
Soraya menatap nanar tubuh Chandresh yang terlentang di atas aspal dan dia berteriak histeris, "Tidaaakkkk!!!!!" saat ia melihat wajah Chandresh penuh dengan darah.
Lintang tersandung dan jatuh di atas lantai kelasnya di saat ia melamun memikirkan suami gantengnya yang sesungguhnya masih sangat ia cintai. Lintang bangkit berdiri dengan sendirinya sembari mengelus dada dan bergumam, "Ada apa ini? Kenapa perasaanku nggak enak kayak gini? Semoga nggak ada kejadian apa-apa"
Soraya segera menelepon rumah sakit dengan tangan gemetar dan sambil menunggu ambulans dari rumah sakit tersebut tiba di tempat terjadinya kecelakaan, Soraya duduk bersimpuh di depan tubuhnya Chandresh yang masih terlentang di atas aspal. Soraya terus menangis dan bergumam lirih, "Jangan mati, Chan! aku mohon padamu bertahanlah! Jangan mati!"
Soraya ikut melompat masuk ke dalam mobil ambulans yang membawa Chandresh ke rumah sakit terdekat.
Chandresh segera dibawa ke IGD dan langsung mendapatkan ditangani. Seorang perawat mendekati Soraya untuk bertanya, "Anda Istrinya pasien?"
"Bukan" Sahut Soraya di sela isak tangisnya.
"Apa Anda kenal dengan Istri pasien? Kita perlu tandatangan untuk persetujuan operasi. Ada pendarahan di dalam" sahut perawat tersebut.
"Saya teman dekat pasien. Kalau menunggu istrinya datang, nanti kelamaan. Saya akan tandatangani berkas persetujuan operasinya dan saya akan bertanggung jawab penuh atas pasien. Uang penting, cepat tangani dia dan selamatkan dia, saya mohon" Soraya mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
Perawat tersebut akhirnya berkata, "Baiklah" Dan menyodorkan sebuah kertas ke Soraya.
Soraya langsung menandatangani semua berkas dengan cepat dan pihak IGD langsung membawa Chandresh masuk ke ruang operasi setelah Soraya selesai menandatangani semua berkas dan membayar semua biaya adminstrasi berikut biaya operasi dan biaya kamar VVIP yang ia siapkan untuk Chandresh.
Soraya menunggu di ruang tunggu yang ada di sisi timur pintu masuk kamar operasi sendirian. Dia tidak bisa duduk diam. Dia mondar-mandir di sana sambil terus menggigiti kuku jari tangan kanannya.
Operasi berjalan cukup lama. Di dua jam yang sudah berlalu, sahabatnya Soraya datang. Laura langsung memeluk Soraya sambil berkata, "Aku bawa mobil kamu ke sini. Untung aku mengikuti kamu sampai sini kalau nggak, pas kamu nelpon aku dan butuh aku, aku masih ada di Bali"
Soraya tidak mampu berkata apa-apa. Dia memeluk erat tubuh sahabatnya dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan hangat sahabatnya.
Laura diam membisu sambil terus mengelus punggungnya Soraya.
Lintang pamit keluar dari dalam kelasnya saat pikirannya terus terarah ke Chandresh. Lintang berlari sampai ke taman kampus dan mencoba mengubungi telepon genggamnya Chandresh, namun hanya terdengar suara, "Maaf, nomer yang Anda hubungi saat ini tidak aktif"
Lintang duduk di bangku taman dan langsung bergumam, "Semoga Mas Chandresh nggak kenapa-kenapa"
Enam jam telah berlalu sejak kecelakaan terjadi. Dan Soraya tersenyum lega saat ia melihat Chandresh dibawa keluar dari dalam kamar operasi dalam keadaan masih hidup.
Dokter yang mengoperasi Chandresh keluar dari dalam kamar operasi dan menemui Soraya untuk bertanya, "Anda walinya pasien yang bernama Chandresh Kusuma?"
"Iya. Saya teman dekatnya. Keluarganya belum bisa saya hubungi. Ada apa dengan Chandresh, Dok? Operasinya berhasil, kan?" Tanya Soraya.
"Operasinya berhasil. Tapi, pasien masih berada dalam masa kritis. Kalau sampai besok pagi pasien tidak bangun, maka dia akan mengalami koma" sahut dokter tersebut.
Soraya sontak mundur ke belakang dan hampir ambruk. Laura langsung menangkap tubuhnya Soraya.
"Saya permisi dulu" Dokter tersebut kemudian berlalu pergi meninggalkan Soraya.
Laura menemani Soraya masuk ke kamar VVIP tempat Chandresh dirawat inap.
