Missing You

Missing You
Bab 9



Jujur. Sebenarnya aku tidak ingin pulang secepat ini. Pak Chang terpaksa menyuruhku pulang agar kami tidak melakukan kesalahan yang akan kami sesali. Aku tahu kalau kami memiliki dunia yang berbeda. Aku juga sadar kalau aku hanyalah pembantu dan tidak mungkin bisa berada disisinya saat dia menerima sorotan lampu.


Tapi berada di rumah ini dengannya selama satu bulan ini membuatku merasa nyaman berdekatan dan bersentuhan dengannya. Dia selalu memulai menggodaku, tapi aku tidak bisa melupakan betapa nyamannya aku diperlakukan seperti itu.


Aku masih ada di depan rumah Pak Chang dan tidak berniat pulang ke rumah. Besok dia akan pergi ke Busan dan dua bulan lagi mungkin kami akan bertemu lagi. Saat itu aku pasti sudah lupa bagaimana wajah dan badannya.


Apakah aku menyukainya? Mungkin, aku juga belum merasa pasti. Baju couple, pelukan dan ciuman itu membuatku merasa senang.


Aku menyalakan ponselku, menekan nomor Pak Chang dan terdiam. Aku menghapus nomor Pak Chang lagi dan menekannya lagi. Kalau telpon itu tersambung apa yang harus kukatakan.


Sebaiknya aku pulang sebelum melakukan hal yang akan kusesali nanti. Langkahku terhenti saat pintu depan rumah Pak Chang terbuka. Pak Chang keluar rumah. Dia memakai baju hangat berwarna abu dengan celana hitam dan sepatu coklat. Semua yang dipakainya selalu tampak bagus dan mahal. Mungkin memang kenyataannya begitu.


Baju Pak Chang mungkin sama harganya dengan biaya sewa rumahku tiap tahun. Kadang aku melihat harga jas yang digantung di ruang wardrobe. Aku merasa luar biasa takut saat memindahkannya, karena takut merusaknya.


Pak Chang melihatku dan aku juga melihatnya. Kami dipisahkan jalan raya selebar 7 meter. Dia hanya melihatku dengan heran. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku masih disini?


Sepertinya dia tidak tertarik sama sekali, karena dia masuk mobil dan pergi entah kemana meninggalkan aku yang terus menatapnya. Inilah yang harus terjadi, kami menjalani hidup kami sendiri dan hidup di dunia kami sendiri.


Aku bangun terlambat 1 jam hari ini. Karena Pak Chang memberi kesempatan datang terlambat. Triiiing...triiiing....ada panggilan masuk di ponselku. Pak Park yang menghubungi.


"Jin Ae?" aku menjawab dengan sedikit mengantuk. "Halo Pak, ada yang bisa Saya bantu?" Ada apa Pak Park menghubungi pagi-pagi. Biasanya hanya mengirim pesan. "Apa kau ada di rumah?"


"Belum Pak, kemarin Pak Chang mengijinkan Saya datang terlambat."


"Saya ada di bandara Incheon sekarang, tapi baju Min Jung tertinggal di ruang kerja, bisa tidak kau mengantarnya ke Incheon sekarang?"


aku melihat jam "Bapak berangkat pukul berapa?"


" Jam 8 pagi, mobil yang kami pakai sudah kembali ke Seoul dan staff sudah berangkat dengan penerbangan kemarin malam."


Aku bangun tergesa-gesa. Aku harus cepat kalau tidak mau terlambat ke Incheon. Cuci muka, sikat gigi dan berganti pakaian.


Aku keluar dari rumah pukul 06.00. Naik taksi ke Itaewon. Dari Itaewon naik taksi 1 jam ke Incheon. Semoga waktunya cukup sebelum Pak Park berangkat. Sampai di Itaewon aku masuk lewat pintu depan untuk menghemat waktu. Koper Pak Chang bisa kutemukan dengan mudah. Aku harus cepat pergi ke Incheon.


Matahari baru saja muncul dan memberikan sinar hangatnya. Pagi ini agak dingin. Aku keluar rumah hanya menggunakan baju hangat tanpa mantel karena buru-buru. Untung saja sopir taksi yang kunaiki mengerti dan menyalakan penghangat.


Aku sampai Incheon tepat pukul 7.15. Tinggal menghubungi Pak Park. Aku menghubunginya tapi tidak ada yang menjawab. Kuhubungi untuk kedua kalinya juga tidak dijawab. Aku berkeliling di terminal keberangkatan, tapi tidak melihat Pak Park atau Pak Chang.


Akhirnya aku mencoba menghubungi Pak Chang, dan diangkat. "Ada apa?" suaranya terdengar tidak senang. "Maaf Pak, saya menghubungi Pak Park tapi tidak diangkat. Saya membawa koper Anda yang tertinggal di rumah. Saya harus antar kemana?" aku masih terus melihat sekeliling.


