
Kenapa aku harus melihat semuanya. Kenapa harus Gilang yang memiliki Domi? Kenapa Domi anak Naomi dan Gilang? Kenapa Tuhan? Kenapa!!! Kenapa, anak aku harus berbagi ibunya dengan anak lain! Kenapa!
Dino terus memukulkan tangannya ke stir mobil miliknya, hujan semakin deras. "Bagaimana aku harus bicara pada Milka jika ibunya tak mungkin kembali pada kami? Bagaimana aku bisa menyakiti Milka? Bagaimana bisa?" Dino menangis sejadi-jadinya.
"Bodoh kamu Dino! sejak awal kamu tahu mereka sudah bersama setelah perceraian itu. Kenapa kamu masih seperti ini Dino. Kamu punya Milka!" Ia terus menangis tiada henti, apalagi kita ia mengingat bagaimana Nino dan Gilang menghadang mobilnya pada malam itu.
"Dimana Naomi! Jawab!" Nino dengan membabi buta menghajar Dino. "Lo dengar ya! Setelah Lo bercerai, Naomi dan Gilang akan menikah! Lo jangan jadi penghalang hubungan mereka!" Ancam Nino padanya. "Aku gak akan ganggu dia lagi.." Ucap Dino pasrah di bahkan tak melawan. Ia hanya duduk di samping mobilnya sambil menangis.
Sesampainya di San Fransisco, ia sempat patah semangat dan hanya menghabiskan hidupnya dengan minum-minum di Bar sampai mabuk. Ia bermalas-malasan, sampai tak punya keinginan untuk hidup.
"Dino bangun!" Ajak Ratih yang tak tega melihat Dino hancur, ia bahkan tak merawat dirinya sendiri. Kumisnya dan jenggotnya tak dibersihkan sehingga membuatnya terlihat berantakan. "Ma.. Aku masih mau tidur." Balas Dino.
"Dino! Kamu anak mama satu-satunya. Pewaris semua kekayaan Bratayudha. Kamu gak boleh begini, perusahaan butuh kamu. Mama masih ingin menimang cucu dari kamu."
"Ma ... aku udah gak punya apa-apa lagi. Sekarang, mama mau punya cucu? Aku udah gak punya istri ma. Aku gak mau punya anak dari wanita selain Naomi...."
"Mama ingin seorang cucu Dino." Desak Ratih, ia ingin Dino menikah lagi.
"Ok, kalau mama mau punya cucu. Aku akan kasih mama cucu. Urusan perusahaan tenang aja, aku gak akan lepas tanggungjawab." Balasnya.
Sebulan setelahnya, Ratih menemukan surat prosedur ibu pengganti, dengan nama Samantha, ayah dan ibu: Naomi dan Dino.
"Dino, apa-apaan ini?" Tanya Ratih.
"Ma, aku akan jadi seorang ayah. Mama akan jadi Oma." Balas Dino sambil lanjut bekerja.
"Maksudnya mama kamu harus menikah lagi."
"Ma, aku gak akan menikah selain dengan Naomi. Jadi aku hanya akan punya anak dengan dia. Apapun akan aku lakuin, untuk mewujudkan keinginan ini."
"Mulai hari ini, tugas mama menjaga Samantha dan cucu mama dengan baik." Ucap Dino meninggalkan Ratih sendiri diruang kerja Dino.
Air mata Dino mulai membasahi kedua pipi. Jika ia mengingat lagi hal tersebut, ia semakin hancur. "Rasanya sakit sekali Naomi, melihat kamu berbahagia bersama Gilang. Melihat Domi punya orang tua yang lengkap." Dino terus menangis, ia mengingat Milka yang ia besarkan sendiri tanpa seorang ibu. Ia ingat bagaimana, harapan Milka untuk bertemu ibunya. "Kenapa? Aku tetap kalah dengan Gilang, Nomi?" Ia memukul stir mobilnya.
