
"Pak ini bukan jalan ke gwangjin-gu". Menahan sakit membuat badanku cepat lelah. Di mobil Pak Chang aku tertidur hampir 1 jam dan terbangun di jalan menuju Provinsi Gangwon. Tidak mungkin. Apakah aku akan diantar ke rumah?
Rumah orang tuaku ada di Chuncheon, Provinsi Gangwon. Dari pusat kota masih harus melewati perjalanan sekitar 20 menit ke ke Desa Daryongsan. Disanalah Ayahku membuka perkebunan peach nya menjadi salah satu tempat wisata petik buah.
Tapi aku tidak pernah pulang selama dua tahun. Dan aku juga tidak pernah menghubungi ayahku. Bagaimana Pak Chang tahu tentang rumahku. Benar saja, sebentar lagi kami akan sampai di rumah.
Rumahku berada di tengah perkebunan peach yang seluas 3 ha. Mobil Pak Chang yang berada di tengah perkebunan merupakan pemandangan yang asing. Akhirnya rumahku terlihat. Aku menunjukkan jalan menuju depan rumah kepada Pak Chang.
Rumahku terdiri dari satu rumah utama dan beberapa rumah kecil yang disewakan kepada wisatawan. Ibu dan kakakku terlihat menunggu di depan rumah.
Pak Chang membantuku keluar dari mobil. Ibuku lari dan memelukku. "Sakit eomma, sakit" pelukannya terlalu erat dan membuat memar yang ada di tubuhku tertekan. Pak Chang dengan canggung memberi hormat kepada Ibu dan Kakakku.
Ibu membantuku masuk ke rumah sedangkan kakak terpaku melihat ketampanan Pak Chang. Rumah kami terlihat tradisional di luar tapi di dalam rumah, kami memiliki peralatan modern. "Ayah dimana?" aku bertanya pada ibu setelah berhasil duduk di kursi. Ibu melihat tiap luka di tubuhku dengan wajah sedih.
"Masih di kebun, dia marah sekali mendengar kau memilih pekerjaan pembantu untuk membiayai hidupmu di Seoul". Aku menjadi semakin takut menghadapi Ayah. Pak Chang akhirnya masuk ke rumah bersama Unnie dengan membawa beberapa barang di kedua tangannya.
Kapan dia membeli semua itu? "Jin Ae, dia benar-benar Chang Min Jung artis itu?" Aku tertawa dan mencubit lengan kakak. Pak Chang membungkuk memberi hormat pada Ibuku. "Maafkan Saya datang mendadak, Nyonya Lee." ucapnya sambil memberikan hadiah pada ibu.
Ibuku menerima dan meletakkannya di meja dapur. Pak Chang duduk tepat disampingku. Dia memeriksa kening dan pergelangan kakiku. Ibu dan kakakku merperhatikan kami dari dapur. "Silahkan diminum Pak Chang Min Jung" Kakak memberikan Pak Chang segelas jus jeruk.
Ibu memberikanku teh hangat dan duduk di depanku. "Apa yang sebenarnya terjadi Jin Ae?" tanyanya dengan nada khawatir. Sebelum aku menjawab, Pak Chang menjawab ibuku. Saat Pak Chang mulai bercerita, di sampingnya berdiri seorang pria dengan badan besar dan tinggi. Aku terkejut dan bersembunyi di belakang punggung ibu.
Pak Chang juga terkejut dan hampir melompat ke samping. Ayah melihatku dan segera mendatangiku. Dia memeriksa setiap lukaku dan memukul pahaku."Ouch, sakit Ayah" aku merengek.
Pak Chang terlihat tegang dan membetulkan posisi duduknya. Ayahku memiliki tinggi hampir sama dengan Pak Chang, 184 cm. Badannya agak gendut dan botak membuat tampilannya sedikit mirip preman. Pakaian Ayah juga tidak pernah bersih karena setiap hari pergi ke kebun.
Akhirnya Ayah duduk bertiga dengan ibu dan kakakku. Pak Chang mulai membuka mulutp. "Maafkan Saya Pak, Nyonya dan Kakak Jin Ae" suara Pak Chang sedikit bergetar. Dia menceritakan semua kejadian dari pagi sampai hasil pemeriksaan dokter.
Kakakku menyenggol tangan Ayah, menyadarkan mereka bahwa ada tamu yang datang. Pak Chang terdiam dan terkadang melihatku untuk mencari dukungan. Mereka merasa canggung untuk memulai percakapan. "Ayo kita makan siang dulu" ajak ibu.
Aku memang lapar sekali karena dari pagi belum makan. Setelah ganti baju, kami berlima makan bersama. Keponakan cantikku baru saja bangun ketika kami selesai makan. Aku menggendongnya dan mencium pipinya.
