istri aku. Ibunya Domi dan Milka. Mama tidak mau dipisahkan sama aku tapi mama mau memisahkan anak aku dan ibunya?" Ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. "Ma.. Aku gak mau berdebat lagi. Aku paham dan aku mengerti. Aku gak akan membahas hal ini lagi tapi aku belum bisa menerima perbuatan mama pada Naomi. Naomi sedang hamil ma. Bagaimana kalau kecelakaan kemarin berdampak buruk pada anak aku." Tanyanya. Ratih tak bergeming, "Mulai saat ini, aku putuskan Naomi dan Mama tidak bisa tinggal satu rumah. Aku dan Naomi, akan pindah ke Condominium bersama anak-anak. Seminggu sekali aku dan anak-anak akan mengunjungi Mama tanpa Naomi. Sebaliknya, mama gak perlu datang ke rumah aku. Aku yang akan mengunjungi mama." Dino pergi meninggalkan Ratih.
Dino melihat Naomi sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. "Nom, tugas kamu saat ini menjaga anak kita dan juga anak-anak kamu gak perlu memikirkan lagi soal mama." Ucapnya. Sejak saat itu, Dino tidak pernah membicarakan soal mamanya pada Naomi, ia hanya fokus pada keluarganya. Mereka pergi berlibur hanya berempat terkadang berlima dengan pengasuh Milka dan Dino. Sementara, Ratih hanya tinggal berdua dengan Togaya. Ia merasa kesepian dan hampa tanpa Dino. Rumah yang begitu luas dan besar hanya diisi olehnya seorang diri jika adiknya itu kembali ke Toronto. Bagaimanapun, ia masih memiliki tanggungjawab mengawasi BI cabang Toronto. "Aku merindukan Dino, Togaya." begitupun Dino. "Ma, bagaimana kabar mama? Biasanya malam-malam seperti ini, kita berbincang sambil minum susu jahe buatan mama." Dino melihat Naomi sudah tidur pulas. Ia juga mencoba untuk tidur. Ini adalah keputusan sulit. Tapi ini harus ia ambil.
"Nom, Aku antar mereka dulu baru ke kantor. Oh ya, nanti malam jadwal Konsul kamu ke dokter ya." Tanya Dino
"Kali ini, biarkan anak-anak ikut supaya mereka bisa tahu adik mereka." Pinta Naomi. "Of course! Milka, Domi nanti kalian di jemput Pak Beben langsung ke rumah sakit. Mama dan papa tunggu kalian di sana." Balas Dino sebelum menyantap makan paginya.
Tak sengaja, Naomi menjatuhkan gelas miliknya dan perasaannya tiba-tiba berubah. Muncul perasaan cemas dihatinya. "Are you ok? hati-hati ada pecahan beling." Dino cemas melihat Naomi.
Ada apa ini? Kenapa perasaanku cemas begini?