
Wiku tiba-tiba datang dan langsung bersimpuh di depan kakinya Chandresh untuk memohon, "Tolong Papa, Chan! Papa semakin terbelit masalah keuangan. Untuk mencari tambahan modal, Papa nekat memakai sisa uang yang Papa punya untuk mengadu nasib di meja kasino, tapi Papa kalah. Semua punya Papa udah hilang dan Papa masih menanggung hutang dua ratus juta rupiah"
Chandresh menoleh ke Erick dan Erick menatap Chandresh dengan canggung.
Chandresh lalu menunduk untuk melihat papanya yang masih bersimpuh di depannya dan masih menunggu ukuran tangannya, "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya. Semua yang Papa alami itu karena Papa nggak pernah punya ketulusan, jadi rasakan semua konsekuensinya sekarang ini!" Teriak Chandresh ke Wiku.
Teriakannya Chandresh membuat Lintang tersentak kaget dan gadis cantik itu bergegas berlari ke depan. Lintang mematung melihat papa mertuanya bersimpuh di depan suaminya.
"Tolong, Chan! Bayar aja hutang Papa di kasino sebanyak dua ratus juta rupiah dan Papa nggak akan mengganggu kamu lagi"
Chandresh tersenyum kesal lalu berkata, "Papa pikir aku punya uang sebanyak itu? Memangnya Papa pernah membiayai kuliahku sampai-sampai Papa berpikir aku memiliki pekerjaan dengan gaji yang sangat tinggi?"
Wiku membisu dan mematung di depan Chandresh.
"Papa diam sekarang?" Chandresh langsung bangkit berdiri dan menjauh dari papanya dan tanpa sengaja ia menabrak Lintang. Chandresh langsung memeluk bahunya Lintang untuk meminta kekuatan.
Lintang melirik bahunya yang dipeluk oleh Chandresh, lalu ia melihat Wiku yang tengah berusaha untuk bangkit berdiri, tapi papa mertuanya itu kemudian jatuh pingsan.
Chandresh langsung menelepon mamanya saat Eric dan tukang kebunnya Lintang merebahkan Wiku di sofa ruang tamu.
Dokter Andi pun tiba-tiba melangkah masuk dan terkejut, "Kok ada Pak Wiku di sini?"
"Pak Wiku pingsan, Pa" Sahut Lintang.
"Kenapa bisa pingsan?" Tanya Dokter Andi ke Chandresh.
Eric langsung pamit dan Chandresh menganggukkan. kepalanya ke Eric.
Lintang langsung mengajak papanya ke kamarnya untuk menceritakan yang baru saja terjadi ke papanya, "Papanya Kak Chandresh pingsan karena usahanya bangkrut, Papa Wiku kehilangan segalanya dan masih memiliki hutang di meja judi Tolong Pak Wiku, Pa. Kasihan dia. Kasihan Kak Chandresh juga, Pa. Hidupnya tidak tenang karena Pak Wiku selalu mengganggunya. Pak Wiku udah datang ke sini dua kali ini"
"Berapa hutangnya?" Tanya dokter Andi ke putri cantiknya.
"Dua ratus juta rupiah, Pa"
Papanya Lintang langsung mengeluarkan buku cek dan menuliskan lima ratus juta rupiah lalu menyobeknya dan menyodorkannya ke Lintang, "Kasih ini ke Chandresh, eh, tunggu dulu!" Papanya Lintang menarik kembali cek yang ia sodorkan untuk berkata, "Bawa Chandresh ke sini!"
Lintang menganggukkan kepalanya dan setelah berlalu dari hadapannya papanya selama sepuluh menit, dia muncul kembali di pekan papanya bersama dengan Chandresh.
Dokter Andi memerintahkan Lintang untuk keluar dari kamar dan Lintang langsung menurutinya.
