
Terima kasih Tuhan, aku sangat bersyukur kini diriku telah memiliki Domi dalam hidupku. Tuhan bantu aku menjaganya.
Kini perasaanku bercampur aduk, ada perasaan bahagia, terharu, bersyukur tapi tidak dipungkiri kemarahan juga ada di hatiku. Kemarahan kepada Naomi dan juga diriku sendiri. Bertapa bodohnya aku, kenapa aku melakukan hal itu, memutuskan semua komunikasi ku dengan Naomi. Kalau saja aku tetap menggunakan ponsel lamaku. Domi, akan hidup dengan orangtuanya. "Domi, maafkan papa ya, butuh waktu 6 tahun bagi papa untuk datang menemui kamu."
Dino menjaga Domi sampai ia tertidur, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Naomi dan Oma Murni juga sudah tertidur sementara Gilang dan yang lainnya diminta pulang olehnya. Dino menghampiri Naomi yang tertidur pulas di sofa, dahinya terus mengkerut. Naomi bermimpi buruk dan gelisah. "Nom, tidurlah dengan nyenyak." Ucap Dino.
"Dino! Jangan! Jangan bawa Domi! Jangan! Jangan!" Teriaknya tidak sadar. Ia menggenggam tangan Dino erat. Jangan! terus ucapnya sambil menangis. Dino bisa merasakan ketakutan Naomi. Ia hanya bisa mengelus rambut Naomi sampai di bisa tidur dengan nyenyak. "It's ok, Naomi. Semua akan baik-baik saja. Aku tidak akan merebut dia. Kamu adalah ibunya." Dino mengecup dahinya.
"Benar Dino." Naomi membuka matanya, ia berada dalam keadaan setengah tidur.
"Ia, aku gak pernah bohong sama kamu." Ucap Dino dan akhirnya Naomi kembali tidur. Dino menyelimuti Naomi dengan jaket nya.
"Oma, aku pamit pulang ya.." Ucapnya ketika tak sengaja Oma Murni terbangun karenanya. Oma hanya bisa memeluknya, terlalu bahagianya dia bisa bertemu lagi dengan Dino. Ia bahkan tak rela melepaskan Dino pergi.
"Dino maafkan Oma, kami banyak salah kepadamu. Dino bisakah kita bicara di luar." Pinta Oma, ia menarik Dino keluar dan memintanya untuk tidak membangunkan Naomi ataupun Domi.
"Dino, maafkan Naomi. Dia tidak pernah bermaksud memisahkan kamu dan Domi. Semasa dia mengandung, hidupnya sangat susah. Nino selalu memaksanya untuk mengugurkan Domi yang akhirnya membuat Naomi masuk ke Rumah Sakit. Ia sempat mengalami pendarahan, beruntung kandungannya masih bisa di selamatkan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk pindah ke Bogor." Oma mulai menceritakan semua termasuk bagaimana kehidupan mereka setelah pindah ke Bogor. "Kehidupan menjadi semakin sulit, Naomi harus bekerja keras di saat kandungannya sudah semakin besar. Semua kerjaan kami lakukan mulai dari membuat roti, mencuci baju, hingga membuat katering demi kehidupan kami." Lanjut Oma.
"Oma, kenapa kalian gak menghubungi aku. Kenapa gak kasih tahu aku? Oma bisa datang ke rumah aku." Tanya Dino, ia merasa sangat menyesal mengetahui kesusahan Naomi, ini sangat berbanding terbalik ketika Samantha mengandung Milka. "Kenapa Oma..."
"Naomi sudah datang ke perusahaanmu dan bertemu dengan pamanmu."
"Paman? Om Togaya?" Timbul banyak pertanyaan di benaknya. Berarti seharusnya Om Togaya tahu soal ini? Mengapa ia tak memberitahuku sama sekali? Setiap kali aku bertanya tidak ada kabar tentang Naomi.
"Iya, tapi dia malah mengusir Naomi dan justru memasukkan namanya di dalam daftar hitam karyawan. Dia tidak membiarkan Naomi mendapatkan pekerjaan." Oma Murni selalu menangis setiap mengingat kejadian itu. Tetapi Dino berbeda, dia kaget mendengarnya. "Mengusir Naomi..."
"Tapi Oma, bukankah Naomi sudah menikah dengan Gilang? Apa Gilang tidak memberikan Naomi nafkah karena ia mengandung anakku?" Tanya Dino dan Oma menggeleng, "Mereka tidak pernah menikah Dino." Jawaban ini seperti meluluh lantakkan semua dunia Dino. Selama ini yang ia tahu Naomi sudah kembali menikah sehingga ia bertekad untuk melupakannya. "Tidak menikah, O-ma." Ia mulai bergetar, ia merasa semua ini salah.
Tuhan selama ini aku mengira dia sudah menikah. Kenapa jadi seperti ini? Kenapa?
