Missing You

Missing You
Bab 6



Pak Chang merasa kesakitan di beberapa bagian tubuhnya. "Dasar anak bodoh. Untung saja aku datang. Kalau tidak ibumu pasti pingsan lagi mendengar kelakuanmu". Aku duduk di sebelah Bibi Li yang masih emosi dengan sesekali melempar sesuatu ke Pak Chang. Laki-laki yang kuat tadi berubah menyedihkan, duduk di lantai memeluk kakinya.


"Kau ikut aku ke rumah sakit. Biar Jin Ae disini sendiri" Bibi Li datang untuk mengambil barang Nyonya Chang. Ponsel Pak Chang yang mati membuatnya mau tidak mau pulang ke rumah dan aku bersyukur untuk itu.


Bibi Li membersihkan kamar Pak Chang. "Kamu bisa tidur disini Jin Ae. Aku akan mengawasinya di rumah sakit. Tidurlah dengan tenang" Aku berterima kasih pada Bibi Li dan keduanya pergi ke rumah sakit.


Berada di rumah asing sendirian membuatku sedikit takut. Aku masuk kamar dan berusaha tidur. Pakaian yang kupakai tidak nyaman dipakai untuk tidur. Terpaksa aku menggantinya dengan baju yang dibawa Pak Chang tadi. Kali ini aku merasa aman memakainya, karena semalaman Pak Chang akan ada di rumah sakit. Tak lama aku tertidur.


Pukul 12 malam, ada mobil masuk pekarangan Nyonya Chang. Laki-laki yang memakai celana olahraga itu masuk rumah dan membuka pintu kamarnya. Dia melepas jaket, memelukku di bawah selimut dan tertidur.


Tring...tring...terdengar bunyi ponsel. Aku mencari ponselku dan melihatnya. Pukul 6 pagi, tidak ada pesan masuk di ponselku. Triiiing....triiiiiing. Terdengar bunyi ponsel lagi. "Halo...ada apa?" kenapa ada suara laki-laki di sini. Bukannya aku tidur sendiri kemarin malam.


Aku berbalik dan disanalah laki laki itu berada. "Aku tidak harus ke Jepang? Aku ada di rumah Anyang. Sisanya kuserahkan padamu" dia meletakkan ponsel dan melihatku yang masih terkejut. "Aku datang jam 12, kau sudah tidur. Baju ini cantik kau pakai".


Aku pasti sudah berlari keluar kamar kalau dia tidak memegang baju tidurku. Aku menutupi tubuhku dengan selimut dan dia menekanku di pinggir ranjang. "Kau tidur nyenyak sekali. Nyaman tidur di kamarku atau nyaman tidur bersamaku?" Aku berkedip berkali-kali berharap ini hanya mimpi.


Sinar matahari masuk membuat rambut Pak Chang bersinar kecoklatan. Wajahnya segar berbeda dengan kemarin di rumah sakit. "Bibi Li tidak datang Pak" aku berusaha mengalihkan perhatiannya. "Ternyata Bibi Li kuat sekali. Lihat, mukaku sedikit tergores kukunya" dia menunjukkan pipinya yang terluka. Aku melihatnya dan memang terlihat lebih merah dari kulitnya yang lain. Tapi tidak terlalu parah.


"Pak, saya harus bangun" aku mengangkat tangannya yang menahanku di kasur. "Ini masih pagi Jin Ae. Kita tidak di Seoul, kau bisa sedikit santai" Orang ini benar-benar membuatku kehabisan kata. Aku malas bertengkar dengannya dan tetap berada di posisiku sebelumnya, tidak bergerak sama sekali.


Dia mulai membelai rambutku, menyentuh garis wajahku dengan jari telunjuknya. Aku melihat tepat di matanya. Dia masuk ke leherku dan mencium tulang selangkaku. Aku merasa getaran asing yang membuatku menahan nafas. Dia mencium leher dan daguku. Aku menutup mata sebentar karena merasa geli.


