
Dino meminta Pak Beben untuk mengantarkan Samantha dan Ayahnya karena dirinya tak dapat mengantarkan mereka. Dino sangat menghormati Ayah Samantha sebagai kolega bisnis keluarganya. Sementara yang lain dipersilahkan untuk melanjutkan kegiatan. Dino membawa Naomi, untuk mengobati lukanya. Tapi bukan Naomi namanya jika ia tidak menggoda Dino.
"Nom, ngapain kamu." Nomi menggodanya dengan membuka kancing baju Dino. "Nom, jangan main-main sama hal kayak gini."
Semakin Dino melarang Naomi bergerak. "Nomi, aku luka kamu.."
"Mau kamu apakan luka aku?" Ia lalu mengambil plester dan menutupnya. Naomi lalu melanjutkan aksinya.
"Naomi ini masih siang...."
"Dino tadi masih pagi..." Dino tahu Naomi sedang meledeknya. Ia lalu menarik Naomi dan membaringkannya di tempat tidur. "Aku masih punya banyak waktu untuk kamu dan calon anak kita nanti."
"Calon..." Naomi yang berubah panik. Ia lalu mulai bergerak mencoba melepaskan diri dari Dino. Dino hanya tersenyum lalu berbalik menggoda Naomi.
"Kenapa Naomi? Aku tahu kamu gak bisa pisah dari aku. Seperti kamu udah siap untuk buat adiknya Milka dan Domi." Ucapnya meledek Naomi.
"Aku cuman bercanda, Dino." Mukanya polos, cemas. Sangat imut menurut Dino. Dino terus menahan tawanya. Dia gemas dengan Naomi. Naomi lalu menyilangkan tangan didadanya sebagai proteksi pertamanya. Dino lalu menarik kedua tangannya dan merentangkan di sisi kiri dan kanannya.
"Kamu harus menyelesaikan apa yang kamu mulai." Dino mendekati wajah Naomi. Naomi makin panik, dia hanya bisa menutup mata dan mulutnya rapat. Dino tersenyum melihat Naomi namun ia masih belum puas menggodanya. Dia mengecup dahi lalu kedua mata Naomi. Hidungnya, pipinya juga tak luput darinya. Naomi semakin panik, "Kasih aku waktu, melahirkan itu sakit bukannya aku gak mau, No." ucapnya sambil memejamkan mata.
"Jangan main-main sama hal ini. Hasilnya bisa diluar ekspektasi." Dino menepuk dahi Naomi. "Masih banyak orang diluar." Ia merapikan kemejanya dan tertawa melihat Naomi yang malu karena senjata makan tuan.
"Dino awas ya.." Ucapnya. Dino malah mengecup bibirnya. "Dino!!" teriaknya malu.
"Masih aja malu... Siapa yang curi ciuman akh dulu..."
"Perempuan yang pernah bilang akan melakukan segalanya untukku. Tapi suka cari alasan dan gak mau ngaku. Plus dia pernah nembak aku depan banyak orang dulu." Ledek Dino lagi.
"Dino .... jangan ledekin aku lagi..." Naomi langsung lari keluar. Ia kaget saat membuka pintu ada Bi Minah dan yang lain sedang menguping. Tanpa bicara Naomi kembali ke ruang perjamuan. Dino hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah para pekerja rumah tangga.
"Naomi tunggu.."
"Dino.." Ratih memanggilnya dan langsung menegurnya dan memintanya ke ruang kerja. Ia marah dan kecewa dengan sikap Dino. "Buat apa kamu melakukan ini, besok adalah ulang tahun Bratayudha group. Buat apa kamu membuat pengumuman tidak penting seperti ini."
Dino menjawab dengan tenang, ia tidak emosi. Ia tahu mamanya tidak menyetujui semua ini. "Ma... Aku tidak pernah gegabah dalam mengambil keputusan. Aku mengumumkan hal ini karena Naomi memanglah istriku dan Domi anakku."
"Aku gak ingin menyembunyikan istri dan anakku. Aku ingin menghargai perasaan mereka."
"Mereka lalu bagaimana mama? Mama membenci Naomi, dia sudah menyakiti kamu. Kamu anak mama satu-satunya." Ia lalu memeluk Dino. Dino dapat merasakan kegelisahan hati sang ibu.
"Ma.. Dino paham... Dino tahu maksud mama.. Kita lebih dulu menyakitinya. Kita gak perlu membahas dalam hal apakan?" Ratih lalu menatap anaknya. "Naomi punya mata Milka. Satu-satunya peninggalan Milka untuk kita." Tambahnya, ia berharap mamanya akan membaik.
"Mama tidak peduli... Mama peduli kamu, Milka dan Domi cucu mama. Biarkan dia pergi."
"Ma ... Naomi gak akan pergi. Dia akan tinggal disini. Kalau mama gak nyaman, aku bisa kembali ke Condominium. Aku pindah karena mama yang minta."
"Ma.. Aku gak akan memilih diantara kalian berdua. Mama adalah orang tuaku, dia adalah istriku. Mama tahu, jika sudah memutuskan dan gak akan aku rubah. Aku mencintai mama oleh karena itu aku gak mempermasalahkan mama berbohong padaku soal perceraian itu.... Aku masih menunggu penjelasan mama soal ini.." Dino mengakhiri pembicaraan itu. Ratih tetap kesal pada Dino. Namun Samantha bukanlah lagi solusi yang dia miliki.
"Dino..." Teriak Ratih. "Jangan tinggalkan mama."