Dino terdiam, ia sangat terpukul. Om Togaya membohongiku? Ia mengatakan Naomi sudah kembali menikah dengan Gilang? Tapi kenapa Om? Dino terjatuh, kakinya lemas. Ia jatuh menundukkan kepalanya. Ia sangat menyesal kepada Naomi dan Domi, Bahkan Om Togaya membohongiku, siapa lagi yang bisa aku percaya. Dino menyalahkan dirinya,
"Oma ini aku yang salah. Aku memang gak pantas menjadi ayah untuk Domi." Ucapnya sambil menangis. Bodoh! Bodoh! Ia memukul dadanya yang sakit menerima kenyataan ini.
"Sudah! Sudah! Sudah!" Ucap Oma Murni, ia memeluk Dino yang menangis. "Menangislah..."
"Oma... Bagaimana aku menghadapi Naomi? Aku dan dia memang tidak di takdirkan bersama." Dino semakin larut dalam tangisannya. Oma terus mengelus dan memberinya kekuatan.
"Kamu adalah ayah terbaik bagi Domi... Ia bertahan dalam kandungan Naomi karena Domi tahu, dia akan punya orangtua yang hebat dan mengasihi dia. Kamu bahkan menyelamatkan nyawanya sebelum tes DNA itu dilakukan." Ucap Oma, ia juga sedih dan menangis.
"Kamu adalah ayah terbaik untuk Domi. Kamu gak boleh ragu. Dia adalah anakmu. Jadilah contoh yang baik untuk Domi." Ucap Oma lagi, Dino tak bisa berhenti menangis.
Dino akhirnya masuk ke rumah dan berjalan menuju kamar Milka. Ia melihat Milka yang tertidur pulas dan bersimpuh di samping tempat tidurnya. Ia mengelus rambut Milka, membuatnya terbangun. "Papa..." Ia langsung memeluk Dino dengan erat. "Malam ini tidur sama papa. Papa bacakan buku seperti biasa."
"Dino!" Ratih masuk ke kamar Milka setelah mendengar bahwa Dino sudah kembali setelah seharian tidak bisa dihubungi. Ia menanyakan keberadaan Dino seharian dan mengatakan bertapa Milka merindukan ayahnya.
"Ma, pernahkah mama berbohong padaku?" Tanya Dino sambil mengendong Milka di dadanya.
"Tidak Dino, mama tidak pernah berbohong." Ucap Ratih tapi ia menerima mata kekecewaan dari Sang Anak. "Aku berharap masih bisa percaya sama mama." Balas Dino dengan kecewa. Bahkan mama tetap gak mau jujur sama aku.
"Milka, papa minta maaf karena papa sibuk seharian ini." Ucapnya
"Pa, Milka sayang papa. Jadi gak mungkin marah. Pa.. kapan kita ketemu mama?" Tanya lagi.
"Secepatnya Milka. Milka bagaimana kalau tenyata Milka punya saudara atau Adik?" Tanya Dino.
"Milka gak mau papa... Milka gak mau papa sayang sama yang lain." Ucapnya membuat Dino terdiam. Ini akan sulit buat Milka untuk menerima Dino tapi bagaimanapun harus dia lakukan. Ia tersenyum dan menyuruh Milka untuk tidur lebih cepat karena besok ia akan mulai bersekolah. Setelah memastikan Milka tidur, Ia beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang ke kerjanya.
"Kamu harus istirahat, Jangan terlalu memforsir waktumu. Milka masih membutuhkanmu." Ucap Togaya yang keluar untuk mengambil air minum.
"Tak hanya Milka tapi juga Domi." Balas Dino, membuat Togaya kaget. "Domi..?" Sepertinya Om Togaya tidak tahu soal ini. Dino mendekati Togaya dan bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya 6 tahun yang lalu namun tiba-tiba Ratih datang dan melerai keduanya. Ia meminta semuanya berhenti dan tak perlu dibahas lagi.
Ratih juga menceritakan kepada Togaya tentang Domi yang adalah anak kandung Dino dan Naomi setelah mereka melakukan tes DNA.
"Apa anak Dino dan Naomi?" Togaya sepertinya terkejut mendengar itu semua. Ia seakan tidak mengetahui apapun terkait hal ini. "Kok bisa Dino kamu punya anak dengan Naomi? Bukankah kalian sudah bercerai?" Justru itu yang ditanyakan Togaya pada Dino.
"Om, yakin gak tahu sama sekali soal kehamilan Naomi?" Tanya Dino langsung.
"Kamu mencurigai Om, Dino?" Balas Togaya ia mulai serius. "Kamu adalah satu-satunya harapan Om, dan Om melakukan semua hal demi kebahagiaan kamu. Om gak ingin kamu ragu akan hal itu. Kamu satu-satu keturunan Bratayudha! Kamu satu-satunya kakakku, Mba Ratih!"
"Togaya! Sudah! Sudah! Dino sudah! Kita gak perlu bahas lagi!" Ratih melerai keduanya.
"Ma, aku mau bicara dengan Om Togaya." Namun Ratih tetap melarang dan meminta adiknya itu kembali ke kamar.
"Kamu jangan 3 hari lagi kita ada peresmian Mall yang baru di Bogor. Kamu datang bersama Samantha dan Milka ya."
"Ma, aku berharap pemikiranku tidak benar. Aku akan membawa Domi ke sana."
"Tentu sayang. Tapi tidak dengan Naomi."