Soraya menggenggam tangan Chandresh dan kembali menangis sesenggukkan. Soraya kemudian mencium keningnya Chandresh dan bergumam, "Jangan mati Aku ada di sini"
Soraya tersentak kaget saat ia merasakan tangannya digenggam erat oleh Chandresh. Soraya menoleh ke Laura dengan wajah semringah lalu berkata, "Dia senang aku ada di sini. Dia genggam tanganku. Dia merespons ucapanku barusan. Jadi, jauh di dalam hatinya Chandresh dia juga mencintaiku. Dia juga merindukanku"
Laura hanya bisa menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh dengan kesedihan.
Soraya melanjutkan ucapannya, saat ia merasakan tangannya kembali digenggam erat oleh Chandresh, Lihat! Dia genggam erat tanganku lagi. Dan........"
"Lintang, aku merindukanmu" Chandresh bergumam di dalam ketidaksadarannya.
Alih-alih melanjutkan ucapannya, Soraya menarik tangannya dari tangan Chandresh lalu menatap Chandresh dengan nanar.
Chandresh kembali bergumam, "Lintang, aku hanya mencintaimu. Sangat mencintaimu"
Soraya menitikkan air mata,. lalu berbalik badan dan berlari keluar dari dalam kamar itu dengan berderai air mata.
Laura menghela napas panjang saat ia kembali mendengar Chandresh bergumam, "Aku hanya mencintaimu, Lintang" Dan Laura bergegas berlari menyusul sahabatnya.
Laura menemukan Soraya berdiri di tengah taman dan menangis sesenggukan di sana. Laura merangkul bahunya Soraya dan berkata, "Bangunlah dari mimpi kamu! Chandresh selamanya tidak akan pernah mencintai kamu. Lebih baik kau nelpon Istrinya Chandresh sekarang karena Chandresh terus memanggil-manggil istrinya.
Soraya menoleh tajam ke Laura, "Aku nggak akan biarkan Lintang menemui Chandresh! Aku akan menyimpan Chandresh untukku sendiri"
Laura menghela napas panjang lalu berkata, "Jangan picik! Dia nggak akan pernah mencintaimu. Kalau kau menyimpannya, apa Chandresh akan menerima kamu saat Chandresh sadar nanti?"
"Aku nggak peduli!" Soraya berteriak histeris.
Laura ikutan berteriak karena kesal, "Kau mencintainya, kan?!"
Soraya menganggukkan kepalanya..
Soraya kembali menganggukkan kepalanya.
"Maka biarkan dia bahagia dengan Lintang. Chandresh nggak bakalan bahagia dengan kamu dan kamu pun aku jamin nggak bakalan bahagia dengan Chandresh" Laura menatap Soraya dengan serius.
Soraya lalu mengambil telepon genggamnya dan menelepon Lintang, "Chandresh mengalami kecelakaan. Datanglah ke rumah sakit Pelita di kamar S76" Klik Soraya mematikan telepon genggamnya dan Laura memberikan senyum bangga untuk Soraya.
Lintang langsung berlari ke parkiran mobil dan segera meluncur ke rumah sakit Pelita.
Lintang berlari di koridor rumah sakit dan saat Lintang bertanya ke bagian pendaftaran, Soraya langsung bersembunyi di balik tembok.
Lintang berlari masuk ke kamar S76 dan dia melangkah lebar lalu duduk di kursi yang ada di sebelah bed-nya Chandresh. Lintang menggenggam tangan suaminya dengan derai air mata. Lintang berkata, "Ini aku, Mas! Lintang. Bangun, Mas! Aku mohon" Lintang.berucap di sela isak tangisnya.
Soraya membuka pelan pintu kamar rawat inapnya Chandresh untuk mengintip dari sana. Soraya melihat Chandresh membuka mata. Soraya melihat Chandresh menoleh ke Lintang dengan tatapan penuh kerinduan dan senyum penuh cinta.
Soraya mendengar Chandresh bertanya ke Lintang, "Apa kamu udah memaafkan aku, Sayang?" Lalu Soraya menutup pintu kamar VVIP itu dengan pelan dan duduk di bangku yang ada di depan kamar VVIP tersebut.
Lintang mengelus pipinya Chandresh dan berkata, "Pikirkan kesembuhan kamu dulu, Mas! Kita bahas soal kita nanti"
Chandresh mencium tangannya Lintang dan tiba-tiba ia jatuh pingsan lagi.Lintang langsung memencet bel . Tidak begitu lama kemudian, dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam kamarnya Chandresh.
Soraya langsung bangkit berdiri dan dia terkejut saat Lintang keluar dari dalam kamar dan berdiri di depannya.
