Missing You

Missing You
Rekaman Video



Chandresh keluar dari dalam kamar mandi setelah ia membersihkan dirinya dan berganti baju. Pria ganteng berbadan atletis yang sudah tidak botak lagi itu, naik ke atas ranjang. Dia langsung memeluk tubuh ranking istrinya dan menciumi wajahnya Lintang dengan bergumam lirih, "Maafkan aku! Maafkan aku, Sayang! Semoga kamu tidak pernah tahu soal aku dan Soraya. Aku nggak ingin kamu terluka dan pergi meninggalkan aku. Aku nggak ingin kehilangan kamu" Chandresh lalu memeluk erat tubuh Lintang dan saat ia menyusupkan wajahnya di lehernya Lintang, ia menangis sesenggukkan di sana. Penyesalan yang ada di hatinya sungguh membuatnya tersiksa.


Keesokan harinya, Chandresh berangkat ke proyek pagi-pagi buta karena, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang cepat bersama dengan istri cantiknya. Arga ingin segera pergi meninggalkan Bali dan mengurus rumah yang dia beli. Dia ingin segera mengajak Lintang pindah ke rumah itu.


Lintang bangun dan melihat jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Lintang bersandar sejenak di ranjang di saat sia merasakan badan dan pinggangnya pegal-pegal.


Lintang menoleh ke nakas di sisi kanan rajang dan dia tersenyum. istri kecilnya Chandresh itu melihat ada bunga, sandwich, kopi, dan kertas bertuliskan, "Selamat makan cantikku. Maaf aku harus ke proyek pagi-pagi. Yang selalu merindukanmu, suami ganteng kamu, Chandresh"


Soraya juga bangun di jam sepuluh pagi karena semalaman dia tidak bisa tidur dan pil tidurnya habis. Dia menerima telepon dari sahabatnya, Kamu di mana?"


"Masih di kamar" Sahut Soraya dengan masih rebahan di atas kasur sambil meraup kasar wajah cantiknya.


"Chandresh sudah datang di proyek dengan Erick dan Papa kamu menunggu kamu. Cepat mandi, bersiap, dan turun ke sini" Ucap sahabatnya Soraya yang sudah mulai main mata dengan Erick.


"Apa Istrinya Chandresh juga ada di sana?" Tanya Soraya.


"Nggak. Tadi aku dengar,. Chandresh berkata ke Papa kamu kalau Istrinya kecapekkan" Sahut sahabat manisnya Soraya sambil terus bersitatap dengan Erick.


"Berarti dia di kamarnya saat ini?" Soraya sontak bangun dan duduk di atas ranjang dengan wajah tersenyum tipis.


"Sepertinya begitu. Sudah, ya, aku tutup telponnya. Cepat mandi dan turun ke sini!" Dan klik! Laura memarkan sambungan teleponnya dengan sahabat cantiknya.


Soraya turun dari atas ranjang mewahnya dan alih-alih pergi ke kamar mandi, dia justru melangkah menuju ke pintu depan. Dia membuka pintu kamarnya dan keluar dari dalam kamarnya dengan langkah lebar dan wajah penuh dengan semangat perjuangan. Dia ingin memberitahukan semuanya ke Lintang. Dia juga akan menunjukkan rekaman yang dia buat di percintaan terakhirnya dengan Chandresh di saat Chandresh menghadiahi dirinya sofa mala.


Lintang keluar dari dalam kamar mandi dengan baju santai. Dia hanya mengenakan kaos oblong berwana putih bermerk dan celana jins pendek berwarna biru Dongker. Di saat Lintang hendak duduk di tepi ranjang, dia mendengar pintu kamarnya diketuk cukup keras dan terus diketuk tanpa jeda sama sekali.


Lintang berjalan ke pintu dengan bergumam, "Siapa sih yang mengetuk pintu kamar ini dengan tidak sabar? Kalau Mas Chandresh nggak mungkin. Mas Chandresh selalu membawa kunci"


Ceklek! Pintu terbuka dan Soraya langsung mendorong daun pintu kamarnya Chandresh untuk masuk ke dalam tanpa menunggu ijin dari Lintang.


Lintang menutup kembali pintu kamar suaminya dan dengan menautkan alisnya dia menatap Soraya untuk bertanya sambil bersedekap, "Kenapa kau ke kamar ini dengan masih memakai baju tidur kamu? Siapa yang hendak kau goda, hah?!"


