Never Forget

Never Forget
Your dream is my dream



"Your dream is my dream." Ucap Dino berbisik sebelum ia membuka penutup mata Naomi. "Open your eyes." Perintahnya.


Naomi membuka matanya, ia menitihkan air matanya. Dia tak bisa berkata-kata, di depannya lampu-lampu menyala dengan indah. Diatasnya terpasang nama Studio Naomi. Gedung yang dulu ia gunakan untuk membangun mimpinya kini menjadi miliknya lagi.


"Happy Anniversary, Nom. Do you remember about today? The day you declared your love to me" Dino merentangkan tangannya. "I never forget about our journey. I love you Naomi." Teriaknya. Naomi langsung berlari kearah Dino. Ia menangis memeluk Dino seperti anak kecil bertemu ibunya. Dia tak bisa berhenti.


"Dino .... I love you. kamu gak boleh kemana-mana. Dino, makasih." Ucapnya.


"It's ok Naomi. Nom, kamu ingat yang aku ucapkan saat hari pertama kita jadian."


"Apa itu? Aku gak ingat." Ucapnya masih sambil menangis kencang.


"Nomi, kamu gak pernah ingat apapun." Dino memukul dahi Nomi lembut. "Coba ingat .."


Naomi berusaha mengingat hari dimana pertama kali ia menyatakan cinta untuk ke sekian kalinya kepada Dino yang dingin padanya.


Kembali tahun 2000


Naomi berlari menuju ruang kelas Dino. Rok panjangnya terkadang membuatnya susah bergerak. Ditambah kaca mata yang terus turun.


Dia menunggu di depan kelas Dino sambil memegang surat di tangannya. Ia gugup sambil memainkan rambutnya yang di kunci dua.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Reihan judes.


"Baca ya..." Naomi langsung berlari pada Dino dan memberikan surat itu. Isinya adalah ia meminta Dino datang ke rooftop.


Dino lalu mengeluarkan surat dari kantongnya. "Kamu gak boleh nangis lagi. Kamu harus selalu di sampingku." Ucapnya sebelum meninggalkan Naomi sendirian di rooftop gedung sekolah. Surat itu adalah balasan surat cinta Naomi, di halaman kedua peraturan menjadi pacar Dino. Peraturan pertama sesudah jadian gak boleh putus. Peraturan kedua, selalu menemani aku belajar di perpus setelah pulang sekolah dan seterusnya sangat panjang.


Naomi langsung tersenyum tersipu-sipu. "Kenapa ketawa-ketawa?" Naomi menatap Dino lagi, "Udah ingat?" Tanya Dino. Naomi tersenyum, "I must not cry anymore and then I should always be your side." Ucapnya.


"And never go anymore." Dino melengkapi semuanya dan menciumnya. "Jangan menangis lagi ya, baik itu di rumah atau di manapun. Jangan pernah ragukan aku and our love. Aku mau you can be yourself, my Naomi, who never give up on me. Keep in your mind, I'm yours." Dino mencium bibir Naomi. Ciuman yang cukup panas. Diantara keduanya, Dino lalu mengajak Naomi masuk ke dalam. Mereka melanjutkan aktivitas itu lagi. Dino tak melepaskan Naomi sedikitpun.


Naomi membuka satu persatu kancing kemeja Dino. Sementara Dino terus mengecup bibir dan leher Naomi dengan intens. Dino membuka kemejanya sehingga ia bertelanjang dada, otot perutnya terlihat begitu seksi. Naomi menatap mata Dino dengan intens. "I love you." Ucapnya.


Dino tersenyum dan mengecup bibir Naomi. Semakin intens dan dalam. Ia membaringkan Naomi beralaskan tangannya di kepalanya. "Apakah ini masih sakit?" Naomi meraba luka operasi yang ada di tubuh Dino.


"Gak pernah ada yang sakit. Aku rela melakukannya untukmu." Balas Dino, Naomi menitihkan air mata. Ia mengalungkan kedua tangannya dan menarik Dino kepelukannya. Mereka menikmati waktu itu berdua hanya berdua, dia dan Naomi.


Dia memberikan Naomi semua sertifikat soal gedung itu. Naomi berada di pelukan Dino, ia menggunakan kemeja Dino. "Naomi, sekarang gedung ini milik kamu. Sebenarnya gedung ini milikku. Aku sengaja membeli gedung ini untuk kamu. Kamu bisa membangun mimpimu disini." Ucapnya membuat Naomi semakin haru dan bersyukur memiliki Dino.


"Dino, terima kasih sudah mencintaiku." Ucapnya.


"Terima kasih sudah memberikan aku sebuah keluarga. Jangan menyerah menghadapi mamaku." Ucapnya.


"Never..." Ucap Naomi menciumnya lagi dan mereka sekali lagi melakukan hubungan intim yang membahagiakan.


Naomi, aku gak pernah beranjak pergi dari tempatku di sampingmu, my wife.