Missing You

Missing You
Rumah



Lintang membuka mata dan menemukan Chandresh yang ketiduran dengan kepala di tepi ranjang dan duduk di lantai. Tangan Chandresh yang masih memegang handuk, masih berada di atas keningnya Lintang.


Lintang tersenyum bahagia. Hatinya merasa hangat saat ia mengetahui bahwa dia begitu dicintai oleh suaminya gantengnya.


Lintang meraih tangan Chandresh dari atas keningnya lalu ia cium telapak tangan Chandresh sembari mengusap kepalanya Chandresh.


Chandresh membuka kedua kelopak matanya dan langsung menegakkan kepalanya saat ia melihat senyuman indah di wajah cantik istri kecilnya yang sangat ia cintai.


"Mas, makasih udah menjagaku semalaman sampai ketiduran dengan posisi nggak nyaman seperti ini"


Chandresh merangkak naik ke atas ranjang dan langsung memeluk Lintang, "Syukurlah kamu nggak demam lagi. Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Chandresh sambil menciumi keningnya Lintang.


"Cinta" Sahut Lintang.


Chandresh terkekeh geli dan berucap, "Selain cinta?"


"Rindu" Sahut Lintang.


Chandresh langsung mencium bibirnya Lintang dan berkata di sana, "Mas juga cinta dan rindu banget sama kamu, Sayang. Apa Mas boleh minta jatah buat bekal Mas selama lima hari di Bali, nanti?"


Lintang langsung merangkak naik ke atas tubuh suaminya dan berkata, "Karena Mas udah baik banget menjaga Lintang semalaman sampai Lintang sembuh, maka Lintang akan berterima kasih dengan benar" Lintang kemudian bergerak di atas tubuhnya Chandresh sampai Chandresh terus melenguh dan berkata, "Iya Sayang. Benar begitu. Kau hebat, Sayang! Jangan berhenti, teruskan!" Hingga akhirnya keduanya meneriakkan kepuasan mereka secara bersamaan di udara bebas.


Chandresh kemudian pamit ke Lintang untuk berangkat ke bandara setelah mereka menyelesaikan sarapan penuh cinta mereka. Lintang terpaksa berpisah dengan suaminya di depan teras rumah mereka karena ia tidak bisa mengantarkan Chandresh ke bandara. Lintang ada praktikum pagi.


Sesampainya di resort mewah milik konglomerat ternama, Chandresh langsung dihadang Erick.


Chandresh yang masih menyangklong tas ranselnya, langsung bertanya, "Ada apa? Kenapa wajah kamu jelek banget kayak gitu?"


"Wajahku emang nggak seganteng kamu, tapi aku nggak jelek. Sial!" Erick melotot ke Chandresh dan Chandresh langsung tergelak geli kemudian bertanya, "Ada apa?"


"Wajahku yang kau katakan jelek tadi, bukan untuk berita jelek, tapi untuk berita bagus" Sahut Erick.


"Bawa berita bagus kok wajah kamu, kamu pasang jelek? Dasar aneh. Ada apa? Cepat katakan!" Sahut Chandresh sembari terus berjalan masuk ke dalam resort.


Erick mengekor langkahnya Chandresh dengan berlari kecil sambil berucap, "Tuan Rama Adhitya memberikan bonus ke kita karena kamu udah berhasil membuat putrinya terpikat dengan karya kamu. Thank you, Brother! Kau membuatku ikut merasakan bonusnya"


"Bonus apa?" Chandresh bertanya tanpa menoleh ke Erick karena ia ingin segera menaruh tas ranselnya ke dalam kamarnya dan ia ingin segera bekerja di lapangan.


"Tuan Rama Adhitya memberikan uang ke kita, masing-masing lima ratus juta rupiah, Bro! Itu bisa untuk membeli rumah" Pekik Erick dengan wajah bahagia.


Chandresh menghentikan langkahnya di depan pintu kamarnya dan dia bertanya, "Itu bonus untuk kerja keras kita atau untuk yang lain?"


"Untuk kerja keras kita" Sahut Erick. "Beliau berterima kasih karena, karya kamu sudah membuat putrinya terpikat dan membuat putrinya bersedia ikut terlibat di dalam proyek ini" Imbuh Erick.


"Baguslah! Aku akhirnya bisa membeli rumah untuk Lintang dari uang hasil jerih payahnya sendiri. Aku tidak akan tinggal di rumah pemberian papa mertuaku lagi" Sahut Chandresh sembari membuka pintu kamarnya.


