Never Forget

Never Forget
Ratih



Apakah aku salah melakukan itu semua? Aku melakukan itu semua demi anakku. Anakku satu-satunya, Dino.


Ratih hanya bisa menitihkan air matanya, melihat Dino pergi meninggalkannya. Dino yang dulu selalu berada di pelukannya. Selalu menemaninya, menghiburnya dan memeluknya. Kini, ia memilih bersama istrinya dan meninggalkannya sendirian. Sakit rasanya hati ini.


"Dino!" Panggil Ratih, ia merasakan sakit di dadanya. Dino! Panggilnya terus.


"Mama..." Dino datang dan langsung menggendongnya. "Cepat panggil ambulance atau siapkan mobil sekarang juga. Minta Pak Danu/Pak Beben. Cepat Bi!" Seruti langsung berlari mencari kedua Supir tersebut.


"Bi, ada apa?" Tanya Naomi. Ia melihat Bi Seruti panik.


"Penyakit Nyonya Ratih anfal Non Naomi. Den Dino sedang bersama dengan Nyonya Ratih." Ucapnya Bi Seruti.


Naomi langsung meminta Reihan untuk menghandle acara tersebut karena ia harus segera bergegas untuk membantu Dino di atas. "Reihan, tolong bantu handle para tamu, Mama Ratih anfal." Ucap Naomi panik, ia segera bergegas menuju ke ruang kerja Dino.


"Dino.." Panggil Ratih terdengar di telinga Naomi. Naomi lalu berhenti dan bersembunyi di dinding di luar pintu itu. Pintu itu tidak tertutup masih ada sedikit celah untuk mendengarkan pembicaraan anak dan ibu itu.


"Dino... Jangan tinggalkan mama nak. Mama hanya punya Dino. Dino sadarkan itu?" Ratih memeluk Dino sambil memegang dadanya yang sakit. "Dino.. mama sayang Dino. Mama peduli sama Dino." Ucapnya sambil menangis. Dino juga menangis. "Mama lakukan semua untuk Dino. Dino boleh salahkan mama, benci mama, tapi Dino gak pernah ada di posisi mama."


Dino terus menitihkan air mata. "Ma.. sudah aku paham. Dino gak menyalahkan mama atau siapapun. Hal ini memang harus aku alami. Dino harus melalui ini. Aku gak menyalahkan mama membenci Naomi." Ucapnya sambil mengelus punggung Sang Ibu. "Dino sayang mama, dan itu gak pernah berubah. Mama yang memberikan dunia ini pada Dino." Ucapnya lagi seraya meminta maaf. "Maa.. maafin Dino. Aku anak yang tidak berbakti. Aku mencintai wanita yang mama benci, tapi aku juga tidak bisa melepaskan dia. She is my live."


Ratih langsung merintih kesakitan, "Maa... Bibi, Someone help!" Naomi yang mendengar semua pembicaraan singkat itu merasakan belati menusuk hatinya. Dia sadar telah membuat Dino berada di persimpangan antara dirinya dan ibu mertuanya. Baru pertama kali, ia melihat Dino seperti itu. Ia tahu Dino serba salah. Dino menangis, ia merasa bersalah pada ibunya. Dino memeluk ibunya dengan erat.


Maaf Dino ini salahku.. Naomi juga menangis merasakan kesedihan Dino.


"Someone help!!" Teriak Dino. "Naomi...." Dino menatap Naomi wajahnya merah seperti orang habis menangis. Namun keduanya hanya bisa diam, saling menatap dan menyimpan semuanya dalam hati. "Kita bawa mama ke rumah sakit. Semua tamu sudah pulang." Ucapnya. Ia membantu Dino membawa mamanya kebetulan ambulance datang dan mereka pergi bersama.


Selama diperjalanan Dino terus memegang tangan mamanya. Ratih terus menatap Dino, dari kedua matanya ia sangat bersedih. Ia menguatkan genggaman tangannya. Ia ingin mengatakan semua baik-baik saja. Ia juga menatap Naomi, ia melihat wanita itu juga bersedih karena kondisinya.


Kenapa kamu harus kembali ke dalam hidup Dino anakku? tanyanya dalam hati memejamkan matanya.


"Semuanya harap tunggu di luar, kami akan segera menangani pasien." Ucap Dokter yang berjaga hari itu.


"Dok, tolong mama saya. Berapapun biayanya gak masalah. Tolong mama saya." Dino terus memohon pada Dokter. Dokter itu mengiyakan dan mengatakan akan melakukan yang terbaik bagi keselamatan Ibu Ratih.


Dino benar-benar kalut, ia takut kehilangan Sang Ibu. "Dino..." Panggil Naomi, lelaki itu langsung berbalik dan memeluk Naomi. Ia meletakkan kepalanya di pundak Naomi. "Peluk aku yang erat, Nom. Aku butuh kamu, I need you." Dino juga memeluk Naomi dengan erat. Ia tak ingin melepaskannya.


"Aku selalu ada di sini, No...." Ucap Naomi


"Nom.. maafin mama aku. Maafin aku juga." Dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku gak bisa memberikan kamu keadilan, aku tahu mamaku salah. Maaf Nom, aku gak bisa memilih kamu atau mama. Aku sayang kalian berdua." Ucapnya pada Naomi. Naomi mengelus dan menepuk pundak Dino. Ia tahu rasanya jadi Dino.


"No.. Saat kamu harus memilih. Pilihlah mama. Dia yang memberikan kamu Dunia ini. Aku gak menyalahkan mama mu untuk semua yang terjadi..." Ucap Naomi membuat Dino semakin berderai air mata.


"No.. aku juga pernah salah. Aku pernah menyakiti kamu dan menyakiti mama. Aku seorang ibu sekarang. Aku mengerti mama." Tambahnya ia meminta Dino untuk menatapnya.


"Dari dulu sampai sekarang, yang aku inginkan hanya mama, kamu dan keluarga kita." Ucapnya memeluk Naomi. Kini bukan lagi Dino yang bersandar tapi Naomi. Ia bersandar di dada Dino. "Menangislah Naomi, aku tahu kamu mendengar semua di ruang kerja tadi. Kamu sudah menjadi sangat dewasa. Kita hadapi bersama-sama. Sekali jadian gak boleh putus." Ucap Dino memeluk Naomi erat. Naomi juga sebaliknya ia menangis sambil memeluk erat.


"Aku takut, No. Takut kehilangan kamu." Ucapnya.


"I always be with you Naomi.."