Never Forget

Never Forget
It's time



Kenyataan ini akhirnya harus ku terima, inilah alasan mengapa Papa tidak pernah merestui ku bersama Naomi. Alasan yang begitu menyakitkan, penyebab dari semua kesakitan untukku dan Naomi. Semua alasan itu berhubungan denganku.


Kakiku melangkah memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan kenangan kami berdua, aku dan Naomi. Inilah kamar kami, semuanya di design interiornya di pesan khusus sesuai dengan warna kesukaan Naomi, putih. Setiap sudut selalu ada bayangannya, mulai dari baju dan semua parfum, tas, sepatu dan perhiasan yang disusun rapi olehnya.


Aku sangat merindukannya, apakah dia sudah sadar? Aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya, menciumnya namun apa dayaku hal ini tak mungkin terjadi karena Nino dan teman-teman premannya sudah berjaga disekitar ruangan Naomi sehingga tak ada celah baginya untuk bertemu.


Dino membuka lemari pakaiannya dan menemukan satu baju tidur yang selalu dia pakai, bahkan aroma tubuh Naomi masih melekat pada baju itu. Ia memeluknya sambil terkadang menitihkan air matanya.


"Naomi! Aku kangen banget sama kamu." tak kuasa menahan rasa itu, ia jatuh bersimpuh disebelah tempat tidurnya. "Nom, please maafin aku. Please, comeback to me. I can't live without you. Please, Nomi." Sambil menangis kejar.


"Den Dino." Ketuk Bi Minah. Dia adalah orang yang menjaga perkebunan bersama dengan suaminya.


"Iya, bi." Ucap Dino membuka pintu kamar yang terkunci dari dalam.


"Den ini baju yang sudah saya lipat. Den, kapan Non Naomi akan pulang? Apa Non Naomi sedang sakit den?" Tanyanya penasaran karena sudah lebih dari 3 bulan majikannya itu sudah tidak kembali ke perkebunan. Terutama, setelah pertengkaran mereka berdua.


"Bi, Non Naomi lagi sakit dan di rawat. Sebentar lagi Naomi akan kembali ke sini. Atau mungkin bisa juga tidak akan pernah kembali." Ucapnya sambil menahan air mata yang ingin tumpah, ia tak ingin menangis di depan orang lain. Ia mencoba tegar sambil merapihkan baju yang akan dibawanya karena besok dia sudah harus masuk ruang perawatan untuk persiapan operasi.


"Bi, masih ingat gak kalau Naomi suka marah-marah kalau barang tidak diletakkan pada tempatnya. Dia bisa bikin satu perkebunan jadi sibuk karena dia." Ia mulai bernostalgia.


"Mama saya sudah tidur Bi? Bi, kalau misalnya bibi punya adik ipar yang ternyata adalah penyebab dan juga anak dari orang yang berbuat salah sama keluarga bibi, apa yang akan bibi lakukan? Kesalahan yang cukup besar." Tanyanya.


"Bibi gak akan mau maafin dia. Bibi akan minta adik bibi itu bercerai." Ucapnya lantang.


"Bercerai bi? Segampang itu? Bibi boleh keluar sekarang. Saya bisa bereskan semua sendiri." Ucapnya tenang. Setelah Bibi pergi, ia kembali jatuh disamping tempat tidurnya. Ia menenggelamkan wajahnya diantara tangannya yang menyilang mengunci kedua lututnya. Suara tangisnya kembali menggema.


"Kenapa hanya itu caranya. Kenapa harus aku penyebabnya. Kenapa !!!"


"Dino, kamu yang kuat nak. Mama akan selalu mendukung kamu." Ratih masuk setelah mendengar suara barang yang jatuh di ruangan Dino, ketika ia masuk semua sudah berantakan tangannya sudah berdarah akibat luka hantaman keras ke dinding. "Dino, kamu gak boleh kayak gini. Besok kamu mau masuk ke ruang perawatan, kami harus sehat Dino." Pinta Sang Ibu.


Dino hanya terdiam menunduk, matanya sudah bengkak. Ia hanya menatap Sang Ibu, lalu memberikan sebuah buku, catatan milik Hendrik Bratayudha, 25 tahun yang lalu. "Semuanya karena aku ma." Ucapnya menjadi penghantar Ratih menemukan peristiwa menakutkan yang di akibatkan oleh Sang Suami dan Dino. Kecelakaan beruntun 25 tahun yang lalu menewaskan kedua orang tua Naomi dan pelakunya memanglah sang ayah, Hendrik Bratayudha dan yang paling mencengangkan, Dino kecil ada di dalam kecelakaan itu, saat itu Dino kecil dan sang ayah sedang dalam perjalanan ke rumah sakit menjenguk sang ibu yang dirawat di rumah sakit.


"Ini buku harian papa ma. Aku belum baca semua. Ma, tolong simpan buku ini buat aku." Ucapnya lalu ia berbaring di tempat tidurnya.


"Ma, makasih karena cinta mama yang begitu besar untuk aku. Apapun yang terjadi besok, jangan pernah membenci Naomi atau siapapun." Ia mengusap air matanya, menarik selimutnya dan terlelap dalam tidurnya.