
Naomi menatap Dino, hatinya masih berdebar setelah Dino bertanya siapa itu Domi. Apakah ini waktu yang tepat untuk memberitahu Dino soal Domi. "Dino, ada yang mau aku bicarakan. Ini penting, jadi selama ini kita ..."
"Den Dino, Milka dan Samantha sudah menunggu di mobil." Ucap Pak Beben tak sengaja memotong pembicaraan mereka berdua.
"Kamu mau pergi? Kemana?"
"Aku ada janji untuk mengajak Milka jalan-jalan dia ke taman bermain dekat sini. Kamu tadi mau bicara apa Pai-jo" Dino kembali membahas kalimat terakhir Naomi yang tidak terselesaikan.
"Tidak jadi Dino." Ia lalu pergi dari ruangan Dino sambil memeluk nampan yang dibawanya.
"Naomi jadi Paijo." Dino tertawa mendengarnya. "Reihan aku mau keluar sebentar mungkin aku akan kembali setelah makan siang." Pesan Dino kepada Reihan.
"Samantha, maaf ya.. aku ada meeting dulu. Milka maafin papa ya.." Peluk Dino di depan Naomi. Naomi merasa hancur melihat Dino dengan keluarga barunya. Keluarga yang seharusnya bisa ia rasakan juga. Sementara saat ini demi bisa dekat dengan Dino, ia bahkan harus menyamar. Mereka bertiga terlihat sangat rukun dan hangat. Setiap hari, Samantha dan Milka selalu datang ke proyek untuk menemani Dino. Samantha juga menjadi teman diskusi Dino, segala hal selalu mereka bicarakan bersama. Tidak ada waktu yang tersisa bagi Naomi.
"Mulai hari ini, Bu Samantha akan menghandle kebutuhan logistik untuk para pekerja, salah satunya makanan. Jika ada hal yang perlu di diskusikan segera langsung ke Bu Samantha." Ucapnya pada rapat bulanan Minggu ini. Ini berarti menu makanan dan juga Snack yang di buat oleh Nomi bakery akan di hentikan.
"Pak, berarti makanan dan Snack yang sekarang sudah berjalan akan diberhentikan?" Tanya Naomi di depan banyak orang.
"Iya, Saya sudah menemukan katering yang lebih baik dan sehat bagi kita semua. Apakah Paijo keberatan?" Mendengar nama Paijo, Naomi sadar bahwa dia saat ini adalah lelaki bernama Paijo. "Tidak masalah," Ia langsung keluar dari situ. Dia benar-benar merasakan sesak di dadanya, ia tak bisa menyuarakan suaranya sebagai Naomi. Ia terpaksa membiarkan rejeki yang seharusnya ia dapatkan pergi begitu saja.
Bagaimana caranya aku memberitahu Oma jika kontrak itu akan berakhir? Bagaimana dengan nasib anak-anak?
Ia menangisi nasibnya, ia tak bisa bicara pada Dino, dan tak bisa mempertahankan satu-satunya pendapatan panti. "Paijo, kamu gpp?" Tanya Andi yang tak sengaja menemuka dia di tangga darurat. "aku baik-baik saja pak."
Dari ruangannya, Dino terus memikirkan Naomi. Ia tahu, Naomi pasti sedih tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Papa, dimana Milka mau strawberry, apakah disini ada yang menjual strawberry?" Tanya Milka, ia terus mencoret-coret kertas yang ada di depannya.
Milka kamu sama persis dengan Naomi. Ia juga sangat menyukai strawberry. "Pa, ayo pergi."
"Siapa yang mau ice cream strawberry?" Ucap Dino. Ia lalu meminta Paijo mengantar Milka membeli Ice cream bersama-sama. Secara tidak langsung Dino mendekatkan keduanya. Dia membiarkan Paijo yang melakukan segalanya mulai dari menemani Milka bermain hingga naik kereta-keretaan mini. Dino sangat senang ketika mereka menghabiskan waktu bertiga. Semakin lama, Paijo dan Milka semakin dekat bahkan anak itu tidur dalam pangkuannya.
"Milka itu cepat sekali tidur jika dengan orang yang dekat dengannya. Terutama ibunya." Ucap Dino. Ia lalu meminta Naomi menatapnya, "You're" lalu mencabut kumis palsunya dan wig yang dipakainya.
"Ini diluar proyek, gak perlu lagi menyamar. Bagaimana seharian ini bersama Milka, dia anak yang baik bukan?" Tanya Dino.
"Iya, sayangnya dia bukan anakku." Jawabannya sedikit mengecewakan Dino.
"Andai ia lahir dari rahimku." Tambahnya lagi semakin membuat Dino terdiam, "Bagaimana, kalau seandainya kita berdua punya anak, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Dino mengagetkan Naomi, Apa Dino tahu soal Domi?
"Aku pastinya ingin hidup bersama anak dan suamiku." Balas Naomi. "Tapi itu tidak mungkin terjadi karena kami sudah memiliki hidup masing-masing." Balasnya Dino lagi.
"Dino, aku harus pulang." Pinta Naomi.
"Aku antar kamu pulang. Dimana tempat tinggalmu sekarang?" Tanya Dino.
"Kamu gak perlu tahu." Ucapannya membuat Dino terganggu. "Lalu, kenapa kamu harus bekerja di proyek. Apakah uang dan property yang aku berikan tidak cukup untuk kebutuhanmu? Bukankah seharusnya kamu bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik?" Tanya Dino.
"Dino, berhenti. Ini sudah menjadi ranah privasi aku." Ucap Naomi, ia memilih menghindari pertanyaan ini. Dino telah menolak dia, dan gak seharusnya ia menganggu kehidupan Dino seperti katanya tadi, Tapi itu tidak mungkin terjadi karena kami sudah memiliki hidup masing-masing.
Kesalahpahaman kembali terjadi, karena ketidakjujuran satu sama lain. Mereka sama-sama takut.
"Naomi, tunggu..." Dino ingin mengejar tapi Milka sedang tertidur pulas dalam pangkuannya.
Aku punya seribu satu cara untuk tahu dimana kamu berada. Tapi aku hanya punya satu keberanian untuk masuk ke dalam kehidupanmu demi Milka, anak kita.