"Jin Ae, sebaiknya kau ajak Pak Chang Min Jung jalan-jalan di sekitar rumah." kata kakak. Aku memberikan Ha Na padanya dan mengajak Pak Chang keluar. Aku berjalan perlahan mengitari kolam ikan dengan Pak Chang.
"Bagaimana Bapak tahu Saya tinggal disini?" tanyaku ingin tahu. "Hwan Li yang memberitahuku. Katanya dia pernah bertemu kakakmu di Chuncheon." Aku mengangguk mengingat hal itu.
"Sebaiknya kita duduk, kakimu masih sakit." Memang, sakit sekali. Ada kursi di dekat kebun, kami berdua duduk disana. "Bapak tidak kembali ke Busan?". Pak Chang melihat mataku.
Pak Chang menceritakan pengalaman para pekerjanya kepadaku. Bisa dibilang, aku adalah yang paling beruntung. Kelakuan Fans Pak Chang kadang bisa menjadi tindakan kriminal yang membahayakan nyawa.
"Aku akan membayarkan gaji tepat selama satu tahun. Dan tidak perlu ada penalti dalam hal ini." Aku masih tidak percaya Pak Chang mengatakan semua ini dengan santai.
Lalu bagaimana dengan semua perhatian dan kata-kata menggoda yang keluar dari mulutnya. Aku tidak percaya ini, semuanya pasti salah. Aku melihat matanya. Tidak ada tanda keraguan didalamnya.
Aku terdiam dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Berarti benar bahwa selama satu bulan ini, kami hanya menjadi karyawan dan atasan. Karyawan yang mudah diperlakukan seenaknya. Aku memegang kepalaku dan mulai merasa pusing.
"Ada apa?" . Aku tertawa. Pak Chang heran melihatku tertawa. "Wah, saya beruntung sekali mengalami hal ini. Saya tidak perlu bekerja selama satu tahun tapi mendapat gaji penuh tanpa potongan dan penalti."
Aku berdiri dan mulai berjalan ke arah rumah. Aku melihat mobil Pak Park memasuki pekarangan rumah kami. Pak Chang mengikutiku dari belakang. "Jin Ae, jadi ini rumahmu" Pak Park keluar dari mobil dan dibelakangnya ada beberapa media yang meliput.
Pak Park dan Pak Chang menghadap Ayah dan Ibuku. Mereka meminta maaf secara resmi, ada media yang mengambil foto setiap prosesnya. Aku tidak bisa merasakan apapun saat ini. Ayah menerima surat kontrak kerja lalu membacanya.
"Yang membuatnya adalah Jin Ae. Dan anakku seperti yang kalian tahu sudah dewasa. Jadi biar dia yang memutuskan."
Aku duduk bersama Ayah dan ibuku, Kakak dan Ha Na hanya melihat dari kejauhan.
Santunan diberikan Pak Park padaku dan diambil gambarnya. Begitu juga saat pembatalan kontrak. Semua didokumentasikan oleh media. "Kami harap dengan ini, nona Jin Ae tidak akan menuntut dan menghubungkan segala kejadian dengan Chang Min Jung." Pak Park menyodorkan surat perjanjian di depanku.
Aku tidak melihat ke arah Pak Chang. Setelah membaca surat perjanjian yang ada didepanku, aku menandatanganinya tanpa ragu.
Hanya satu bulan aku mengenalnya. Hanya satu bulan aku bisa melihat wajah dan gerak geriknya. Dia membuatku senang dan berharap. Tapi sekarang dia menjatuhkanku dari ketinggian dan berharap tidak berurusan denganku lagi.
"Saya rasa ini tidak adil bagi pihak Pak Park. Memang benar saya terluka saat bekerja dan Saya telah menerima santunan. Pak Chang tidak bersalah dalam kejadian ini jadi Anda tidak perlu membayar gaji saya sampai akhir tahun."
Aku melanjutkan "Terima kasih atas perhatian Anda selama ini. tapi saya hanya bisa menerima gaji Saya selama tiga bulan saja." Aku berdiri dan perlahan berjalan ke kamar.
Ayahku membenarkan perkataanku. Aku hanya akan menerima gaji sebanyak bulan dimana aku benar-benar bekerja saja. Dengan begini Aku tidak akan merasa bersalah pada Pak Park atau Pak Chang.
Pak Park menyambut baik keputusanku. Biaya dokter sudah termasuk dalam uang santunan. Dengan ini berakhirlah masa kerjaku. Dengan begini aku tidak akan pernah bertemu Pak Chang lagi.
Tiba-tiba aku merasa lelah dan mulai tertidur di kamarku.