
"Jangan mimpi...." Serra ingin menampar Naomi tapi dengan sigap ia menghadang Serra dan mendorongnya. Ia juga menghajar Serra dengan teknik Taekwondo yang pernah diajarkan Dino padanya. "Jangan mimpi kamu mau jadi menantu Bratayudha." Balas Naomi. Ratih tiba-tiba berdiri dari kursi rodanya dan mendorong Naomi, "Kamu yang jangan bermimpi. Seharusnya saya biarkan kamu tenggelam kemarin. Kamu pikir saya akan menerima kamu. Mimpi! Selama ini saya hanya berpura-pura di depan Dino. Kalung ini!" Ratih dengan kasar menarik kalung yang diberikan Dino pada Naomi.
"Kamu jangan mimpi bisa hidup dan menyusahkan Dino. Selama ini dia mengeluarkan banyak uang untuk kamu. Kamu hanya menginginkan uang anak saya." Ratih menampar Naomi. Dia menceritakan bagaimana Dino saat Naomi meninggalkannya. Semalaman ia menangis, menatap foto kalian. Sejak perpisahan dengan kamu, dia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah Strawberry. Dia menyibukkan dirinya dengan kerja-kerja dan kerja. Setiap malam dia selalu melihat fotomu. "Anak saya menderita karena kamu, Naomi!" Dia kembali mendorong Naomi. Ia pasrah mendengar Ratih.
"Saya sengaja membuat kamu menderita, saya sengaja membuat kamu terluka sehingga kamu kehilangan kesempatan untuk mengikuti pameran di Prancis. Mimpi kamu selama ini. Saya sengaja membuat kamu seolah-olah paranoid. Itu semua salah kamu."
"Ma... maafin Naomi.." Ucapnya memohon pada Ratih. Namun Ratih acuh dan meninggalkan dia. "Seharusnya dulu, kamu dengar kata-kata saya. Pergi jauh dan jangan kembali. Bawa juga anak kamu dan jangan kembali lagi."
"Mama tahu Naomi hamil anak aku?" Dino muncul dari balik pintu. Ternyata Dino dari tadi mendengar pembicaraan mereka. "Mama yakin Serra tidak menginginkan uangku?" Serra dan Ratih kaget, "Lalu bagaimana dengan ini?" Dino memutar video Ratih sedang menuang minyak dan memanggil Naomi. Ia menyebabkan Naomi jatuh dari tangga. Video selanjutnya, Ratih sedang berada di sebuah restauran dan bertemu dengan Serra. Di rekaman itu terdengar rencana mereka untuk membuat Naomi paranoid. Ratih terdiam, ia berusaha mengelak.
Dino masih bersabar, dia lalu menunjukkan ponsel rahasia milik Serra yang diambilnya dari kamarnya ketika ia dengan sengaja membuat wanita itu pingsan. Ponsel itu terhubung dengan nomor telepon Ratih. "Mama ingat semalam ada yang menelepon mama tapi tidak ada jawaban?" Ratih terdiam. "Itu aku.." ternyata Dino di kamar mandi karena menghubungi mamanya. Tapi saat Naomi bangun dia buru-buru menyembunyikannya.
"Naomi memang tidak pantas menjadi menantu mama. Tapi mama juga tidak pantas menjadi mertua Naomi. Mama selalu menggunakan aku sebagai alasan. Aku ikhlas ma melakukan itu semua. Mama mau aku bahagia, aku semakin menderita." Ratih tetap mengelak. "Mama melakukan ini untuk Dino. Mama sayang Dino. Mama mau membalas wanita yang membuat Dino sakit."
"Dan kamu, Ms. Serra. Saya sudah peringatkan kamu tapi kamu tetap mengunakan cara rendahan seperti ini. Saya akan laporkan kamu ke kantor polisi" Dino menyasar pada Serra. Serra pun takut dan berusaha kabur. "Mama kamu yang menyuruh saya." Ia menyalahkan Ratih sebagai otak dari semua ini. Ratih dengan tegas menjawab ia di depan Dino, semakin membuat putranya kecewa.
Naomi terpojokkan tak tahu harus apa, selama ini Ratih membencinya bahkan ingin mencelakainya. Ia meringkuk menangisi apa yang terjadi. Ia menutup telinganya, "Stop!" Pinta Naomi. Dino menghampirinya dan memeluknya. "Sudah malam sebaiknya mama istirahat. Kita bicara lagi ini besok, kita berdua."
"Dino, Nino adalah penyebab kematian ayahmu. Dia adalah adiknya."
"Lalu, haruskah aku ikut membayar semuanya? Membayar dengan menerima kebohongan mama. Mama membiarkan cucu mama besar tanpa seorang ayah. Dan aku bahkan gak tahu dia ada ma." tanyanya kepada Ratih. "Mama sayang aku, tapi mama buat aku menjadi orang tua yang jahat untuk anak aku."
"Kebencian ini gak akan pernah berakhir ma. Nino membenci kita karena kita adalah penyebab dari hancurnya keluarga mereka. Mama membenci Naomi karena apa? Naomi gak ngelakuin apa-apa. Mama justru menghancurkan keluarga kita ma." Dia pergi bersama Naomi dan meninggalkan Ratih. Ia terjatuh dari jauh Togaya datang memapah Ratih.
"Dino benar-benar pergi, Togaya..." Ia menangis.