Gurat kekecewaan nampak jelas di wajah Lintang saat ia melihat Soraya ada di sekitarnya Chandresh. Ia kemudian memilih untuk berbalik badan dan menghindari Soraya karena ia merasa.sangat lelah untuk bertengkar di hari itu.
Soraya menahan lengannya Lintang sambil berkata, "Jangan salah paham! Chandresh tidak tahu aku ada di sini"
Lintang berputar badan untuk menatap Soraya.
Soraya melepaskan lengan Lintang, lalu berkata, "Chandresh kecelakaan karena dia berlari menjauh dariku. Aku mencari Chandresh dan tanpa sengaja melihat Chandresh berjalan di trotoar. Aku mendekatinya dan Chandresh berlari menjauh dariku, lalu ia tertabrak mobil. Dia hanya mencintaimu. Saat aku merayu dan menggodanya, ia selalu berkata kalau dia sudah menikah dan sangat mencintai Istrinya. Aku yang bodoh terus mendekatinya dan berkata kalau hubungan aku dan dia hanya suka sama suka. Dia tidak pernah peduli padaku seperti dia peduli padamu. Dia bahkan membuka matanya saat ia mendengar suara kamu. Kembalilah ke dalam dan katakanlah kalau kamu juga mencintainya maka ia akan selamat"
Lintang yang berlinang air mata, sontak memeluk Soraya dan setelah mengucapkan kata terima kasih, Lintang kembali masuk ke dalam berlari untuk tepi ranjangnya Chandresh. Lintang mengabaikan keberadaan dokter dan suster yang masih memeriksa kondisinya Chandresh, Lintang langsung menggenggam tangan Chandresh sambil berkata, "Aku memaafkan kamu, Mas. Aku mencintaimu. Lintang kamu ini, sangat merindukan kamu, Mas. Bangun dan lihatlah aku!*
Dokter dan para perawat terkejut dengan keberadaannya Lintang dan ucapannya Lintang. Mereka lebih terkejut lagi saat mereka melihat Chandresh membuka mata di saat para dokter berpikir bahwa Chandresh bakalan koma untuk waktu yang sangat lama.
Salah satu perawat bertanya, "Anda Istrinya?"
Lintang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dia Istri saya yang sangat cantik. Dia wanita paling sempurna di dunia ini" Sahut Chandresh dengan suara yang masih lemas.
Salah satu dokter nyeletuk, "Keajaiban cinta memang selalu menghadirkan mukjizat bagi pasien. Di saat dokter berpikir pasien bakalan koma untuk waktu yang sangat lama, cinta justru yang mampu membuat pasien sadar dan bahkan bisa berbicara saat ini. Selamat untuk kalian berdua"
Lintang mengucapkan kata terima kasih dan para dokter dan perawat tersenyum semringah saat mereka meninggalkan Chandresh dan Lintang.
Lintang langsung memeluk Chandresh.
Dia tahun kemudian,.Chandresh duduk di ruang kerjanya sambil memangku seorang anak perempuan yang masih berumur satu tahun.
Lintang tersenyum dan berkata ke Chandresh, "Jelita udah bisa berjalan, Mas. Jangan kau manjakan dia dengan pangkuan kamu"
"Biarin. Aku akan terus memanjakan putri cantikku ini" Sahut Chandresh dengan senyum bahagia.
"Kita dapat.indanhan pernikahannya Soraya" Ucap Lintang.
"Kalau kamu nggak ingin datang, kita nggak usah datang" Sahut Chandresh.
"Aku akan datang" Ucap Lintang.
Dokter Rajendra masuk ke dalam ruang kerjanya Chandresh dengan semringah. Dokter Andi Rajendra menjadi berubah sikapnya dari benci menjadi sangat menyayangi Chandresh sejak Chandresh memberikannya seorang cucu yang sangat cantik dan berkat keharmonisan yang tercipta dari Papanya Lintang dan suaminya Lintang, bisnis Rajendra berkembang sangat pesat.
Lintang terus tersenyum bahagia melihat papa dan suaminya sangat memanjakan Jelita.
Chandresh memeluk pinggang Lintang saat papa mertuanya mengajak Jelita bermain di teras.Ia mencium bibir Lintang sambil berkata, "Aku sangat mencintaimu, Sayang dan rasa rinduku, missing you, hanya akan aku ucapkan untukmu seorang kini dan selamanya"
Lintang menepuk bahunya Chandresh sambil berkata, "Lalu Jelita?"
"Tentu saja rasa rindu dan sayangku untuk Jelita beda"
"Aku juga sangat mencintaimu, Mas"
Chandresh dan Lintang kemudian saling berpelukan dengan penuh cinta dan rasa syukur.
...❤️❤️❤️❤️❤️ Tamat ❤️❤️❤️❤️❤️...