Never Forget

Never Forget
Waiting for you



"Selamat Bu Ratih, bayinya lahir dengan selamat. Jenis kelaminnya laki-laki." Seorang suster menyerahkan bayi Dino kecil ke tangan Ratih.


"Pa.. liat anak kita..." Ucapnya bahagia, tangan Dino yang kecil menyentuh tangan Ratih. Ia tersenyum menatap Ratih. "Siapa namanya?" Ucapnya


"Dino Bratayudha." Tegas Hendrik. "Nama yang bagus" Celetuk Togaya muda. Dino adalah cucu pertama keluarga Bratayudha.


Enam tahun yang lalu, LA- meeting all departments.


Dino menerima telepon dari Ratih, "Selamat Dino, kamu sudah resmi menjadi Ayah. Bayinya perempuan." Ucap Ratih, ia mengirimkan foto-foto bayinya.


"Ma.. it's real. Aku, seorang ayah sekarang?" Jawab Dino antusias, matanya berkaca-kaca sangking bahagianya tidak tahu harus berucap apa. "Aku akan segera kesana." Dino bergegas buru-buru ke rumah sakit. "Hi! Sayang. I'm your daddy." Ia menerima Milka kecil ditangannya dan beberapa bulan kemudian Naomi juga menerima Domi kecil di tangannya. "Selamat, Naomi kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu." Ucap Oma Murni. "Kamu akan kasih nama siapa?" tambahnya. "Domi, Domi Bratayudha. Anak Dino dan Naomi."


"Akan kamu kasih siapa nama anak kita Dino?" Naomi menatap layar ponselnya, ada foto mereka berdua di sana. "Suster, bisa temani saya menemui suami saya?" Ia memberikan asi yang sudah dia pompa pada suster itu. "Baik saya ambilkan kursi roda." Balasnya.


Sementara Ratih menunggu diluar, ia begitu malu untuk masuk dan bertemu dengan Naomi. Ia tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan menantunya itu. Dia meminta Togaya pergi dari situ dan mengantarnya pada Dino. Setidaknya, dia tahu Naomi baik-baik saja. Cucunya lahir dengan selamat.


Selama di perjalanan menuju ke ruang operasi, Ratih mengingat semua hal yang dia lakukan. Bagaimana Dino berusaha menyelamatkannya, berulang kali menutupi kesalahannya. Berulang-ulang kali juga melindunginya. "Ma.. please jangan membuat Dino harus memilih. Dino gak akan bisa memilih antara mama dan Naomi. Dino hanya punya mama satu-satunya orang tua aku dan Naomi my only wife." Ucap Dino, ia bersujud di hadapan Ratih yang saat itu terbaring di rumah sakit. "Ma.. kalau mama gak mau ketemu Naomi. Aku gak akan pernah bawa Naomi ketemu mama. Tapi ma please berhenti menyakiti Naomi." Dino memberikan sebuah amplop pada Ratih. Ketika Ratih membuka amplop itu, isinya adalah bukti - bukti bahwa Ratih yang membuat surat perceraian palsu atas namanya. Di dalam juga ada bukti bahwa Ratih pernah hampir memalsukan hasil tes DNA atas nama Domi. Sebuah foto di saat Ratih memberikan uang kepada suster yang saat itu bertugas mengambil sampel dirinya dan Dino. Ia meminta Alex untuk mengawasi Ratih secara diam-diam dan berhasil menggagalkan semuanya.


Ratih tak bisa menutupi penyesalannya. "Togaya, sebaiknya kita pulang saja." Ucap Ratih tiba-tiba membuat Togaya bingung, "Apakah aku masih pantas menemui Dino? aku yang menyebabkan dia seperti ini. Semua hal ini terjadi karena aku. Aku yang sangat mudah terprovokasi. Aku ..." Ratih terbata-bata berucap sambil menyeka air mata yang keluar di kedua ujung matanya. Ia lemah duduk di kursi roda. Ia tak mampu berjalan akibat cedera yang di alami di lututnya. "Bagaimana cara mbak membayar semuanya?"


"Mbak!" Ia menyalahkan dirinya sendiri. "Yang membuat Domi lahir tanpa diketahui ayahnya. Sekarang, adiknya juga harus lahir dikala ayahnya harus berjuang di ruang operasi. Dan semuanya karena Mbak, Togaya." Ratih terus menyalahkan dirinya.


"Mbak, Dino tidak akan pernah mengecewakan ibunya. Meskipun harus memilih dia tetap tidak akan meninggalkan Mbak sendirian. Dia lebih baik mengorbankan dirinya sendiri dibandingkan harus memilih menelantarkan Mbak. Mbak, Dino sudah tahu soal surat cerai palsu itu bahkan dia sudah punya bukti yang lengkap. Tapi dia memilih untuk menghancurkan itu semua. Dia sangat menyayangi Mbak Ratih. Mbak Ibu kandungnya. Tidak ada mantan ibu ataupun anak. Dino butuh Mbak Ratih. Mbak harus kuat." Togaya mencoba menguatkan Ratih.


"Ma... Dino sayang sekali sama mama. Dino butuh mama seperti kata om Togaya." Ucap Naomi. Dia juga ingin pergi ke kamar operasi Dino. Ia diantar oleh Oma Murni menaiki kursi roda. "Kita sama- sama kesana.. Naomi udah maafin mama." Mereka saling berpelukan. "Maafin mama Naomi..."


Waktu berjalan 4 Jam dan operasi Dino masih berjalan. "Dino, aku sudah melahirkan anak laki-laki. Kamu ingat janji itu. Kamu akan mengajarinya cara melindungi aku dan anak perempuan kita." Ucapnya sambil menangis, ia duduk di kursi roda di depan pintu operasi bersama yang lain.


"Lo memang beruntung. Sejak awal Lo masuk sekolah, matanya sudah tertuju padamu." Ucap Reihan, menawarkan tissue dan air putih. "Siapa yang menyangka, gadis cupu yang berani mengakui ketua OSIS sebagai pacarnya. Sekarang telah melahirkan anak dari ketua OSIS yang dingin." Reihan sedikit bernostalgia.


"Cara dia mencintaimu yang merubah pandanganku tentang artinya mencintai." Tambah Reihan. "Mau tahu bagaimana caranya?" Ia menantang Naomi.


"Bagaimana caranya?" Tanya Naomi...