
"Kamu ..." Ucap Dino. "Apa yang kamu lakukan! Lepaskan mama dan juga anak-anak aku!" Dino terus memberontak, ia berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Terlebih lagi, Milka dan Domi terus menangis. Dia pasti sangat ketakutan. "Jangan sakiti anakku." Pinta Naomi dia sudah sangat lemah. Dino kuatir dengan kondisi Naomi. Mukanya pucat, "Naomi kamu baik-baik saja?"
Dino sangat cemas, ia sangat kesal melihat keadaannya yang terikat dan tak bisa bergerak sementara anak dan ibunya dalam bahaya.
"Diam! Kamu! Dasar wanita tidak berguna! Dasar wanita murahan! Tukang selingkuh!" Bentak Wanita itu. "Diam! Kamu! Kamu gak berhak menghina Naomi." Bela Dino. Wanita itu tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. "Kenapa Dino?" Ledeknya, ia lalu mendekat dan menyentuh wajah Dino. "Kenapa kamu terus membela dia? Padahal kamu tahu dia sudah mengkhianati kamu. Membuat kamu sedih dan tertekan." Godanya.
"Jauhkan tanganmu dari aku." Dino tak ingin disentuh wanita lain. "Hanya Naomi yang berhak menyentuh aku. Selain dia tidak akan pernah apalagi kamu." Dengan dingin dan kasar Dino mengatakan kata-kata itu. Tanpa belas kasih dan tatapan tanpa pengampunan. "Jangan membuatku membencimu." Jawabnya lagi membuat wanita itu marah. "Membenciku? Aku yang selalu ada untuk kamu. Aku! Aku! Dino yang mengurus Milka saat dia sakit. Saat itu dimana Naomi, dia malah bersama laki -laki lain." Teriaknya melampiaskan emosi. "Aku tidak pernah berselingkuh." Potong Naomi terbata-bata. Naomi merasa pusing dan lemas. Tak terima dengan kata-kata Naomi, wanita itu meliriknya lalu mendekat. Dia menampar Naomi, Diam kamu! Kamu merebut Dino dari aku! Katanya berulang-ulang. Dino tak terima melihat itu semua. Ia ingin bergerak, namun keadaan belum aman. Mereka semua masih waspada dengannya. Terlebih lagi, Milka dan Domi terus memanggil namanya sambil menangis. Sementara, Ratih terikat di kursi dengan mulut tertutup plaster. Dari gerakannya, ia juga meminta Dino untuk hati-hati. Dino, jangan gegabah! Aku harus hati - hati Naomi bertahanlah. Dia melihat Naomi terjatuh dengan tangannya yang terikat di depan. "Jangan sakiti Naomi!" teriak Dino.
"Mama ... papa..." Teriak Domi. Dino langsung menoleh, "Samantha! Kalian!" Dino bertanya-tanya bagaimana mereka bisa saling kenal. "Tidak hanya Samantha tapi juga aku!" Serra muncul dan Wanita yang sedari tadi berinteraksi dengan Dino dan Naomi bergabung bersama mereka. "Serra, kenapa kamu begitu membenciku? Aku tidak punya hubungan apapun denganmu." Ucap Dino heran mengapa Serra menjadi kaki tangan Samantha.
"Samantha! aku rasa hubungan kita sudah seharusnya berakhir. Sejak awal kita tidak berjodoh, aku tidak pernah mencintaimu. Aku membiarkanmu pergi untuk kebahagiaanmu. Kenapa kamu harus menjadi seperti ini? Meskipun kita putus aku tetap membantu perusahaanmu, tidak ada yang berubah. Kamu bahkan menyakiti mama aku yang selalu membela kamu."
"Aku begini karena kamu mencintai wanita itu. Aku yang melahirkan Milka. Kita seharusnya bersama." Ucap Samantha penuh kebencian dan tidak terima dengan keadaan. "Kenapa kamu harus kembali dan melahirkan Domi! Kenapa!" Ia menangis dalam kesakitan.
"Aku mencintai Naomi jauh sebelum aku mengenal kalian semua. Disaat hanya ada Naomi wanita yang aku kenal. Aku sudah mencintainya lebih dari 20 Tahun. Sementara kalian, baru saja bertemu dengan aku. Samantha, kamu memang melahirkan Milka tapi dia adalah anak aku dan Naomi." Ucap Dino. Naomi tertegun mendengar perkataan Dino. Ia memegang perutnya, "Anakku harus selamat." Ia melihat perjuangan Dino. Ia jatuh cinta lagi pada Dino. Dino tersenyum padanya. Sekilas ia mengingat senyuman Dino saat mereka masih pacaran dulu. Ketika mereka sedang liburan di pegunungan Everest dan terjebak Badai, Dino melindungi Naomi, ia tersenyum sambil menyalakan api. "Badai akan berlalu." Ucapnya dengan senyum yang sama. Naomi kamu harus bertahan, saat ini kamu harus menjaga bayi kita. Ia menatap Naomi berharap dia kuat dan tegar. Dino, aku pasti menjaga bayi ini. Iya mengangguk kepada Dino.
"Jangan!" Dino melemparkan batu dan mengenai tangan Samantha hingga dia berdarah. Dino lalu bangkit dan mengeluarkan senapan dari depan bajunya. "Lepaskan mama aku." Setelah berkata demikian, orang-orang yang berada disekitar mereka bertiga berbalik menyerang mereka semua. "Kalian dasar penghianat!" Teriak Serra. Salah satu dari orang berbaju hitam itu membuka topinya. "Sejak awal kami hanya patuh pada perintah Pak Dino." Alex membuka penyamarannya dan semua yang ada di sana adalah anak buahnya.
Samantha dan Serra bingung dimana semua anak buah yang sudah di sewanya. "Semuanya sudah aku amankan Samantha, Serra." Dino berjalan mendekati Ratih sementara Milka dan Domi sudah diamankan oleh anak buahnya Alex. "Sudah lama aku tahu bahwa kalian bekerja sama. Sudah lama aku mengetahui hubungan kamu Serra dengan mama aku. Aku pun tahu apa yang sudah mama lakukan. Aku tahu dengan jelas, Aku pun tahu kapan dimulainya, kamu bekerja sama dengan Mama." Ucap Dino.
"Aku tahu rencana kamu Samantha, Serra bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan identitas kamu yang baru, yakin bukan Alex orang yang kamu temui?" Serra kaget selama ini justru dia masuk dalam jebakan. Kalau aku tidak menjebak Serra, aku tidak akan bisa bertemu denganmu hari ini." Ucap Dino, Samantha semakin terpojokkan. Ia terjebak, "Barusan kamu sudah mengakui semuanya." Dino lalu mengeluarkan semua rekaman suaranya dengan Serra. Semua rencana-rencananya terbongkar disitu. Serra semakin ketakutan. "Serra, terima kasih karena kamu mempermudah segalanya. Samantha, dia bahkan ingin menjadikan rekaman ini untuk mengancam kamu."
"Dan kamu Santi! kenapa kamu ikut-ikutan mereka. Bukankah kamu sudah pergi ke luar negeri dan belajar disana?" Dino heran dan bersimpati pada Santi.
"Serra! Dasar penghianat!" Teriak Samantha. Ia sadar, ia harus melarikan diri. Semua sudah ketahuan. Samantha lalu mendorong Ratih hingga wanita paruh baya itu kesakitan.
"Jangan bergerak!" Seorang berbaju hitam menghunuskan pisau di punggungnya. Biarkan Samantha bebas." Ternyata masih ada orang suruhan Samantha yang bebas.
"Papa ...Mama.... Domi takut!"