Gerakannya lembut mencium pipi dan mataku. Dia berhenti sebentar melihat reaksiku. Wajahku terasa panas di pagi hari yang dingin ini. Bibirku merasakan sesuatu yang hangat dan tetap menempel selama beberapa detik. Dia mencium bibirku dengan lembut beberapa kali sebelum kembali tidur disebelahku.


Nafasku yang cepat berangsur melambat. Tanganku yang mengepal kuat mulai melemah dan membuka. Aku tidak percaya membiarkannya melakukan itu. Aku bangun dari kasur. "Kemana?" Aku melihatnya tetap berbaring di kasurnya. "Ganti baju Pak"


Pak Chang berdiri dan mengambil sesuatu di meja. Bungkusan itu diberikan padaku. "Aku membelinya kemarin, kurasa akan cocok denganmu". Aku menerimanya lalu keluar kamar menuju kamar mandi. Aku mengutuk diriku karena tidak melawan. Dia pasti sering melakukan itu, ciuman atau apapun itu tidak akan berarti apa-apa untuknya. Tapi untukku, itu adalah ciuman pertamaku. Ciuman pertama yang lembut. Apa aku akan kehilangan pekerjaanku karena ini? Bodohnya aku.


Kubuka bungkusan dari Pak Chang. Isinya gaun manis berwarna hijau tua dengan kerutan di pinggang. Tapi, gaun ini terlihat sangat bagus. Kainnya menempel lembut di kulitku. Warnanya membuat kulitku terlihat lebih putih. Di dalam bungkusan juga ada dalaman berwarna putih. Aku memakainya karena tidak membawa baju ganti sama sekali. Ukuran semuanya pas di badanku. Bagaimana dia tahu ukuranku.


Aku menyisir rambutku dengan tangan dan mengikatnya jadi satu. Keluar kamar mandi aku melihat Pak Chang ada di dapur memasak sesuatu. Dia melihatku dan tersenyum. "Baju itu cocok untukmu" aku membalasnya dengan senyuman. Aku baru sadar kalau Pak Chang sudah berganti pakaian. Dia memakai kemeja putih dan celana yang berwarna hijau lebih tua dari gaunku.


Rambutnya disisir rapi kebelakang membuat wajah tampannya semakin terlihat. Perlahan aku ke dapur melihat yang dia lakukan. Dia membuat kopi dan menyerahkan satu padaku. "Terima kasih Pak". Aku meminumnya perlahan. Pak Chang bergerak ke belakangku dan melepas ikat rambutku. "Aku tidak mau lehermu terlihat"


"Saya akan memasak sarapan Pak" aku mengalihkan perhatianku ke kulkas. Tapi Pak Chang menutupnya lagi. "Tidak perlu. Kita ke rumah sakit pagi ini, kita bisa makan di perjalanan" Tapi dia kan artis, kalau terlihat makan di cafe atau restoran pasti menyita perhatian.


Pak Chang menyeret tanganku dan membawaku ke mobil. Dia memberikan jaketnya padaku. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Ah...luka itu. Aku menyentuh pipinya yang terluka oleh Bibi Li. Lukanya tidak dalam tapi memanjang dari bawah mata ke ujung bibir. Pak Chang terdiam membiarkanku menyentuhnya.


Apa luka ini bisa sembuh tanpa bekas luka? "Jangan marah ke Bibi Li, kelakuanku kemarin memang keterlaluan." aku menarik tanganku dari pipinya. "Aku minta maaf sudah berbuat kurang ajar kemarin malam" melihat kesungguhan di matanya, aku merasa tenang dan nyaman. Jaket Pak Chang memiliki bau laki-laki yang kuat. Hangat sekali.


Karena masih pagi, jalanan terlihat lengang. Aku melihat Anyang di pagi hari. Tak lama kami berhenti di sebuah toko roti. Aku bersiap turun dari mobil. Pak Chang melihat sekeliling. "Biar saya saja yang beli Pak. Anda mau sandwich isi apa?"


