Missing You

Missing You
Rindu



Akhirnya, Chandresh berada di Singapura tidak sampai satu Minggu. Dia pulang di hari ketiga dan dengan wajah malu. Dia gagal mendapatkan klien kelas kakap dan Dave Buana yang berhasil mendapatkannya. Erick berkata ke Chandresh "Kita harus bersiap menerima omelannya Dokter Andi Rajendra"


Chandresh menghela napas panjang dan berkata, "Aku udah siap, Aku siap menanggung omelan mertuaku daripada aku menjual anak gadis orang ke klien kita"


"Sebenernya kamu terlalu naif, Chan. Belum tentu juga model wanita yang disukai oleh klien kita itu gadis polos dan gadis baik-baik. Kenyataannya apa, Dave yang menyerahkan gadis model itu ke klien kita dan Dave yang mendapatkan klien kelas kakap itu padahal kita yang lebih dulu menemukan klien itu" sahut Erick.


"Biarkan Dave mau melakukan apa, tapi aku tetap nggak bisa menyerahkan model itu ke klien kita yang jelas-jelas punya niat yang nggak baik pada model itu, karena aku punya Mama dan Istri. Bagiku wanita itu tidak untuk dipermainkan dan harus kita hormati" Sahut Chandresh.


"Tapi, kira pulang hanya dengan membawa seribu pesanan furniture aja dan itu bukan kerjasama yang continue" sahut Erick.


"Walaupun hasil yang kita dapatkan sedikit dan kecil, paling nggak, kita tidak pulang dengan tangan hampa" Sahut Chandresh.


"Huufttt! Terserah kamu aja deh, Chan" Sahut Erick.


Sementara itu, Lintang semakin bersinar. Di hari ketiga kuliahnya, nilai kuisnya mendapatkan nilai sempurna dan dia langsung mendapatkan perhatian spesial dari para dosen dan teman-teman kuliahnya terlebih para kaum Adam.


Sesampainya di rumah, Chandresh tidak menemukan istrinya. Pria ganteng yang sudah tidak berkepala botak lagi itu, langsung mencari Bi Ijah dan bertanya, "Bi, Lintang ke mana?"


Bi Ijah yang tengah memasak tersentak kaget dan langsung berputar badan menghadap Chandresh, "Ah, Pak Chan bikin kaget aja. Kok udah pulang? Katanya satu Minggu baru pulang"


Chandresh menghela napas panjang dan kembali bertanya, "Bi, Lintang ke mana?"


"Oh, maaf. Saya kaget tadi soalnya Bapak udah pulang. Non Lintang tadi udah pulang jam dua, terus jam empat pergi lagi. Katanya mau bikin tugas di rumah temannya" Sahut Bi Ijah.


Chandresh melangkah ke depan dan berhenti di teras untuk mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Ia menelepon Lintang.


Chandresh langsung menautkan alisnya di saat ia mendapatkan ponselnya Lintang tidak aktif. Chandresh tidak bisa tenang seketika itu juga saat ia melirik jam tangannya menunjukkan pukul delapan. Dia mondar-mandir di halaman depan rumahnya dengan terus mencoba menghubungi istri kecilnya sambil terus bergumam, "Kenapa mengerjakan tugas sampai semalam ini? Kenapa juga aku tidak menghubunginya dulu? Siap! Niatku bikin kejutan untuk Lintang, malah aku yang terkejut, nih" Chandresh terus menghubungi nomer ponselnya Lintang sambil melangkah untuk duduk di bangku teras depan.


Lintang menolak ajakan teman laki-lakinya untuk makan malam. Lintang langsung berkata, "Aku harus pulang. Aku takut kalau suamiku nelpon aku dan panik karena batere ponselku habis"


"Ka......kamu udah menikah?" Teman laki-lakinya Lintang menatap Lintang dengan sorot mata kecewa, karena cintanya harus kandas sebelum sempat diperjuangkan.


Lintang tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia lupa bawa charger dan lupa memindahkan charger mobil dari mobil yang biasa dipakai Chandresh untuk pergi ke kantor. "Aku harus cepat sampai di rumah untuk ngeces ponselku, takutnya kalau Mas Chandresh nelpon aku dan aku nggak bisa dihubungi. Kasihan Mas Chandresh pasti panik"


Jam sembilan tepat, Lintang keluar dari dalam mobil dan langsung berlari memeluk Chandresh sambil berkata, "Mas! Kok udah pulang? Aku kangen banget sama kamu, Mas"


Chandresh diam membisu tidak membalas pelukannya Lintang.