"Kau di Incheon?"


"Iya Pak. Bapak dan Pak Park ada dimana?"


"Aku ada di Strar**ks. Dekat dengan pintu masuk"


Aku mulai berlari menuju tempat Pak Chang.


Ada beberapa penggemar perempuan yang berkerumun di depan toko kopi terkenal ini. Aku melewati mereka dan sampai di pintu masuk toko, tapi dihalangi untuk masuk.


Sebelum aku menjelaskan, Pak Chang menarikku ke dalam mengatakan kalau aku staffnya pada pihak keamanan bandara. Terdengar teriakan protes penggemarnya.


"Ini Pak kopernya." akhirnya aku menyelesaikan tugasku. Aku berbalik ingin langsung pulang. Pak Chang memegang tanganku dan memaksaku duduk.


"Apa kau lari kesini? " katanya sambil membetulkan rambutku yang berantakan. Aduh, aku malu sekali. Karena tergesa-gesa aku hanya mengikat rambutku asal asalan dan sekarang terlihat seperti singa. Aku menepis tangan Pak Chang dan melepas ikat rambutku.


Pak Chang menatapku. Dia mengambil ikat rambut dari tanganku dan berdiri di belakangku. Apa yang dia lakukan?


Pak Chang mulai mengumpulkan rambutku di tangannya dan mengikatnya. Aku meraba rambutku, lumayan rapi. Ada senyum puas di wajah Pak Chang. "Terima kasih Pak".


Aku melihat sekeliling "Pak Park ada dimana pak?" dari tadi aku tidak melihat Pak Park.


"Dia di kamar mandi" Pak Chang melihatku lalu menyodorkan minumannya.


Aku melihatnya lalu melihat wajahnya. Apa yang dia inginkan?


"Minum, di luar dingin dan kau hanya memakai satu baju hangat." aku tersenyum pahit, itu semua karena aku buru-buru.


Aku memegang gelas kopi yang hangat dan mulai minum perlahan. Kopi hangat membuat badanku tidak kedinginan lagi. "Masih dingin?" Pak Chang melihatku yang sesekali menggigil.


Dia berdiri dan melepas long coatnya lalu menutup badanku dengannya. Aku berusaha menolak, karena tidak nyaman dengan pandangan pelanggan lain. Tapi Pak Chang memaksa. Aku seperti tenggelam dalam baju Pak Chang. Hangat, bau Pak Chang memenuhi hidungku membuatku merasa nyaman.


"Jin Ae, akhirnya kau datang" terdengar suara Pak Park yang memecah keheningan. "Iya Pak, ini koper yang Bapak maksud kan?" aku menunjuk koper yang kubawa. Pak Park memeriksanya dan memberi tanda oke padaku.


"Kau mau minum sesuatu Jin Ae?" aku melihat Pak Park lalu melihat kopi yang ada di depanku. Pak Park menatap Pak Chang dengan wajah kesal. "Tidak perlu Pak" aku menjawab agar suasana tidak menjadi lebih buruk.


Pak Park melihat jam. Sudah pukul 07.35. "Sudah waktunya kita boarding" dia menyenggol tangan Pak Chang. Aku melepas long coat Pak Chang yang ada di tubuhku tapi ditahan olehnya. Dia tidak membiarkanku melepasnya. "Sepuluh menit lagi." Pak Park hanya bisa menarik nafas panjang dan terpaksa duduk.


Aku merasa tidak enak pada Pak Park. "Saya pulang saja Pak" aku melepas mantel dan memberikannya pada Pak Chang. Aku membungkuk pada mereka berdua. "Saya pulang dulu dan Selamat jalan Pak."


Aku pergi keluar tapi ada banyak penggemar yang tetap menunggu di depan toko kopi. Wajah mereka terlihat tidak senang saat melihatku. Tiba-tiba terasa ada yang menggenggam tanganku.


Pak Chang tidak melepaskan tanganku dan terus berjalan. Kerumunan yang tadi tenang, sekarang menggila. Teriakan mereka memekakkan telingaku. Tapi Pak Chang tidak terpengaruh, Dia tetap memegang tanganku dan berjalan keluar bandara.


Pak Chang memanggil taksi lalu menyuruhku masuk dan duduk. "Terima kasih Pak." Semua terasa cepat sekali. Karena penggemar yang terus berteriak, aku tidak sadar Pak Chang mengecupku di bibir.


Dia menatap mataku dan menciumku lagi dengan cepat.


"Aku akan menghubungimu tiap hari. Tunggu aku di rumah." Aku hanya mengangguk lemah.


Taksi berangkat meninggalkan Pak Chang yang dikerumuni penggemar.


Aku menyentuh bibirku, hangat. Aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.