
Milka semakin dekat dengan Domi. Mereka bermain bersama sedangkan Dino berbicara dengan rekan bisnisnya. Mereka berlari-lari, dan menjaga satu sama lain. Dino sangat bangga pada Milka, ia adalah kakak yang baik.
"Pengumuman semua!" Ucap Ratih di depan semua orang. Ini adalah pengumuman mendadak tanpa sepengetahuan Dino. "Saya, akan mengumumkan pertunangan anak saya, Dino Bratayudha dengan Samantha. Kedua perusahaan kami sudah bekerjasama cukup lama dan kini menjadi satu keluarga." Ucapnya lantang di depan semua orang.
"Mama ..." Ucap Dino panik, ia sama sekali tidak mengetahui hal ini. Ia langsung mencari Naomi. Ia takut Naomi mendengarnya dan membuat masalah lagi. Milka menghampirinya dan menanyakan kebenaran hal ini. "Papa bukankah mama akan pulang?" Tanyanya membuat laki-laki itu bingung. Sementara, semua orang memberinya selamat.
"Domi, Milka. Kita main di sana yuk." Ajaknya untuk menghindarkan mereka dari wartawan.
"Milka... mau mama pa. Bukan, mama Samantha." Ucapan itu semakin membuat Dino terjebak. "Iya, sayang.. Papa janji.." Balas Dino menjawab anaknya.
Mereka akhirnya bermain bertiga, Ratih dan Samantha juga ikut bergabung dengannya. Meskipun canggung bagi Dino, ia berusaha relax dan santai. Ini adalah acara besar, tak seharusnya aku membuat masalah di sini. Samantha yang sedang berbunga-bunga ikut bergabung bersama Domi dan Milka. Ia sudah berada diatas angin. Ia pasti mendapatkan Dino.
"Lepasin anak aku." Ucap Naomi lalu merebut Domi dari Dino. Milka yang masih asik bermain tiba-tiba kaget dan menangis, Domi meninggalkannya. "Papa..." Teriak Milka.
"Naomi, mereka masih bermain. Gak seharusnya kamu bersikap seperti itu." Ucap Dino.
"Domi adalah anakku, aku gak akan membiarkan kamu merebutnya." Ucap Naomi di depan Ratih. Inilah yang Ratih inginkan, Naomi sadar dimana tempatnya. Ia ingin Naomi mempermalukan dirinya sendiri, ia ingin menggunakan kelemahan Naomi sebagai senjata andalannya. Tidak seperti Naomi, Dino lebih tenang dan mengajak Naomi bicara di luar.
"Naomi, jangan berantem di sini. Kamu sedang mempermalukan dirimu. Ayo kita keluar." Dino memaksa Naomi keluar.
"Naomi, maksud kamu apa? Merebut? Siapa yang merebut!"
"Kamu dan keluarga mu mau merebut Domi dari aku. Gak akan aku biarkan. Kamu sudah punya Samantha dan Milka. Sedangkan aku hanya punya Domi." Ucap Naomi, ia sudah berada di titik terendahnya. Ia hanya berusaha mempertahankan satu-satunya yang dia miliki Domi.
"Naomi, aku gak akan merebut Domi. Aku hanya mendekatkan mereka berdua. Mereka itu saudara."
"Untuk apa, membuat Domi memilih kamu dibanding aku!" Naomi semakin menggila.
"Naomi, apa aku seburuk itu dimata kamu!" Dino kecewa dengan Naomi yang selalu menganggapnya buruk.
"Karena kamu gak pernah izinkan dia bertemu aku. Kamu selalu ngelarang aku. Setiap aku ke Panti, kamu selalu bilang Domi tidur."
"Aku berhak karena dia anak aku."
"Tapi dia juga anak aku! He is my Son!"
Naomi terdiam ia lalu membela dirinya jika Domi bisa jauh lebih bahagia bersama dirinya. Ia bisa memberikan kasih sayang yang utuh sambil terisak-isak menangis.
"Bagaimana caranya? Memberikan seorang ayah tiri? Memaksanya menganggap Gilang ayahnya? Aku gak akan membiarkan siapapun di panggil Domi ayah selain aku! Ingat itu Naomi!" Ancam Dino. Naomi mulai menciut, kekuasaan Bratayudha bisa membuat dirinya kehilangan Domi dalam sekejap.
"Aku bisa memberikan dia kebahagiaan lebih dari yang kamu lakukan. Aku bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Domi." Jawab Dino lagi semakin membuat Naomi takut.
"Bersama Samantha?" Ucapnya. "Dengan atau tanpa Samantha!" Balas Dino lagi.
"Aku akan menikah dengan Gilang!" Ia sengaja membuat Dino marah. Namun Dino tidak mudah terpancing. "Silahkan tapi jangan bawa anak aku. Kamu boleh menikah dan melahirkan anak lagi. Anak kamu dan Gilang!"
"Aku akan bawa Domi." Naomi sudah sangat tidak berdaya. "Jangan mimpi, Domi akan tetap bersama aku dan kakaknya, Milka."
"Aku gak biarkan dia bergaul dengan anak Samantha."
"Naomi, jaga ucapan kamu! Kamu akan menyesal! Dia itu anak..." Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Milka tiba-tiba berteriak, ia menolak Domi sebagai adiknya. Ia berkata tidak ingin Domi menjadi adiknya, dia hanya ingin papa dan mamanya saja tanpa Domi.
Domi yang mendengarnya sangat kecewa, dan ikut menangis. Semua menjadi kacau, Milka lari ke pelukan Ratih, "Papa...." Domi terus memanggil namanya dan tiba-tiba Domi pingsan tak sadarkan diri.
"Domi!" Teriak Dino dan Naomi. Mereka kembali bersatu demi anaknya. Ia membawa Domi ke rumah sakit, Milka semakin kecewa semalam ia menangis menunggu Dino pulang dari rumah sakit.