Lintang melepaskan pelukannya untuk menatap Chandresh dan bertanya, "Mas, kenapa?"


"Kamu ke mana aja sampai semalam ini baru pulang?" Chandresh bersedekap di depannya Lintang.


"Aku ke rumah teman mengerjakan tugas kuliah dan harus dikumpulkan besok, jadi hari ini mau tidak mau harus kelar" sahut Lintang.


"Habis baterenya. Nih" Lintang menunjukkan ponselnya di depan Chandresh.


Chandresh masih bersedekap dan menatap tajam istri kecilnya dengan cemberut.


"Mas kok cemberut? Mas Marah? Mas nggak kangen sama aku? Maafkan aku kalau aku udah bikin Mas panik, khawatir, dan kesal" Tanya Lintang dengan wajah imut.


Chandresh masih diam membisu di depannya Lintang.


"Baiklah. Kalau Mas masih kesal dan masih ingin cemberut, lanjutkan dulu! Aku akan masuk dan mandi. Kita ketemu di meja makan dan..........Aaaaaaaa!!!!" Lintang berteriak kaget saat Chandresh tiba-tiba menggendongnya seperti karung beras. Chandresh bergegas membawa Lintang ke kamar.


Suami gantengnya Lintang itu langsung merebahkan Lintang di atas kasur dan langsung mengungkung tubuh ramping istrinya.


Lintang menatap suaminya, "Mas, aku belum membersihkan badanku"


"Aku nggak peduli" Chandresh langsung membungkam mulutnya Lintang dengan bibirnya.


Lintang langsung memejamkan kedua kelopak mata lentiknya.


Suami gantengnya Lintang, langsung menciumi rambut indah istrinya yang harum, lalu ia mencium leher putih mulus istri kecilnya dan di setiap jejak cinta buah karyanya yang dibalut cinta yang indah dan gairah yang panas.


Jejak cinta yang ditorehkan Chandesh di leher putihnya Lintang, membuat Lintang terus melenguh Chandresh lalu mengangkat tangan, ia menemukan sebuah gundukan sintal dan langsung bermain-main asyik di sana, sambil terus menyusupkan wajahnya di leher cantiknya Lintang.


Chandresh terus menghirup wangi seksinya Lintang yang sangat ia rindukan dan di sela ia mencecap, mencium dan menghisap wangi istri kecilnya, tangannya bergerilya menjelajahi setiap lekuk seksi istrinya.


Di menit berikutnya Chandresh dan Lintang melengkingkan kepuasan mereka ke udara bebas secara bersamaan.


"Tidurlah kalau capek" Chandresh berkata sembari memberikan gigitan-gigitan kecil di pundaknya Lintang dan tangannya terus bermain di spot favoritnya.


Lintang langsung berputar badan untuk menghadap ke Chandresh, lalu berkata, "Mana bisa tidur kalau tangan dan bibir kamu terus usil kayak gini, Mas"


Chandresh menatap tangannya yang masih belum melepas mainan kenyal favoritnya, lalu ia terkekeh geli dan berkata dengan polosnya, "Salah sendiri kamu cantik banget dan sangat manis seperti madu. Kamu udah bikin aku kecanduan dan membuatku ingin terus menikmati madu kamu, Sayang" Chandresh tersenyum nakal ke istri kecilnya, lalu berucap kembali, "Kalau kamu nggak merem, aku akan memakan kamu lagi" Lintang langsung memejamkan matanya karena, besok dia ada kuliah pagi. Jika ia biarkan suaminya memakannya lagi, alhasil dia akan lembur melayani suaminya sampai subuh.


Chandresh menciumi rambutnya Lintang sambil memeluk pinggang rampingnya Lintang dan dia pun menyusul istrinya ke alam mimpi.


Keesokan paginya, Chandresh mengantarkan Lintang ke kampus sebelum ia berangkat ke kantor.


Di siang hari, Chandresh dikejutkan dengan kedatangannya Lintang ke kantornya dan Lintang langsung berkata, "Mas, Papa dan Mama ingin mengajak kita makan siang"


Chandresh mengiyakan Lintang. Dan Chandresh tidak menyangka saat ia melihat ada Dave Buana di sana.


Dokter Andi Rajendra menghunus tatapan tajamnya ke Chandresh dan dia menatap Chandresh dengan wajah merah padam menahan amarah.