
"Dokter, tolong bantu aku untuk segera pulih. Aku mau mencari istri aku." Pintanya langsung dibantah keras oleh sang ibu, Ratih. Wanita itu tak habis pikir dengan anaknya yang terus menutup mata atas perlakuan keluarga Naomi yang sangat membenci mereka.
"Buat apa Dino? Buat apa?" Bentaknya.
"Dino hanya mau, Naomi." Ucap Dino, ia masih terus memupuk harapan yang baik untuk hubungannya dan Naomi.
"Mama tanya sama kamu, apakah dia menginginkan kamu? Kalau iya dia gak mungkin meninggalkanmu sendiri." Ratih meminta Dino menatapnya meskipun dia enggan melakukan itu. Bukan karena ia marah atau tidak ingin mendengar tapi itu adalah kenyataan. Kenyataan yang sangat menyakitkan baginya. Ia benci kenyataan itu namun jauh dia sadar kesalahan yang dilakukan keluarganya juga sangat besar. Keluarganya menghancurkan hidup Naomi.
"Ma, semua yang mama bilang betul ma. Aku yang salah. Mama juga harus sadar keluarga kita juga salah, papa melarikan diri sehingga menyebabkan orang tua Naomi meninggal. Kakaknya juga harus hidup di penjara karena papa. Aku mau menebusnya, aku mau berusaha membayarnya." Ucap Dino menjawab ibunya.
"Stop Dino, pengorbanan mu juga besar untuk Naomi. Selama kalian berpisah kamu selalu melindungi dia. Kamu mempermudah dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Apa dia tahu kamu yang selama ini menjadi angelnya? Membiayai semua kebutuhan dia selama di Prancis? Membiayai semua urusan Panti asuhan? dan sekarang kamu memberikan ginjalmu, tapi orang lain yang mengakuinya." Ucapnya lagi bernada tidak tinggi, ia tidak pernah menyangka akan berkata seperti ini. Seakan semua yang dia simpan keluar dan tersampaikan. Dino hanya terdiam, ia menundukkan kepalanya.
"Mama betul.. terlalu banyak tapi Naomi pernah menyelamatkan nyawa aku." Ucap Dino. Dino tidak pernah mengungkapkan hal ini pada yang lain. Kejadian ini hanya dia yang tahu bahkan Naomi sendiri tidak tahu. Ratih tertegun mendengarnya, ia kaget dengan kalimat ini." Jadi selama ini kamu mencintai dia karena pernah menyelamatkanmu? Cinta seperti ini akan membutakan mu!"
Dino menatapnya, "Aku benar-benar mencintai Naomi.. Ma.. Aku sadar dia bisa mengisi kekurangan dalam diriku. Dia membuatku menjadi orang yang lebih baik."
"Dia menyelamatkan aku, tidak hanya sekali tapi dua kali." Tambah Dino. Ia kembali menatap Ratih dengan parau, "Mama ingat bekas luka ini. Waktu itu umur aku 9 tahun. Mama ingatkan sejak kecil aku suka banget berantem sama teman-teman di sekolah. Waktu itu, saat pulang sekolah, aku gak sengaja jatuh dari sepeda karena di dorong sama teman aku. Gak hanya itu ia mendorongku hingga prakarya botolku jatuh dan pecah. Mereka mengeroyokku, hingga tanganku mengenai pecahan kaca itu."
"Ia mama tahu itu... Papamu marah besar!" Mereka mengenang peristiwa dimana Sang Ayah begitu tegas membela anaknya.
"Mama tahu gimana caranya aku bisa selamat? Karena ada seorang anak perempuan yang tiba-tiba melempar mainan ular-ularan karet dan membuat semuanya kabur." Ucap Dino tersenyum mengingat hal itu. Ratih mencoba menebak jika anak itu adalah Naomi. Dino membenarkan jawaban itu, "Tapi dia gak tahu ma kalau dia udah menyelamatkan aku. Dia tahunya, aku hanya jatuh dari Sepeda bukannya karena aku kalah sama teman-temanku. Lucu ya ma, dulu aku tetap gak mau kelihatan lemah."
"Ma, lalu aku pergi mencari siapa pemilik ular itu. Aku melihat Naomi, ternyata ular itu berasal dari hadiah teman yang sedang mengerjainya."
Dia lalu tersenyum mengingat ekspresi kaget Naomi saat itu. "Dia teman perempuan pertamaku. Mama ingatkan bertapa gendutnya aku saat itu."
Sebelum operasi transplantasi, aku beberapa kali pergi menemui salah satu hipnoterapis untuk membuka lagi ingatan masa kecilku. "Aku ingat, selain peristiwa kebakaran itu. Aku pernah diculik, dan Naomi dia yang menemani aku. Dia juga menyelamatkanku sekali lagi." Ratih langsung memeluk anaknya itu.
"Kenapa, Naomi gak mau maafin aku. Kenapa Nino gak bisa lupain masa lalu? Kenapa? Kenapa harus papa, ma?" Kata Dino terus menerus. "Dan kenapa harus aku di mobil itu."
"Dino, dulu saat membangun perusahaan. Saingan papa kamu berusaha melukai kamu. Itu membuat kamu trauma sehingga kami sepakat untuk menutup cerita mengerikan itu.
"Termasuk kejadian malam itu, saat itu papa kamu benar-benar terdesak. Malam itu, papamu sedang mengantarkan mu ke rumah sakit." Jelas Ratih, "Mama udah baca buku catatan papamu." Ucapnya memeluk Dino yang rapuh.
"Papa kamu sangat menyayangimu, Nak. Sehingga dia mampu melakukan hal itu demi melindungi mu. Dia tak ingin kamu terluka dan merasa bersalah seumur hidupmu." Tambah Ratih sambil terus mengelus punggung anaknya yang menangis dalam pelukannya.
"Ma, aku gak ingin menyalahkan siapapun." Balasnya. Ia memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Kenapa kamu menandatangani surat itu?" Tanya Ratih membuat Dino kaget, "Mama tahu soal surat itu? Aku terpaksa, jika aku tidak mendatanginya, mereka tidak akan mengizinkanku, nyawa Naomi bisa terancam." Peluknya lagi.
"Ma, please cari tahu dimana Naomi sekarang." Pinta Dino pada Ratih hatinya.
"Iya, Dino. Mama akan mencari tahu keberadaan Naomi."
Seminggu berlalu dan akhirnya dokter mengijinkan Dino untuk keluar dari rumah sakit. "Pak, semua sudah beres. Bapak sudah bisa keluar dari rumah sakit." Ucap sang sekretaris.
"Saya ada urusan, kamu boleh kembali ke kantor sekarang. Terima kasih ya." Ucap Dino lalu menaiki taksi sendirian. Ia menunjukkan secarik kertas berisi alamat tempat tinggal Naomi sekarang.
"Dimana Dino?" Tanya Adam, ia hendak mengantarkan Dino. "Pak, Dino pergi naik taksi."
"Kenapa dikasih pergi sendirian!" Bentak Adam segera menyusul. "Dino, turun sekarang! Gw antar Lo ketemu Naomi! Turun! Gila Lo pergi sendirian! Kacau Lo!"