Hujan turun dengan deras, ponselnya terus berdering. Milka terus menghubunginya. Ia tak sanggup berbicara dengan Milka. Apa yang harus dia katakan pada putri kecilnya?
Ia sangat tidak siap, hatinya hancur berkeping-keping.
Ia bergadang dan menangis sampai matanya bengkak.
"Papa..." Teriak Milka yang sejak tadi sudah menunggunya. Ia lalu memeluk Dino dan menanyakan, "Papa kenapa?" mendengar itu semakin membuat Dino menangis. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Milka. Ia menangis tersedu-sedu.
"Milka ....."Panggilnya memeluknya dengan erat.
"Dino kamu kenapa, nak?" Tanya Ratih.
"Ma, aku mau mandi dulu." Balasnya langsung pergi ke kamarnya dan menguncinya. Ia membenamkan dirinya dalam bathtub besar di kamarnya. Ia terus mengingat kejadian kemarin dan wajah Domi yang membuatnya jatuh cinta. "Why, Naomi? Kenapa kamu kasih nama itu untuk anak kamu dan Gilang! Domi itu seharusnya nama anak kita." ia kembali membenamkan dirinya.
Setelah lebih tenang, ia lalu melihat foto Milka. Bertapa bahagianya dia ketika Milka lahir. Itu adalah hari pertama, ia bertemu dengan Milka. Semenjak, Samantha dinyatakan hamil setelah proses 'fertilisasi in vitro' (IVF) ia tidak pernah bertemu dengan Sang Ibu Pengganti. Dino hanya tahu perkembangan dari Sang Ibu, Ratih yang terus mendampinginya. Ketika itu, ia mengendong Milka kecil dan memeluknya dengan lembut. Tangan kecil Milka memegang telunjuk Dino. Membuatnya terharu, "I'm your father, Milka." Peluknya.
"Milka, maafkan papa" Ucapnya lalu menghampiri Milka. "Papa, kapan mama akan menemui kita?"
"Mama, gak akan datang. Milka hanya akan hidup bertiga dengan papa dan Oma. Bi Minah buang lukisan itu." Ucap Dino membuat Bi Minah dan Ratih kaget. "Ayo! Buang! Singkirkan sekarang juga!" Bentak Dino.
"Gak boleh! Itu gambar mama." Milka menolak dan memberontak.
"Milka dengar papa, mama gak akan datang! Dia gak akan temui Milka!" Balas Dino menahan Milka.
"Papa, bohong. Mama pasti datang temui Milka. Milka udah menunggu mama selama ini. Papa bohong! Milka mau mama!" Ucapnya merengek.
"Milka diam! stop bilang mama! gak ada mama!" Dino membentak Milka untuk pertama kali.
"Dino!" Adam datang dan meminta Dino tenang. "Dino! Lo harus sabar. Lo kenapa?" Tanyanya.
"Dam, kasih tahu sama Milka. Mamanya gak akan datang. Suruh dia berhenti menangis!" Ucap Dino yang juga menahan kesedihannya.
"Diam Milka! Bibi buang gambar itu!" Ucapnya meninggalkan kamar Milka. Milka terus menolak dan meminta Bi Minah untuk jangan membuangnya namun Adam justru menyuruh agar lukisan itu segera di singkirkan. Ia tak ingin Dino bertambah marah dan malah melampiaskannya pada Milka.
"Om Adam, jangan dibuang!" Pinta Milka di pelukan Adam. Sementara di ruangannya, ia masih bisa mendengar tangisan Milka, ia juga menangis namun dia gak bisa terus membuat Milka berharap pada Naomi.
"Dino! Ada apa?" Kejar Adam. "Lo liat Milka sampai nangis seperti itu."
"Dam, aku ketemu Naomi. Naomi dan Gilang sudah menikah dan mereka sudah punya anak. Namanya Domi. Aku gak bisa lihat Milka kecewa setelah melihat ibunya bersama anak lain..."