Dokter Andi memutar.kursi belajarnya Lintang dan memerintahkan Chandresh untuk duduk di tepi ranjang.lalu papa mertuanya Chandresh berkata, "Lintang sudah ceritakan semuanya dan Lintang meminta aku untuk menolong Pak Wiku agar Pak Wiku tidak bisa.melqnjutkan hidupnya tanpa mengganggu hidup kamu lagi. Lintang melakukannya karena, ia lebih ingin menolong kamu sebenarnya"
Chandresh tersentak kaget. Dia kemudian bergumam di dalam hatinya, Lintang, kan, masih marah sama aku? Tapi, kenapa dia memikirkan aku, memikirkan kepentinganku? seketika itu juga ada rasa kagum untuk Lintang di hatinya Chandresh.
Chandresh berdiam diri untuk mengutuk papanya, dasar Papa sial! Dia kembali membuatku melepas apa yang aku sukai. Dulu aku harus melepas Shinta dan sekarang aku harus melepas karirku sebagai guru.
"Bagaimana?" Tanya Dokter Andi Rajendra.
"Baik, Dok, eh, Pa. Lusa saya akan mulai bekerja di perusahaannya Papa" Sahut Chandresh.
"Bagus. Sekarang kasih cek ini ke Papa kamu dan Papa yakin, setelah ini, Papa kamu tidak akan mengganggu hidup kamu lagi" Dokter Andi Rajendra berucap sembari menyodorkan cek bertuliskan lima ratus juta rupiah.
Chandresh bangkit berdiri menerima cek tersebut lalu ia mencium punggung tangan papa mertuanya dan berucap, "Terima kasih, Pa"
Dokter Andi mengelus kepalanya Chandresh sambil berucap, "Kalau mau berterima kasih, berterima kasihlah sama Lintang. Aku tahu kalau kamu belum mencintai Lintang, tapi Papa minta sama kamu, kamu harus menghargai cinta tulus Putriku mulai dari sekarang"
Chandresh tersenyum dan berkata, "Saya akan belajar dan sungguh-sungguh belajar mencintai Lintang mulai dari sekrang, Pa"
Chandresh sampai di ruang tamu dan melihat papanya telah sadar dari pingsannya dan tenaga berdebat seru dengan mamanya Chandresh.
Chandresh langsung menyodorkan cek bertuliskan lima ratus juta rupiah ke papa kandungnya dan berkata tanpa menoleh ke Papanya, "Terima cek ini dan jangan pernah menemuiku lagi!"
Papanya Chandresh bangkit berdiri setelah menerima cek yang disodorkan oleh Chandresh dan menatap Chandresh, "Begini perlakukan kamu sama Papa.kandung kamu sendiri?"
Chandresh langsung pergi meninggalkan papanya dan masuk ke dalam kamarnya.
Mamanya Chandresh langsung mendelik ke mantan suaminya lalu berteriak, "Pergi kamu dan jangan pernah kembali lagi ke sini untuk mengganggu ketenangan anakku!"
Mamanya Chandresh langsung duduk lemas di atas sofa dan menangis sesenggukan di sana.
Dokter Andi Rajendra masih duduk di meja belajarnya Lintang untuk menunggu Lintang mengajaknya makan malam.
Chandresh duduk di meja kerjanya dan dikejutkan dengan bunyi dering ponselnya. Chandresh mengangkat panggilan nomer asing yang masuk ke ponselnya, "Halo, siapa ini?"
"Andi Javesh. Apakah Lintang ada? Aku bisa bicara dengannya, calon kakak sepupuku"
"Calon Kakak sepupu? Apa yang kau bicarakan?"
"Kamu,kan, kakak sepupunya Lintang, jadi kamu itu calon kakak sepupuku karena aku akan melamar Lintang Minggu depan. Untuk itulah aku ingin bicara dengan Lintang, tapi ponselnya tidak aktif saat ini makanya aku nelpon Anda, Pak Chan"
Chandresh langsung mematikan ponselnya karena kesal dan ia terkejut saat ia merasakan celana kain bagian bawahnya ditarik-tarik. Chandresh langsung memundurkan kursi berodanya untuk berjongkok dan melihat siapa yang menarik-narik bagian bawah celana kainnya.
"Lintang? Apa yang kau lakukan di bawah meja kerjanya Kakak?" Chandresh menautkan alisnya. dan Lintang langsung menarik kerah bajunya Chandresh dengan kedua tangannya untuk menempelkan bibirnya dengan bibirnya Chandresh. Chandresh membeliak kaget.