
Sejak saat itu, dokter Andi Rajendra menurunkan penilaiannya pada Chandresh. Dokter Andi Rajendra merasa kalau dia salah menikahkan Lintang dengan Chandesh. Dan sepanjang malam di saat dia, istrinya dan Chandresh menjaga Lintang, dokter Andi Rajendra banyak berdiam diri.
Chandesh terus duduk di atas kursi di sebelah bed-nya Lintang dan berharap Lintang lekas sadar sebelum matahari pagi menyapa mereka. Chandesh terus menggenggam tangannya Lintang dan semuanya akhirnya ketiduran.
Di keesokan harinya, mereka terbangun karena suster datang di jam subuh untuk menyuntikkan obat ke selang infusnya Lintang dan Dokter Andi Rajendra langsung menghela napas panjang dan berucap, "Lintang masih tidur sampai pagi tiba. Berarti, Lintang akan mengalami tidur panjang"
Chandesh langsung bangkit berdiri dan menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Nggak, Pa. Kenapa harus seperti ini? Kenapa ......."
"Kamu yang tidak bisa melindungi Lintang Kamu yang memiliki Papa yang sangat brengsek. Harusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa bisa menjadi seperti ini, dasar brengsek!" Dokter Andi Rajendra akhirnya tidak kuasa lagi untuk menahan kekecewaan dan amarahnya.
Chandresh mematung lalu berkata, "Maafkan saya, Pa"
Istrinya Dokter Andi Rajendra langsung mengelus punggung suaminya dan berkata, "Mas, tenang! Ini di rumah sakit, Mas. Dan jangan salahkan Chandresh, Chandresh juga nggak ingin Lintang menjadi seperti ini"
Dokter Andi Rajendra menggeram kesal, lalu melangkah keluar dari dalam kamar rawat inapnya Lintang. Mama tirinya Lintang langsung menyusul suaminya.
Perawat yang masih memeriksa kondisinya Lintang, bergumam, "Saya belum pernah melihat Dokter Andi Rajendra membentak seseorang. Saya kaget banget tadi"
Chandresh semakin mematung di depan Lintang.
Perawat tersebut lalu menegakkan badannya setelah ia selesai memeriksa kondisinya Lintang dan bertanya ke Chandresh, "Nona muda dimandikan suster apa Anda sendiri yang akan memandikannya?"
"Saya sendiri saja, Sus" Sahut Chandresh dengan wajah lesu.
"Baiklah. Peralatan mandi saya letakkan di atas meja, ya" ucap suster tersebut sembari tersenyum dan melangkah keluar dari dalam kamar rawat inapnya Lintang.
Chandresh mengunci pintu kamar, lalu mengambil peralatan mandi dan mengusap seluruh badannya Lintang sampai bersih dan wangi dengan penuh perasaan cinta. Chandresh lalu memakaikan baju ganti yang disiapkan oleh pihak rumah sakit. Chandesh ingin menyisir rambutnya Lintang, namun tangannya terhenti saat ia melihat semua bagian kepalanya Lintang masih tertutup perban putih.
Chandesh memasukkan kembali sisir kecil yang selalu ia bawa di saku celana kainnya itu dengan perasaan sedih. Dia kemudian membawa semua peralatan mandi ke kamar mandi dan membuka kembali kunci pintu kamar rawat inapnya Lintang.
Chandresh kembali duduk di kursi yang ada di samping kanan bed-nya Lintang. Dia mencium pipinya Lintang, mencium tangannya Lintang dan menggenggam erat tangan itu sembari terus menatap Lintang dan berucap, "Bangunlah, Sayang Baru beberapa jam Kakak nggak dengar suara kamu dan melihat senyuman kamu, I'm missing you so badly. Kakak tirukan lagu yang sering kamu nyanyikan, nih, I'm missing you so badly, jadi bangun yuk! Buka mata kamu dan lihat Kakak! Kakak akan katakan I love you so much" Chandresh menitikkan air mata dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya Lintang lalu ia letakkan punggung tangannya Lintang di atas bibirnya.
