
"Dino.." Ratih memegang tangan anaknya yang sedang merapikan peralatan makan yang baru saja digunakannya. Hampir tiga hari anaknya itu belum pulang ke rumah. Ia makan dan berganti pakaian di rumah sakit. Naomi juga gak pernah datang ke rumah sakit menjenguknya. Setumpuk pekerjaan dari kantor di bawa Dino ke rumah sakit. Setelah menemaninya Dino langsung mengerjakan pekerjaan kantor. Apa yang terjadi di rumah? Apakah dia bertengkar dengan Sharon? Apa dia ada masalah hingga tidak pulang ke rumah? Atau Sharon mengecewakan Dino lagi? Ratih terus menebak-nebak tentang kondisi anaknya.
"Kamu tidak pulang ke rumah? Domi dan Milka tidak mencari mu?" Tanyanya.
"Ma... semuanya aman kok. Naomi yang menjaga mereka di rumah. Nanti jam 7 setelah mereka belajar aku akan Video call mereka. Mama juga mau bicara sama mereka?" Jawabnya dengan tenang ia merapikan kasur dan bantal untuk Ratih.
"Naomi gak cari kamu? Apa dia gak berniat menjenguk ibu mertuanya." Tanyanya lagi kesal. Dino lalu berbalik, "Mama tadi bilang mertua? Mama sudah mengakui Naomi sebagai menantu? Aku yang minta Naomi untuk jangan datang ke sini. Aku gak mau mama Anfal melihat Naomi. Aku mau mama cepat sembuh dan pulang ke rumah secepatnya. Kalau mama tetap gak suka sama Naomi, aku akan pindah dari rumah. Kami akan kembali ke Condominium."
"Kamu akan tinggalkan mama sendiri?"
Mendengar itu membuat Dino bersedih, Ia duduk di samping Ratih. "Ma.. Dino gak pernah tinggalkan mama. Dino, akan temani mama di weekend, setiap hari sebelum pulang ke rumah Dino akan pulang ke rumah makan malam sama mama, Gimana?" Dino lalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Dino meminta Ratih untuk berbaring.
Ratih terus melihat anaknya, Apakah aku terlalu egois sebagai seorang ibu? Dino harus melakukan itu semua demi aku. "Dino, mama mau bicara sama kamu." panggilnya lagi dengan gelisah.
"Mama... mau ketemu sama cucu mama." Tak ingin membuat ibunya menunggu, ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Naomi. "Dino bukan itu mau mama." Tambahnya. "Lalu, apa mau mama? besok aku minta Naomi antar anak-anak kesini." balasnya.
"Dino, besok minta Naomi temani mama disini sama anak-anak kamu. Kasian kalau hanya mengantar." Dino yang sudah hampir menempel pada bangku. Tiba-tiba melirik pada Ratih, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Mama barusan mau ketemu Naomi?" tanya terbata-bata. Dikembali mengulanginya lagi, ia takut salah mendengar. Dia takut ini hanyalah ilusi yang diciptakannya.
"Iya, Dino. Mama mau ketemu Naomi..." Ucapnya. "Mama, makasih ma." Dia memeluk Ratih. "Ma, makasih sudah mau menerima Naomi. Makasih ma..." Peluk Dino erat. Sangking bahagianya dia langsung menghubungi Naomi. Naomi juga antusias, di langsung berlari ke dapur untuk memasak makanan untuk mertuanya. Dia terlalu antusias sampai panik, ia selalu bertanya apa yang boleh dan tidak boleh di makan oleh Ratih.
"Din, aku senang banget sampai gak tahu mau mulai dari mana." Ucap Naomi menangis haru. Ia tidak menyangka hari ini akan datang.
"Besok kamu jangan lupa datang sama, anak-anak." Ucapnya.
"Dino, ini nyata kan?" Naomi terus bertanya.
"Ini nyata Naomi. Kita akan sama-sama melalui semuanya. Nom, aku rindu kamu. Aku mau peluk kamu saat ini." Mereka saling merindu yang terobati hanya lewat sebuah video call. "Aku juga rindu kamu Dino." Balasnya.
Terima kasih Tuhan, akhirnya keluargaku akan bersatu. Terima kasih karena membuka pintu hati mama dan juga menguatkan Naomi melewati ini.
Ratih membuka hatinya menerima kehadiran Naomi. Naomi membantu mengurus Ratih, menemaninya di Taman sambil bicara santai ditemani oleh cucu-cucunya.
"Domi itu mirip sekali dengan Dino waktu kecil. Milka juga." Ucap Ratih melihat Dino dikelilingi oleh anak-anaknya. "Domi itu benar-benar sama hobi dan kesukaannya dengan Dino." Tambah Naomi, ia duduk di sebelah kursi roda Ratih.