Soraya masih berjalan ke kanan dan ke kiri dengan tidak tenang dan ia mulai menggigit kuku di jari telunjuk tangan kanannya, saat Lintang bertanya, "Ada apa denganmu? Kamu sakit?"


Mendengar kata sakit, Soraya sontak menghentikan langkahnya dan menghadap ke Lintang dengan sorot mata penuh dengan kebencian.


"Kau sakit Soraya. Kau butuh bantuan. Aku akan menolongmu dan.........." Lintang mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundaknya Soraya, namun Soraya menepis tangannya Lintang dengan sangat keras dan sambil melangkah mundur satu langkah, Soraya memekik menakutkan, "Jangan sentuh aku! Aku tidak sakit! Aku tidak sakit, kau dengar brengsek!"


Lintang pun mundur ke belakang selangkah dan memajukan kedua telapak tangannya ke depan dengan berkata, "Oke. Kamu baik-baik saja. Aku percaya itu. Lalu, apa yang kau inginkan dengan datang ke kamar ini dan masih memakai baju tidur kamu?"


Soraya mengentikan kegiatannya menggigiti kuku di jari telunjuk tangan kananya, untuk berkata, "Aku merindukan Chandresh. Aku sangat merindukannya. Itulah kenapa aku tidak bisa tidur semalam dan pagi ini aku datang ke kamar ini. Kau dengar itu brengsek!" Soraya melotot ke Lintang saat ia mengucapkan kata terakhir di kalimat yang ia ucapkan dengan napas menderu tersebut.


Lintang tersenyum lalu berkata, "Ternyata benar dugaanku. Selama ini yang menelepon suamiku adalah kamu. Berani benar kamu menggoda suamiku dan berkata merindukannya di depanku, dasar brengsek!" Lintang pun melotot ke Soraya.


"Dasar bocah ingusan. Aku tidak hanya menggoda Chandresh. Tapi, aku dan Chandresh sudah beberapa kali bercinta dengan liar dan panas. Gairah yang ada di antara kami itu nyata. Chandresh menyukainya saat lidahnya bertemu dengan lidahku. Saat lidahnya menyusuri lekuk tubuhku dan Chandresh beberapa kali mengerang puas saat ia bercinta denganku. Kau dengar itu brengsek!"


Lintang menatap Soraya dengan nanar. Namun, wanita cantik dan imut itu masih bisa berkata, "Selesaikan cerita kamu" Sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.


Soraya tersenyum mengejek lalu berkata, "Kau ridak kesal? Kau tidak cemburu? Kau percaya begitu saja ucapanku?"


Lintang tersenyum mengejek ke Soraa lalu berkata, "Aku tidak ingin percaya semua perkataanmu, tapi instingku sebagai seorang Istri lah yang mengatakan kalau semua ucapan kamu itu benar. Untuk itulah aku menghemat waktu untuk tidak bertanya apa itu benar"


"Aku punya rekaman videonya" Soraya memencet layar ponselnya lalu ia menunjukkan adegan percintaannya dengan Chandresh yang ada di layar ponselnya di depan Lintang.


Napas Lintang menderu kencang penuh amarah dan kecemburuan saat ia melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat begitu menikmati permainan cintanya dengan Soraya dan saat Lintang mendengar erangan suaminya, Lintang merasa jijik dan dia langsung menepis kasar ponselnya Soraya dan menggeram dan dengan tangis tertahan ia berteriak, "Keluar dari kamar ini atau aku akan menyeretmu keluar!"


Soraya memajukan wajahnya ke Lintang dengan berkata, "Setelah tahu semua ini, kau akan meninggalkan Chandresh, kan? Tinggalkan Chandresh! Biarkan dia menjadi milikku seorang. Hanya milikku!" Soraya berteriak di depannya Lintang dan Lintang langsung mencengkeram pundaknya Soraya dengan menggeram, "Keluar sekarang juga atau kau akan menyesal!"


Soraya menepis tangannya Lintang dari atas pundaknya dengan sangat kasar dan ia akhirnya melangkah keluar dari dalam kamarnya Chandresh dengan senyum penuh kemenangan.


Semetara itu, Lintang terduduk lemas di atas sofa dan mematung di sana dengan tatapan kosong.