Dia tidak mendengarkan dan mengikutiku ke dalam toko. Di dalam toko masih sepi. Aku membeli sandwich tuna, sedangkan Pak Chang memesan sandwich daging sapi. Kami memesan beberapa minuman untuk dibawa ke rumah sakit.


Menunggu pesanan, kami duduk dekat jendela yang disinari matahari. Hangat sekali. Aku suka sekali bau roti yang dibuat di pagi hari. Pak Chang dikenali oleh beberapa pegawai toko roti. Tapi dia bertingkah santai dan tidak mempedulikannya.


Aku memakan rotiku dengan cepat, takut semakin banyak orang yang sadar kalau Chang Min Jung ke toko roti di Anyang. Pak Chang memakan rotinya dengan santai sambil sesekali melihatku. Dia juga memberi tisu untuk membersihkan mulutku. "Kamu lapar?" Dia mengejekku. "Ada beberapa orang yang mengambil foto anda dari belakang Pak" . Dia menoleh ke belakang dan orang-orang yang mengambil fotonya berpura-pura melakukan hal lain. "Jangan panggil aku Pak, panggil aku Oppa" katanya sambil tersenyum. Wah otaknya sudah tidak beres rupanya. Apa dia pikir aku mau melakukannya.


Karena merasa tidak nyaman aku meminta Pak Chang menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Dia tidak mendengarkan dan semakin memperlambat cara makannya. Aku tahu dia sengaja. "Kita harus segera pergi dari sini Pak" Pak Chang tersenyum kesal dan menyelesaikan sarapannya.


Kami mengambil pesanan dan kembali ke mobil. Pak Chang membukakan pintu mobil untukku dan memakaikan sabuk pengamanku.


Sampai di kamar Nyonya Chang, aku memberi salam. "Selamat pagi Nyonya". Beliau menyambutku dengan senyum. "Aku sudah lebih baik Jin Ae, terima kasih". Semoga masalah Pak Chang cepat selesai. Aku sedih melihat Nyonya Chang pucat seperti kemarin.


"Hwan Li sudah mengurus masalah di Jepang. Ibu tidak perlu khawatir, aku hanya dimanfaatkan sebagai perekat rumah tangga mereka" aku merasa tidak perlu mendengar pembicaraan ini. Pak Chang memberiku kursi untuk duduk, sedangkan dia duduk di kasur ibunya.


Aku keluar ruangan memberi waktu ibu dan anak itu berbicara. Dari kejauhan aku lihat Bibi Li datang. "Jin Ae, kenapa kau tidak masuk?" sebelum menjawab, Bibi Li menggandeng tanganku membawa aku kembali ke dalam kamar. Pak Chang menjauh dari Bibi Li dan mendekatiku.


"Aku dan Jin Ae pulang ke Seoul. Ibu dan Bibi Li tidak perlu khawatir padaku karena Jin Ae bisa mengurusku dengan baik" aku merasa kesal dengan perkataannya. Dia mencium kening ibunya "Percaya saja pada kata- kataku" Nyonya Chang terlihat lebih santai mendengar anaknya berbicara.


Pak Chang melihatku dan tersenyum. Anehnya aku juga tersenyum padanya. "Kami pulang ke Seoul, ponselku akan aktif besok." katanya sambil memegang tanganku. Aku menepis tangannya dan mendekati Nyonya Chang. "Saya pergi dulu Nyonya, Bibi Li. Semoga Nyonya cepat sembuh" Pak Chang memegang tanganku lagi dan menarikku keluar kamar meninggalkan Bibi Li dan Nyonya Chang tertawa geli.


Dia tidak melepas tanganku sampai masuk mobil. Akhirnya kami meninggalkan Anyang dan kembali ke Seoul. Saat itu aku belum tahu kalau ada banyak foto beredar di media dan internet dengan judul


CHANG MIN JUNG MEMBAWA PACARNYA PULANG KE ANYANG.....