"Dulu mama ingat waktu pertama kali, Dino kasih tahu mama kalau kalian pacaran. Kalian pertama kali kenal, waktu SMP ya?" Ia mulai bernostalgia lagi. Saat itu, Naomi belum berpenampilan seperti sekarang. Naomi masih culun. Hari itu ketika ia dan Hendrik pulang dari luar negeri tak sengaja ia melihat Naomi keluar dari rumahnya sambil menangis ia menggunakan dress kodok jeans dan kaos tangan panjang bergaris-garis di dalamnya. Ratih lalu bertanya pada Dino yang sedang berjongkok sambil mengelus-elus selembar kertas di depan rumah masih menggunakan seragam sekolah lengkap. Sepertinya dia baru saja pulang mengikuti lomba sekolah.
"Ma... Milka bohong ma. Bukan surat cinta kok." Dia lalu membuang lagi kertas yang di ambil. Dia meremas-remasnya dan merobeknya supaya Ratih tidak tahu. "Milka cerewet banget sih kamu." Ucap Dino kesal, lebih kesal lagi karena Tante Dina ikut meledeknya.
Dino adalah seorang yang tenang, namun jika menghadapi sesuatu yang membuatnya gusar ia akan melampiaskannya pada taekwondo atau samsak. Setiap malam, Dino selalu memukul samsaknya, "Nyebelin! Nyebelin, kenapa sih malah jalan sama Sammy!" Ucapnya terus menerus. "Katanya suka sama aku." Ucapnya lagi kesal. Ratih sengaja menguping dan mendengarkan semuanya, ia juga melihat di papan schedule-nya Dino ada surat cinta yang dulu di robek-robeknya menempel di sana. Ia tahu, anaknya sudah mulai mengenal cinta.
Akhirnya, ia bisa melihat wajah Naomi. Ketika ia mendatangi Dino dan mengajaknya pergi ke taman hiburan. Awalnya Dino gak mau, tapi dia paling effort saat siap-siap. Dia gonta ganti setelan baju. Semenjak bersama Naomi, Dino mulai mencoba hal-hal baru seperti naik sepeda, bawa bekal, dan berangkat sekolah lebih pagi.
"Aduh, anak mama lagi ngapain nih?" Tanyanya. Dino lalu tersenyum malu, sambil menunjukkan lukisan miliknya. "Aku lagi melukis pacar aku ma, namanya Naomi." Dia juga menunjukkan fotonya. "Ini pacar anak mama, selera kamu unik juga ya. Berkaca mata, rambut di kepang. Gaya pakaiannya juga unik." Tanya Ratih.
"Dia beda ma..." Balas Dino sangat menyukai Naomi.
Ratih tersenyum melihat bertapa bahagianya Dino saat itu. "Dino sangat menyukai kamu, Nom. Dia bilang kamu berbeda." Tambah Ratih.
"Aku juga sangat menyukai Dino, Ma."
"Kalau begitu kenapa kamu tinggalkan dia. Kamu biarkan di menderita sampai dia mengambil jalur surrogate mother demi punya anak." Balas Ratih cukup menohok.
"Ma... Aku mengakui aku yang salah. Aku gak akan membenarkan diri. Tapi, Milka anak aku. Hadirnya dia membuatku menjadi ibu yang sesungguhnya. Aku mohon maafkan aku ma."
"Seharusnya kamu pergi setelah kita bertemu hari itu. Seharusnya..."
"Ma.. anak yang aku kandung, anak kandung Dino. Domi cucu mama..." Bantahnya tegas. Ia berlutut dan memohon padanya Ratih untuk memberinya kesempatan. Ratih, memberi tahu Naomi untuk menjaga sikapnya.
Throwback 6 tahun yang lalu,
Naomi berdiri di depan rumah Dino sambil melindungi perutnya, hujan turun dengan deras. "No, buka pintunya." ia memohon pada Pak Donny satpam dirumah itu.
"Non, saya gak berani. Nyonya melarang kami membuka pintu."
"Dino! Dino!" Teriaknya. Tak lama, Ratih keluar membawa semua baju Naomi yang tertinggal. Dia merebut ponsel Naomi dan menghancurkannya.
Naomi! Dino gak ada disini. Kamu jangan ganggu anak saya lagi. Belum puas kamu hampir membuat Dino kehilangan nyawanya. Ratih mendorong Naomi hingga jatuh di depan rumahnya. Ratih lalu menutup pintunya dan tak peduli padanya meskipun hari itu hujan besar.
"Auuu!" Naomi mengeluh kesakitan. "Dino...maafin aku..." masih merintih kesakitan.