Andi Rajendra kembali masuk ke dalam kamar rawat inap putrinya dan berkata ke Chandresh, "Kamu pergilah ke kantor! Aku dan Mamanya Lintang yang akan menjaga Lintang. Kamu masih dalam masa pelatihan, jadi harus pergi ke kantor"
Chandesh mencium punggung tangannya Lintang, lalu meletakkan tangan itu dengan hati-hati di atas perutnya Lintang, kemudian dia bangkit berdiri dan berkata, "Baik, Pa. Saya permisi ke kantor dulu" Chandresh mencium punggung tangan papa mertua dan Mama mertuanya lalu ia melangkah keluar dari dalam kamar rawat inapnya Lintang dengan langkah gontai.
Shinta tersenyum senang melihat kedatangannya Chandresh. Shinta mengira kalau Chandresh datang karena, masih menyimpan rasa cinta untuknya dan mengunjunginya untuk mengurus pembebasan bersyaratnya.
Chandesh duduk di depannya Shinta di sebuah ruangan yang tidak begitu luas, dia menatap Shinta dengan tatapan dingin dan kedua tangan mengepal.
"Erick. Kamu, Erick, kan?" Tanya Shinta.
Erick duduk di sebelahnya Chandresh dan tersenyum tipis lalu berkata, "Iya, aku Erick. Apa kabar Shin?"
"Baik" Shinta mengucapkan kata untuk Erick, namun pandangannya tertuju ke Chandresh.
Chandesh masih diam membisu dan masih menatap Shinta dengan tatapan dingin.
Shinta tersenyum manis ke Chandresh dan berkata, "Terima kasih kamu mau datang mengunjungi aku. Aku udah tahu kalau kamu dan Istri kecil kamu si Lintang itu tidak punya rasa apapun. Aku tahu kalau kamu selalu mencintai aku dan tidak bisa lepas dari aku. Benar, kan, Chan? Dan kamu datang ke sini karena, mau mencabut gugatan mama kamu dan membebaskan aku. Benar, kan, Chan?"
"Aku ke sini bukan untuk membebaskan kamu. Aku ke sini untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa dirimu yang sebenarnya. Dan aku ke sini karena, aku ingin membuang kebodohanku di masa lalu di sini. Kebodohanku karena, dulu aku pernah terpikat padamu. Aku ke sini juga untuk melepaskan bayangan kamu sepenuhnya dari hidupku. Aku sudah tidak mencintaimu lagi dan Membusuklah di penjara" Chandresh lalu bangkit berdiri dan berbalik badan meninggalkan Shinta yang histeris memanggil-manggil namanya.
Erick ikutan bangkit berdiri dan bergegas berlari mengikuti Chandresh.
Erick memasang sabuk pengamannya dan sambil melajukan mobil dinasnya, dia menoleh ke Chandresh sekilas untuk berkata, "Shinta memang awet muda dan masih terlihat sangat cantik, namun sayangnya dia memakai kesempurnaan fisiknya itu untuk memuaskan keegoisannya"
Chandresh menoleh ke Erick dan berucap, "Jangan membahas wanita iblis itu lagi. Aku kenapa dulu bodoh sekali bisa terpikat padanya"
"Kamu nggak bodoh. Shinta emang sangat cantik dan sangat menarik. Semua pria pasti akan mudah terpikat dengan kesempurnaan didiknya Shinta sebelum mengenal kepribadiannya" Sahut Erick.
"Aku menyesal kenapa aku terlambat jauh cinta dengan Istriku. Lintang bukan hanya cantik tapi juga cerdas dan baik hati. Kenapa aku baru menyadarinya baru-baru ini" Chandesh menghela napas panjang lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya, lalu terisak menangis dengan suara yang cukup memilukan.
Erick menoleh sekilas ke sahabatnya dan berkata, "Lebih baik terlambat menyadari daripada tidak pernah menyadarinya sama sekali"
"Tapi karena aku, Lintang jadi seperti ini" Sahut Chandresh di sela Isak tangisnya.
"Aku yakin Lintang akan cepat sadar. Lintang anak baik dan anak yang kuat. Dia pasti akan cepat sadar, Chan" Sahut Erick.
"Amin" Sahut Chandresh di sela isak tangisnya.