Chandresh meletakkan tas ranselnya di atas meja yang ada di samping pintu, lalu menutup Kembali pintu kamarnya dan menoleh ke Erick, "Karena kita udah dapat bonus di muka, maka kita harus segera ke lapangan untuk bekerja dengan sangat baik"


Setelah bekerja seharian penuh, di sore hari, Chandresh dihadang oleh Soraya Adhitya, "Kau ada acara malam nanti?"


Chandresh menggelengkan kepalanya dan tersenyum sopan ke Soraya.


"Maukah kamu pergi makan malam denganku?" Soraya Adhitya menatap Chandresh dengan penuh harap.


Di saat ia melihat Chandresh terlihat hendak menolak ajakannya, Soraya langsung berucap, "Emm, itu karena, Aku tidak suka berhutang budi. Kamu udah menyelamatkan aku dan sudah membiarkan aku membayar duluan di kasir, maka aku ingin membalas budi dengan mentraktir kamu makan malam"


Chandresh tersenyum sopan ke Soraya dan berkata, "Maaf, tapi kamu udah membalas budi dengan baik. Di rapat tadi, kamu yang memilih desain dan furniture hasil karyaku. Itu sudah merupakan balas budi bagiku"


Soraya tersenyum seksi dan kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan anggun sembari berkata, "Itu bukan balas budi. Itu kerja keras kamu. Presentasi kamu bagus, hasil karya kamu bagus. Papa juga mengakuinya. Jadi, bukan karena aku kamu bisa terpilih mengerjakan proyek besar di resort ini"


Chandresh kehilangan kata-kata untuk menolak ajakannya Soraya, lalu ia akhirnya berkata, "Oke. Tapi, aku akan ajak temanku"


Soraya agak kecewa mendengar ucapannya Chandresh, namun akhirnya dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Tepat jam delapan malam, Chandresh dan Erick duduk di depannya Soraya Adhitya. Wanita seumuran Chandresh yang tampak matang, cerdas, seksi dan sangat cantik itu, beberapa kali membuat Erick kesulitan menelan ludahnya sendiri.


Erick kemudian berbisik ke telinganya Chandresh, saat Soraya berbicara ke pegawainya, "Dia sangat sempurna sebagai seorang wanita. Sayangnya dia tidak tertarik padaku" Erick lalu menarik wajahnya dari telinganya Chandresh untuk menatap Soraya lebih lama.


Chandresh menoleh ke Erick dan berbisik, "Apa kau sudah mencoba mendekatinya?"


"Sudah dan dia bilang kalau dia sudah ada pria yang dia sukai" Bisik Erick.


"Ooooooo" Chandresh hanya bisa ber-o tanpa ingin tahu siapa pria yang disukai oleh Soraya Adhitya.


"Kau tidak penasaran dengan pria yang ia sukai?" Bisik Erick saat ia melihat Soraya masih berbicara dengan pegawainya untuk. memesan beberapa makanan dan minuman.


Chandresh menoleh ke Erick untuk tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.


Dan makan malam mereka diakhiri dengan mabuknya Soraya Adhitya. Soraya sengaja berpura-pura mabuk agar Chandresh mengantarkannya ke kamarnya di saat Erick terpaksa pergi meninggalkan mereka karena, sakit perut. Namun, Soraya harus gigit jari di saat Chandresh justru memanggil pegawainya untuk mengantarkannya ke kamarnya


Chandresh kemudian bergegas berlari menuju ke kamarnya saat ia melihat Soraya sudah dipapah dua orang karyawati resortnya Rama Adhitya. Chandresh ingin segera masuk ke kamar dan mengobrol dengan istri kecilnya yang semakin hari semakin terlihat cantik itu lewat Video Call.


Dan di saat latar ponselnya menampakkan wajah ayu istrinya, Chandresh langsung berucap, "Sayang, pas Mas pulang nanti, kita beli rumah, ya? Mas dapat banyak uang dari proyek ini"


Lintang tersenyum bahagia dan berucap, "Syukurlah Mas. Aku ikut senang mendengarnya"


"Kamu mau pindah dari rumah Papa kamu kalau aku bisa beli rumah untuk kamu, kan?" Tanya Chandresh.


"Mau, Mas" Sahut Lintang.


Dan Chandresh langsung mencium layar ponselnya sembari berucap, "Aku sangat mencintaimu, Sayang"